Home Serba Serbi 30 Orang di Sekitar TNBT Ikut Pelatihan Budidaya Lebah Madu

30 Orang di Sekitar TNBT Ikut Pelatihan Budidaya Lebah Madu

Sebagai Kerja Sama PT LAJ dan Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

162
0
SHARE
30 Orang di Sekitar TNBT Ikut Pelatihan Budidaya Lebah Madu

Keterangan Gambar : diambil dari tribunnews.com

PT Lestari Asri Jaya (LAJ), anak usaha PT Royal Lestari Utama (RLU), bersama Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) menggelar pelatihan budidaya lebah madu. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari, 11-12 Februari 2020 tersebut diikuti 30 peserta. Mereka  berasal dari warga di dalam dan sekitar kawasan Wilayah CintaAlam/ Wildlife Conservation Area (WCA). Yakni, area lintasan gajah yang diperuntukkan bagi perlindungan jangka panjang gajah Sumatera yang terancam punah.

Selain ke-30 orang warga WCA, pelatihan ini juga diikuti karyawan PT LAJ dan perwakilan Balai Taman Nasional Bukit TigaPuluh.

Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) Fifin Arfiana Jogasara mengatakan, pelatihan ini sebagai wujud kerja sama TNBT dengan anak usaha RLU, yaitu PT LAJ. Selama ini, TNBT bersama PT LAJ bekerja sama dalam perlindungan kawasan penyangga, pengawetan flora dan fauna, restorasi ekosistem, hingga pemberdayaan masyarakat.

“Kegiatan ini penting dalam rangka upaya perlindungan kawasan ekosistem, serta flora dan fauna. Pemberdayaan masyarakat dalam wujud pelatihan budidaya lebah madu diharapkan berdampak pada kesejahteraan warga dan memberikan dampak positif pada upaya perlindungan kawasan, flora dan fauna,” kata Fifin Arfiana di sela acara.

Direktur PT RLU Meizani Irmadhiany mengatakan, pelatihan ini sebagai wujud komitmen PT LAJ memberdayakan masyarakat sekitar hutan.

“Melalui pelatihan ini diharapkan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan melalui sumber penghidupan berbasis non-lahan,” tegas Direktur PT RLU, Meizani Irmadhiany.

Sedangkan KPHP Unit IX Tebo Barat Taupiq Bukhari menegaskan pihaknya mendukung upaya pemberdayaan budidaya lebah madu yang merupakan salah satu potensi ekonomi lokal.

“Pelatihan budidaya madu hutan yang dilakukan LAJ bisa menjadi langkah awal positif bagi pengembangan potensi Kabupaten Tebo menjadi salah satu daerah produsen madu di Provinsi Jambi,” tutur Taupiq Bukhari mewakili pemerintah.

Pelatihan budidaya lebah tersebut juga ditujukan untuk meminimalkan kerusakan lahan pertanian warga serta konflik lainnya antara gajah dengan manusia. Berdasarkan penelitian, gajah takut dengan koloni lebah.

Wakil Sekretaris Jendral Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) Didik B. Purwanto mengungkapkan, budidaya lebah sebagai pagar alami untuk gajah ini adalah inovasi yang akan terus dikembangkan di Indonesia.

“Budidaya lebah madu juga akan membuat masyarakat melakukan penghijauan sekaligus menyediakan pakan bagi lebah madu. Penanaman pakan atau tumbuhan bagi lebah madu juga dimaksudkan sebagai uji coba batas alam areal Gajah Sumatera,” ungkap Didik yang menjadi pengajar dalam kegiatan ini.

Melalui pelatihan tersebut, warga diharapkan mampu membudidayakan lebah madu dari jenis Apiscerana yang memiliki sengat dan dikenal sebagai lebah yang relatif mudah untuk dibudidayakan. Selain produktif menghasilkan madu, lebah ini juga dapat dipanen produk lainnya, antara lain lilin yang banyak dibutuhkan oleh perajin batik.

Warga juga dilatih membudidayakan Lebah Kelulut (meliponinae). Lebah Kelulut adalah jenis lebah yang memiliki ukuran relatif lebih kecil dari lebah pada umumnya dan tidak memiliki sengat (stingless bees). Madu Kelulut saat ini digemari karena kemudahan pemeliharaan, harga jual madu yang atraktif, menghasilkan propolis yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia sehingga berpotensi meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan warga serta kesehatan lingkungan hidup.

Tidak hanya budidaya lebah madu, untuk meningkatkan kesejahteraan warga RLU juga melakukan transfer teknologi budidaya pertanian. Salah satunya pemberdayaan masyarakat Desa Kuamang. Pascapembinaan oleh perusahaan, warga desa kesejahteraannya lebih meningkat berkat budidaya tanaman pangan dan sayuran.

Terkait pelestarian lingkungan dan satwa, RLU juga mendedikasikan untuk kawasan konservasi termasuk mendirikan WCA. Perseroan memiliki tim konservasi khusus termasuk Ranger yang bertugas melakukan perlindungan kawasan, monitoring flora dan fauna, penanaman pada area yang rusak dan edukasi kepada masyarakat. (***)