Home Idea Antara Mudik, Pulang Kampung, dan Pemaksaan Makna Kata

Antara Mudik, Pulang Kampung, dan Pemaksaan Makna Kata

115
0
SHARE
Antara Mudik, Pulang Kampung, dan Pemaksaan Makna Kata

Keterangan Gambar : mudik lebaran - milik ayobandung.com

Usai wawancara eksklusif antara Presiden Indonesia Jokowi dengan Najwa Shibab, kehebohan muncul lagi di masyarakat Indonesia. Pro-kontra di masyarakat menyebar luas. Pemicunya, adalah penerjemahan arti mudik dan pulang kampung yang berbeda, versi Jokowi. Sebagian masyarakat mengkritisinya, menyayangkan, hingga ada yang mencemoohnya. Di barisan lain, tentu membenarkan, dengan segala argumen dan alasan-alasan yang diupayakan masuk akal.

            Begitulah, residu pilpres yang menghasilkan dua kubu di masyarakat belum juga hilang. Ibarat mendapat siraman bensin,  konflik dua kelompok kembali berkobar. Entah di dunia maya maupun di dunia nyata. Konflik yang sempat layu karena adanya virus Corona (Covid-19), kembali membara berkat statemen presiden tersebut. Ya, hitung-hitung pada bulan puasa ini ada bahan untuk nggegas dengan kepentingan kelompoknya sembari mencibir kelompok lain. Ini dipastikan akan berlangsung lama, bisa jadi sampai Lebaran tiba.

            Bulan suci kembali terkotori. Ramadhan yang mulia,  tidak menjadi pilihan utama. Masyarakat cenderung menista diri dengan dikotomi persoalan mudik dengan pulang kampung. Benar kata teman, mengapa kita terlalu pusing dengan persoalan arti mudik dengan pulang kampung, toh tinggal mengecek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tidak lebih dari dua menit, sudah bisa mengerti artinya. Soal ada yang memilih berbeda, ya biarkan saja. Dan tulisan ini juga tidak mau mempermasalahkan hal itu kok.

            Mengapa pula kita terjebak pada arti dari diksi mudik dan pulang kampung. Mau mudik atau pulang  kampung, keduanya membawa resiko yang sama. Apalagi bila datang dari tempat endemi alias red zone semacam Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Di tempat ini, korban begitu banyak jumlahnya. Bahkan, dari hari ke hari, angkanya terus bertambah. Dengan melakukan perjalanan jauh, entah mudik atau pulang kampung, kemungkinan menyebarkan virus Corona bukannya semakin kecil, justru menambah kemungkinan bertambah. Apa Anda mau keluarga di udik, di kampung menjadi korban kesekian, hanya disebabkan kecerobohan Anda mudik, eh pulang kampung. Anda yang berasal dari daerah endemik, walau tidak sakit, dimungkinkan membawa virus yang membahayakan tersebut. Ancaman itu yang sebenarnya patut diwaspadai, bukan?

            Hal serupa sebenarnya juga pada istilah yang laris, beberapa waktu lalu hingga kini. Yakni, istilah lockdown. Sempat membuncah karena ada harapan pemerintah segera melakukannya. Namun, pemerintah memiliki pertimbangan tersendiri, lahirlah istilah pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pemerintah sendiri sudah memiliki undang-undang karantina yang bisa diterapkan. Namun, pilihan terakhir adalah PSBB yang sudah diterapkan di Jakarta, sebagian wilayah Jawa Barat dan Banten, dan terus meluas di beberapa daerah lain di Indonesia, baik Jawa maupun luar Jawa.

            Persoalan istilah tersebut juga sempat disinggung. Seperti biasa, pro-kontra tetap ada. Pertikaian lebih pada istilah dan penerapan, bukan esensi dari kepentingan bersama, yaitu mencegah penyebaran virus. Adu argumen tetap saja mengikutinya. Ada pula yang mentertentangkan antara aturan main yang dikeluarkan menteri kesehatan dan menteri perhubungan (ad interim). Padahal, aturan dibuat bukan dipertentangkan, namun segera diaplikasikan. Seandainya dua peraturan menteri itu berbeda, ya tinggal memilih mana yang diikuti, seperti biasa kata Gus Dur, begitu saja kok repot.

            Di tengah kelompok pro dan kontra tersebut, pertentangan soal aturan main dari menteri kesehatan dan menteri perhubungan sebenarnya otomatis berhenti. Kenapa bisa ? ketika aplikator ojol melakukan shut down sementara untuk layanan ojek online (ojol) sepeda motor. Lucu sekali.

 

Bukan Hanya Saat Ini Saja

 

Pemaknaan arti sebuah kata sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Jadi, fenomena beda arti antara mudik dan pulang kampung janganlah berlebih. Memang, ada kesan pemaksaan makna di sini. Sebelumnya, kata radikalisme-dari kata radikal, bila melihat pada KBBI artinya, pertama, secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip), misal dalam kalimat perubahan yang radikal (mendasar; kedua, dalam politik, amat keras menuntu perubahan (undang-undang, pemerinahan): ketiga, Maju dalam berpikir atau bertindak. Nyatanya, kata radikal jarang disematkan pada orang atau kelompok yang masuk kriteria ketiga arti tersebut. Arti radikal dikecilkan pada sekelompok orang yang dilihat dari sisi menjalankan agamnya. Penyematan arti yang berbeda itu juga dilakukan oleh pemerintah yang berkuasa.

            Meski begitu, ingat janganlah lalu mendiskreditkan pemerintah sekarang soal pemaksaan makna. Bagaimanapun persoalan pemaksanaan makna itu hampir terjadi di semua rezim.  Era Soeharto, yang terkenal dengan sebutan orde baru (orba)-nya, terkenal juga dikenal dengan hal tersebut. Tidak hanya arti  kata yang diotak-atik sesuai keinginan pemerintah saja, bahkan orangpun bisa ‘diotak-atik’ sesuai keinginan penguasa. Otak atik tersebut justru lebih ngeri dari sekarang. Seseorang yang ‘dicap’ berbahaya dan melawan pemerintah, siap siaplah untuk lenyap. Nama Wiji Thukul dan Udin Bernas, itu contoh nama yang sering kita dengar.

            Bicara penghilangan makna kata dalam bahasa Indonesia, tidak hanya dilakukan pada pemerintah saja. Justru apa yang dikatakan bangsawan Inggris Lord Action, Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely. Kekuasan cenderung korupsi. Kekuasan absolut bener-bener korupsi. Dalam arti luas dan kekinian, korupsi itu tidak sekedar uang, namun kekuasaan yang didapatkan juga bisa menentukan makna dari sebuah kata, sesuai keinginannya.

            Tidak hanya menyangkut pemerintahan yang berkuasa, namun sekelompok orang atau di suatu tempat seringkali menerapkan hal itu. bagi mahasiswa tahun 90-an, di kampus kita mendengar kata mangkus dan sangkil. Arti dari pemaknaan kata efektif dan efisien. Nyatanya, kata itu kalah gaung dengan efektif dan efisien.

            Era internet lebih banyak lagi. Kata serapan dan modifikasi kata yang berasal dari luar juga dilakukan. Kita banyak mengganti kata, browser (peramban), keyboard (papan ketik), social media (media sosial), mouse (tetikus), upload (unggah), download (unduh), online (daring-dalam jaringan), offline (luring-luar jaringan), gadget (gawai), selfie (swafoto), software (peranti lunak),  twitter (harusnya cicit, lebih dikenal cuit), compact disc (cakram padat), disket (diska), byte (bita), email (pos-el), charger (pengecas), smartphone (ponsel pintar), flash disk (diska lepas), website (situs web), server (peladen), update (pembaruan), home (beranda), barcode (kode batang), broadband (jalur lebar),chat (obrolan), link (tautan), hot spot (kawasan bersinyal),

UPS/Uninterrupted power supply (penyedia daya bebas gangguan/PDBG), game online (gim daring), seach engine (mesin pencari), hacker (peretas), netizen (warganet), timeline (lini masa), dan lainnya. Untuk kata-kata seperti game (gim), chip (cip), laptop (laptop), cyber (siber), blog (blog) sebagai kata yang diadopsi dari bahasa asing, mudah diketahui artinya karena tidak jauh dari kata aslinya.

            Dari semua itu, apa yang terjadi? Ada yang berhasil, ada pula yang gagal. Kata yang diubah tersebut jarang dipakai. Bahkan, saat diterapkan justru orang yang diacak bicara (kalau dalam media massa, pembaca) justru bingung dan mereka-reka makna sebenarnya. Contohnya, tetikus, begitu ada kalimat itu, kita mengenyitkan dahi. Apa yang artinya? Sejenak berhenti dan berpikir. beda kalau dikatakan (ditulis) mouse dalam istilah komputer, kita tidak perlu berhenti dan mengenyitkan dahi, bukan?

            Kata-kata yang sudah dimasukkan dalam KBBI ini juga banyak. Semisal, pramuwisi untuk menggantikan kata babysitter, pratayang (preview),pranala (hyperlingk/link), komedi tunggal (stand up comedy), saltik (salah ketik), portofon (handy talkie/HT), narahubung (contact person), pelantang (microphone), dan derau, untuk kata noise yang sering muncul untuk sura yang tidak diperlukan dalam satu rekaman suara atau video. Kata lain yang perlu kita perhatikan adalah pemakaian cache memory (memori tembolok), bar code (kode batang), blogger (narablog), power bank (bang daya), barrier free accessibility (aksesibilitas bebas batas).

            Menariknya, Sihabuddin, seorang penulis buku Komunikasi di Balik Busana mencatat bahwa kejadian pandemi Corona ternyata ikut andil dalam penghilangan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi verbal dan menjadi identitas bangsa. Masyarakat luas, terutama dipelopori para pejabat, banyak menggunakan kata-kata asing dibanding bahasa Indonesia. Ia mencontohkan, kata prepare untuk menyatakan sedang mempersiapkan sesuatu atau bersiap-siap saat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Kenapa tidak dipakai saja kata ‘mempersiapkan’ atau ‘siap-siap,’ yang terasa enak ditelinga rakyat Indonesia. Hal sama berlaku untuk kata on the way. Kenapa kata itu dipilih dan bukan ‘sedang di perjalanan’.  Kata lain yang sering kita dengar di media televisi, semacam planning (perencanaan), share (dibagikan), trip (jalan-jalan), work from home/WFH (kerja dari rumah), lockdown (mengunci, menutup), social distancing (menjaga jarak sosial), physical distancing (menjaga jarak secara fisik), hand sanitizer, bukan memilih kata pencuci tangan atau sanitasi tangan, dan masih banyak lagi.

            Dalam kelompok kecil, di komunitas kita, seseorang yang juga akan menerapkan makna kata sesuai keinginannya. Apakah ada yang pernah menemukannya. Apa Anda merasakannya? jawabannya ada pada diri masing-masing

 

Simton Groupthink

 

Pada tahun 1972, Irving Janis, seorang psikolog dari Universitas Yale Amerika memperkenalkan konsep groupthink untuk menjelaskan sejumlah kegagalan proses pembuatan keputusan sepanjang sejarah. Kegagalan tersebut, antara lain kurangnya persiapan Amerika Serikat pada saat Jepang meledakkan Pearl Harbour pada masa Perang Dunia II, keputusan Perang Vietnam tahun 1960, skandal Watergate tahun 1974, hinga bencana meledaknya Satelit Challenger tahun 1986. Inti dari groupthink ini adalah adanya sejumlah orang yang tidak mau mendengarkan informasi kritis yang menentukan. Dalam konteks pemerintahan, pihak berwenang tidak mau responsif terhdap masukan dari masyarakat luas.

            Kehadiran simton groupthink mencakup beberapa hal, antara lain overestimasi kekuasaan dan moralitas sebuah kelompok, tertutup dan tidak ingin mendengar pendapat semua pihak yang terlibat, dan tekanan menjadi seragam (Post& Panis, 2011). Irving Janis menandai gejala groupthink, seperti ilusi kekebalan, rasionaliasi kolektif, kepercayaan dalam moralitas in-group, stereotip negative dari out-group, tekanan langsung pada pembangkang, swasensor, ilusi suara bulat, dan mindguards (beberapa orang melindungi orang lain).

            Harapan dari semua yang telah dipaparkan di atas, pemerintah tidak mengidap simton groupthink. Karena itu sangat berbahaya. Dalam hal sepele, seperti pemaknaan kata juga tidak boleh ada paksaan. Demikian juga dengan pemakaian kata asing dalam komunikasi politik juga tidak sehat. Selain menandakan adanya overconfidence dari pemerintah, juga menimbulkan prasangka dari masyarakat. Di mata rakyat Indonesia, pemerintah sebenarnya tidak percaya diri dengan pemakaian bahasa Indonesia yang merupakan pemersatu bangsa dan identitas bangsa. Sekian.

--------------------------------------------------------------------------------

Heru Setiyaka

Bekerja pada Perusahaan Konsultan dan Mahasiswa Program Magister Psikologi Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta

 

Dimuat di www.ayosemarang.com

http://ayosemarang.com/read/20200503/7/56362/antara-mudik-pulang-kampung-dan-pemaksaan-makna-kata