Home BukuKita Bersabar Menunggu Anak yang Dirindukan

Bersabar Menunggu Anak yang Dirindukan

57
0
SHARE
Bersabar Menunggu Anak yang Dirindukan

Keterangan Gambar : Cover Buku Mimpi yang Sempurna

Judul               : Mimpi yang Sempurna (Pengalaman Pasangan Menunggu Anak-Anak IVF)

Penulis             : Maksum, Fuad Ariyanto, dan Sidiq Prasetyo

Pengantar        : Dahlan Iskan

Penerbit           : Penerbit Inti Media Utama Surabaya

Tahun              : Cetakan Pertama, Desember 2019

Xii + 328 halaman

ISBN               : 978-602-52168-4-8

Peresensi         : Heru Setiyaka

Saat seorang pribadi sudah menamatkan kuliah dan bekerja, pertanyaan dari orang tuanya yang rutin datang adalah, kapan nikah? Apalagi saat Lebaran datang, pertanyaan serupa seperti sebuah petir menyambar. Annoying, begitu mengganggu. Begitu sudah menjalani pernikahan, pertanyaan selanjutnya adalah kapan memiliki bayi?

     Tahun pernikahan pertama, kedua, ketiga, mungkin tidak begitu menggangu. Namun, begitu pernikahan beranjak pada tahun keempat, kelima, dan seterusnya, pertanyaan itu sangat menyakitkan. Seakan-akan, pasangan suami istri tersebut tidak mampu menghasilkan keturunan. Bagi perempuan, lebih cilaka lagi. Seakan-akan dialah biang ketidakberesan dalam menghasilkan keturunan. Tuduhan kurang subur, mandul terarah padanya. Padahal, kemandulan itu bisa jadi dari pihak lelaki. Namun, budaya patriaki di masyarakat nusantara menempatkan perempuan sebagai korban, sebagai pihak yang berperan atas ketidakbecusan mendapatkan anak.

     Pertanyaan kapan hamil, baik dari keluarga dekat, saudara, relasi, teman, atau siapapun sangat mengganggu. Bahkan, pertanyaan yang sebenarnya tidak tepat, karena berkaitan dengan ranah privat tersebut, bisa menyebabkan dua reaksi positif dan negatif, bagi yang ditanyai. Reaksi positif ditandai dengan sikap tak ambil pusing, cuek. Sebaliknya, reaksi negatif biasanya ditandai dengan emosi marah dan kesal. Ingat bukan, kejadian di Garut, pada Februari 2018, kasus pembunuhan pada tetangga, sebagai reaksi ekstrim atas pertanyaan yang sangat menyinggung, kapan menikah?

     Pertanyaan kapan memiliki momongan bisa berpengaruh kecil. Seperti marah dan kesal. Harap hati-hati, bagi orang yang tidak siap dengan pertanyaan tersebut, bisa jadi menjadi gangguan yang cukup besar. Ia merasa gagal menjalani hidup karena tidak bisa mencapai apa yang sebagaian orang inginkan. Di bab awal buku “Mimpi yang Sempurna” tersebut, bahkan ada peserta program bayi tabung bercerita dirinya mendapat ledekan seperti ini, “orang yang diperkosa aja bisa hamil, kenapa kamu suami-istri tak bisa hamil.” Sebuah ledekan yang tak patut diungkapkan.

     Jangan ditanya pun, perempuan yang tak kunjung hamil padahal merasa cukup lama menikah, sebenarnya sudah merasakan sendiri. Tambahan pertanyaan itu justru mendorong dirinya menjadi stres. Padahal, stres yang berkepanjangan dan tidak diatasi, akan berakibat pada gangguan psikis dan fisik. Gangguan itu justru berpengaruh pada fertilitas seorang ibu.

     Stres yang timbul mengubah pola hormon. Padahal, orang hamil membutuhkan hormon konstan dan stabil untuk menjaga kehamilannya. Terutama bagi seseorang yang tengah hamil beberapa bulan. Kondisi pikiran bisa mengganggu hormon. Dan hormon bisa menggangu internal diri terhadap rahim. Kandungan relatif aman pada usia kandungan tiga bulan, karena janin sudah tidak bergantung pada pikiran dan digantikan plasenta. (Hal. 308).

     Ada pasangan suami-istri yang memilih untuk tidak memiliki keturunan. Alasannya beragam. Tentu saja, ini merupakan keputusan mereka dan patut dihargai. Seorang memilih tidak menikahpun, merupakan pilihan personal yang tidak boleh semua orang mencampuri, minimal menanyakan kenapa memilih itu.

     Demikian pula dengan memiliki anak. Keputusan memiliki keturunan adalah hak dari masing-masing pasangan suami-istri. Tak boleh orang lain mencampuri atau ikut mengurusinya. Tidak boleh ikut kepo, kenapa memilih untuk memiliki keturunan. Termasuk jumlah anak yang diinginkan.

     Dari sisi budaya masyarakat Indonesia, memiliki anak adalah sebuah kebanggaan. Suami bangga bahwa dia terbukti tidak mandul. Demikian pula dengan sang istri, merasa sempurna menjadi perempuan yang mampu melahirkan. Kesempurnaan yang menjadi idaman rata-rata perempuan Indonesia. Belum berhasil hamil, merupakan kesedihan yang luar biasa. Apalagi Menikah dan memiliki anak adalah harapan mereka. Akan ada keturunan yang mewarisi apa yang mereka miliki.

     Buku ini adalah bukti bahwa keinginan sempurna seorang istri, mengandung dan melahirkan buah hatinya adalah cita-cita sebagian besar perempuan. Upaya dan usaha mereka lakukan-suami istri-agar mereka memliki keturunan. Sindiran seperti, ngapain kerja keras kalau enggak punya anak,  kerja keras buat siapa sih, kalau enggak punya keturunan, dan masih banyak lagi kalimat senada, yang tentu menusuk perasaan pasangan yang belum pernah menggendong momongan. Bahkan, dalam tradisi Jawa-bisa juga dalam tradisi suku lain, ada istilah bayi pancingan. Yakni, mengadopsi dan memelihara anak dari saudaranya, bahkan orang lain, agar bisa memancing mereka segera mendapatkan momongannya.

     Beruntunganya, dunia kedokteran sudah begitu maju. Peluang orang tua mendapatkan momongan semakin besar. Salah satunya adalah dengan bayi tabung. Dalam dunia medis, mereka mengistilahkan dengan IVF (In Vitro Fertilization). Upaya mendapatkan anak dengan sistem medical science ini banyak dipilih, mulai dari inseminasi (pembuahan) hingga proses IVF. Buku yang dibuat rombongan ini, Maksum, Fuad Ariyanto, dan Sidiq Prasetyo ini memang lebih banyak mengangkat proses “pembuatan” bayi tabung ini di Surabaya. Tepatnya di RSIA Ferina, dengan ketua tim dokter IVF dr Aucky Hinting.

     Buku ini dirangkai dengan bahasa ngepop, dalam bingkaian bahasa jurnalis. Karya ini terdiri dari 11 bab, ditambah satu penutup. Tujuh bab pertama, berisi mengenai asal daerah pasangan suami-istri yang ikut program bayi tabung di Surabaya ini, termasuk pernah ke mana saja, sebelum ikut di Surabaya ini. Contohnya, pada bab 1 yang berjudul Singapura, pasangan suami istri Wahyu Hidayat-Pamera Krisna tinggal di Singapura. Di negeri jiran tersebut, mereka sudah dua kali mengikuti program IVF. Nyatanya, dua-duanya gagal dan mereka mengikuti program dari dr Aucky Hinting dan langsung berhasil. Setelah 8 tahun mengupayakan untuk hamil, akhirnya pilihan terakhir adalah Surabaya. Awalnya, informasi soal program bayi tabung di Surabaya datang dari ibunya. Ibunya bercerita, ada dokter senior, pengajar Fakultas Kedokteran Unair, yang banyak berhasil memberikan pelayanan program bayi. Sempat tidak percaya, akhirnya Pamela berkonsultasi dengan dr Aucky. Tentu saja, ibu mertuanya yang melakukan konsultasi terlebih dahulu. Awalnya, Pamela akan melakukan program bayi tabung yang ketiga di Singapura. Setelah berkonsultasi, pilihannya berlabuh di Surabaya. Akhir yang bahagia. Mereka kini memilik anak perempuan berusia 6 tahun dan diberi nama Jessica Grace Ng.(Hal. 6)

    Kisah serupa, namun lebih berliku dialami suami istri Suwandi bin Ismail dan Kusumawari binti Ahmad. Mereka asli warga Negara Singapura. Selama 11 tahun mereka tidak memiliki momongan. Pernah ikut program serupa di Singapura, tahun 2010 dan 2011. Dua kali. Gagal. Tahun 2012, mencoba lagi di Johor Bahru, juga gagal. Tahun 2013, mencoba lagi di Singapura. Hasilnya sama, gagal. Begitu mencoba di Surabaya, tahun 2015, justru berhasil. Kuncinya, di tengah putus asanya, mereka tetap berpikir positif dan berdoa. Anak mereka lahir di rumah sakit di Singapura dan diberi nama Umar binti suwandi. (Hal. 12).

    Selanjutnya, dalam buku ini juga mengangkat pasangan yang memperoleh dari program ini. Mulai dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Bali, NTT, Pare-Pare, Soroako, Papua, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Palembang, Samarinda, Balikpapan, dan Aceh. Pasangan yang datang juga dengan latar belakang beragam. Pengusaha, pekerja, dan lainnya. Ada juga pasangan bersuamikan bule, yang akhirnya memilih program bayi tabung, mengingat usia suami sudah tidak muda lagi. Cerita masing-masing peserta berbeda satu dengan lain. kisah kesedihan, putus asa, dan berakhir bahagia menyelimutinya. Salah satunya, pasangan Rangga Almahendra-Hanum Salssabiela Rais. Anak tokoh Nasonal Amien Rais ini sampai 10 tahun baru memiliki momongan. Mereka yang menikah tahun 2006, sudah mengikuti 6 kali inseminasi dan 6 kali program bayi tabung. Sebuah perjuangan yang luar biasa. Hingga akhirnya kepasrahanlah yang menuntunnya bersabar dan akhirnya program IFV yang ke-7 berhasil. (Hal.58). 

    Memang, kebanyakan peserta tidak hanya sekali ikut program ini. Namun, rata-rata lebih dari dua kali baru bisa hamil hingga melahirkan. Rata-rata anak hasil program ini juga tumbuh dan berkembang bagus. Kebanyakan dari mereka mengikuti program bayi tabung di Singapura dan Malaysia. Usia pernikahannya pun beragam, ada yang baru 4 tahun, namun ada pula yang di atas 10 tahun baru memiliki momongan. Usai mengikuti program dengan dipandu dokter Aucky.

    Menariknya, meski program untuk kehamilan ini diinisiasi oleh dr Aucky, yang notabene dokter di RSIA Ferina, namun untuk melahirkan tidak ada kewajiban di tempat yang sama. Pihak RSIA Ferina mempersilahkan peserta program untuk memilih rumah sakit atau tempat melahirkan yang diinginkan. Seperti yang dialami oleh pasutri Jarot-Hani. PNS ini menginginkan kelahiran dengan bantuan BPJS Kesehatan. Namun, RSIA Ferina tidak memiliki fasilitas BPJS Kesehatan. Akhirnya, oleh Aucky, mereka dipilihan rumah sakit yang ada fasilitas BPJS. Pasien tidak dibiarkan pusing dan memilih sendiri rumah sakit untuk melahirkan. Pihak RSIA Ferina mencarikan rumah sakit sesuai keinginan dan kemampuan pasien. Dalam banyak kesempatan memang, Aucky selalu menekankan bahwa usaha yang dilakukan adalah menanamkan embrio ke rahim. Setelah itu, dia selalu bilang, “Usaha saya cukup sampai di sini, Bu. Selanjutnya, terserah Yang di Atas (Tuhan, red).” Dan salah satu tim RSIA Ferina dr Lia Natalia Hinting MSC, juga juga anak dari dr Aucky, mengatakan, kebanyakan peserta program yang banyak menuntut, tidak sukses hamil. Namun, mereka yang sudah pasrah, lebih sering dikabulkan. Lia menambahkan, banyak perhitungan di atas kertas berbalik dengan kenyataan. Dia dan tim dokter lainnya sering menemukan kejadian di luar logika. Muncullah moto: Anak tidak bisa dibeli, tak bisa ditolak.

    Kesuksesan dari dr Aucky juga dibantu oleh keberhasilan penyanyi Inul Daratista yang mengikuti program ini. Nama penyanyi yang dikenal dengan goyang ngebornya ini turut mengenalkan program bayi tabung di Surabaya. Apalagi, sebelumnya Inul sempat menjajal program bayi tabung di berbagai tempat.

    Dr Aucky yang sebelum membesarkan RSIA Femina, dikenal sebagai pelopor program IFV di Surabaya. Ia mengalami di RSUD dr Soetomo, usai menyelesaikan studinya di Belgia tahun 1989. Nasionalisme yang tinggi membuat dirinya pulang ke Indonesia, di tengah tawaran yang menggiurkan di luar negeri. Saat itu, program bayi tabung baru ada di RS Harapan Kita. Surabaya menyusul. RSUD dr Soetomo mengawalinya, tahun 1991. Dari situ, terus berkembang hingga yang terakhir, dr Aucky ‘melahirkan’ RSIA Ferina.

    Program bayi tabung sendiri sebenarnya bukan satu orang, dr Aucky. Keberhasilan menjadi hamil dari peserta program berkat kerja sama tim. Tim dokter ini memiliki kecakapan masing-masing. Ada ahli kandungan dan kebidanan, ahli andrologi, embriologi, serta dokter umum, psikolog, hingga suster.

    Selain asal yang beragam, peserta program bayi kembar pun dihinggapi perasaan takut dan khawatir yang beragam. Ada yang wajar, ada pula yang berlebihan. Seperti ada yang takut punya anak kembar dempet (kembar siam). Memang, proses pembuatan bayi tabung, tim dokter kadang melakukan penanaman dua atau tiga embrio. Proses ini tidak sepenuhnya langsung mendapatkan bayi kembar. Upaya penanamana dua atau tiga embrio ini tentu dengan perhitungan matang dari tim dokter. Yakni, menjaga kemungkinan hamil lebih tinggi, daripada menanam hanya satu embrio. Semuanya bergantung usia ibu. Jika usia ibu di bawah 35 tahun, kemungkinan kembar tiga sekitar 6 persen, kembar dua 20 persen. Kalau usia ibu di atas 38 tahun, kemungkinan kembar tiga turun menjadi sekitar 3 persen, hamil tunggal sekitar 70 persen. Jika satu embrio yang ditanam, kemungkinan hamil turun lebih rendah lagi. Setiap siklus penanaman embrio punya kemungkinan hamil sekitar 30 persen. Penanaman tiga embrio(maksimal) kemungkinan hamil rata-rata 50-60 persen. Semua bergantung usia, kualitas embrio, jumlah embrio, dan kendala lain yang dihadapi ibu. (Hal. 312).

    Meski ribuan yang sudah berhasil mendapatkan anak melalui program bayi tabung, tim dokter IVF RSIA Ferina tidak besar kepala. Mereka meyakini bahwa keberhasilan dari program ini bergantung pada kehendak dan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tidak pernah menjamin bahwa proses program yang dijalani ini untuk hamil pasti berhasil. Mengikuti program IVF adalah jalan terakhir. Bagi pasangan muda, mereka tetap dianjurkan untuk menjalani program kehamilan secara normal, meski belum diberi momongan. Tim dokter akan memberi semangat agar ibu berusaha hamil dengan non-IFV. Sedangkan mereka yang putus asa belum mendapatkan momongan, setelah membaca buku ini, menjadi penyemangat untuk memiliki momongan. Setidaknya mencoba program IFV dulu. Oh ya, buku ini dibuat sangat luks. Penuh dengan foto-foto bahagia para peserta program IFV, dan dicetak dengan kertas berkualitas. Jadi, buku ini sangat layak dikoleksi. Sekian. Terima kasih.

 ----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Heru Setiyaka

Mahasiswa Program Magister Psikologi Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta