Home Idea Jejaring Kebaikan dan Prasangka Buruk

Jejaring Kebaikan dan Prasangka Buruk

149
0
SHARE
Jejaring Kebaikan dan Prasangka Buruk

Keterangan Gambar : Foto milik suara.com

Indonesia berduka. Secara tiba-tiba, maestro lagu-lagu jawa, Didi Kempot berpulang. Kabar menyengat di tengah puncak kepopuleran Lord of Broken Heart. Semua media massa memberitakannya. Demikian juga semua lini masa atau sosial media tidak lepas membicarakan pria berambut gondrong ini. Semua seragam dan tenggelam dalam kesedihan. Penyanyi yang selalu mengajak sobat ambyar untuk menikmati kesedihan akibat broken heart, benar-benar membuat ambyar semua dalam kesedihan.

Di balik itu, ternyata ada hal lain yang patut menjadi catatan. Pria yang tinggal di Solo ini memiliki hati mulia. Suka tetulung (membantu), dan low profile alias tak pernah sombong. Lama hidup di jalanan menempa hatinya tidak mudah terbang saat di pundak kejayaan. Tetap membumi di tengah kepopulerannya.

Sekelumit kisah itu diceritakan teman dekat penulis yang bekerja di semua televisi nasional. Kompas TV tepatnya. Ia pula yang ikut wira-wiri ngurusi persiapan hingga purna, perhelatan akbar sang  Lord of Broken Heart. Pentas tiga jam yang fenomenal dan mampu menelurkan donasi RP 7 miliar lebih adalah tinggalan Didi Kempot. Dari awal dicetuskan ide show dari rumah, pemilik nama Dionisius Prasetyo ini cukup antusias. Hingga acara usai, dana kemanusian terkumpul, dan sudah didistribusikan pada beberapa lembaga sosial, merupakan warisan tak terlupakan. Saat artis Indonesia lain belum banyak yang bergerak, Didi Kempot langsung tancap gas. Hasilnya, semua sudah tahu. Dan seperti teman bilang, suamia dari Yan Vellia ini sudah mengkaping surganya. Kenapa bisa diibaratkan begitu? Ya, karena langkah kebaikannya itu tidak hanya menyebar dan menviral, tetapi bermanfaat sangat besar bagi orang lain. Agama apapun pasti mengajarkan untuk berbuat baik pada orang lain, bukan?

Proyek kemanusian dari pentas Didi Kempot itu membuahkan jejaring kebaikan di mana-mana. Ide positif itu mendapat sambutan hangat  dari masyarakat. Setidaknya, sebagian lapisan masyarakat tergerak-minimal sobat ambyar yang jumlahnya banyak sekali. Memang, terkesan sederhana,  namun ajakan berbuat baik itu-dengan ikut mendonasikan seikhlasnya, khususnya di kalangan sad bois dan sad girl- memancing pihak-pihak lain ikut berpartisipasi.

Bisa dibaca, ada pihak televisi dengan semua krunya yang terlibat langsung dan tidak langsung menyiarkan acara tersebut. Ada donator dari para sobat ambyar. Dari penggagas ide tersebut. Begitu rampung dan terkumpul, disalurkan pada lembaga sosial yang dipilih. Dari situ, jejaring kebaikan mengalir lagi pada pihak berhak. Aliran kebaikan itu seperti air. Menyebar dan meluas.

Itu baru pada satu kasus, proyek kemanusian ala Didi Kempot. Dan sebagai masyarakat yang suka bergotong royong, orang Indonesia sebenarnya mudah untuk digerakkan dalam kebaikan dan kegiatan sosial. Tidak perlu menunggu pemerintah, saat ada kondisi bencana, saat keadaan tidak baik, banyak pihak-pihak yang tergerak. Gerakan kebaikan itu gampang menggelinding dan menyebar luas, karena pada hakekatnya, kita semua memiliki hati. Hati yang menegaskan, kebaikan akan selalu hadir pada keadaan yang tidak umum, pada kondisi bencana yang datang, pada perekonomian yang tengah sekarat, dan kondisi yang memang harus lebih memperpanjang bersabar.

Pandemi Covid-19 juga menjungkalkan sendi-sendi perekonomian masyarakat Indonesia. Selain menjadi korban langsung atas virus Corona, sebagian lain dari masyarakat Indonesia terkena imbasnya. Ada yang mendapat ‘hukuman’ pemutusan hubungan kerja alias PHK karena perusahaannya tutup, ada yang harus menerima gaji tidak utuh, serta kesedihan-kesedihan lain. Belum lagi, di depan mata Lebaran tinggal menghitung hari, dan dipastikan kebutuhan aneka barang dan makanan melonjak.

Belajar dari kasus proyek kemanusiaan ala Didi Kempot tersebut, saatnya masyarakat bergerak. Upaya saling membantu sesama masyarakat menjadi jalan paling realistis. Untuk mewujudkan itu, perlunya pengorganisasian yang lebih rapi dan bersama. Lembaga atau institusi semacam media, organisasi kemasyarakat, atau organisasi keagamaan bisa bergerak. Pemetaan dan pembagian tugas sebaiknya dilakukan, agar tidak tumpang tindih. Terus, pasti ada pertanyaan, mana peran pemerintah dan harus bagaimana pemerintah? Soal itu, tidaklah perlu mempermasalahkan hal tersebut. Pemerintah pasti akan ikut dan menutupi sisi-sisi yang lemah. Atau sebaliknya, pemerintah bekerja, dan pihak swasta menutupi bagian-bagian yang bolong, karena pemerintah belum sampai ke sana.

Tebar kebaikan itu juga akan menjadikan semua pihak menjadi optimistis. Kondisi yang serba kurang ini harus dilawan dengan pikiran positif. Jika yang muncul adalah pikiran negatif dan rasa pesimistis, tidak hanya imun yang tergerogoti, perubahan dan perbaikan perekonomian juga tidak kunjung berjalan.

Prasangka     

Prejudice atau prasangka  adalah sikap (biasanya negatif) terhadap anggota kelompok lain, semata berdasarkan keanggotaan mereka dalam kelompok tersebut. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki prasangka terhadap kelompok sosial tertentu cenderung mengevaluasi anggotanya dengan cara yang sama (secara negatif) semata karena mereka anggota kelompok tertentu. Seperti halnya sikap yang lain, prasangka mempengaruhi cara kita memproses informasi sosial, keyakinan kita terhadap orang yang menjadi anggota berbagai kelompok, dan perasaan kita terhadap mereka.  Intinya, prasangka adalah penilaian terhadap orang lain dan cenderung pada sisi negatifnya. Dalam kondisi apapun, prasangka selalu hadir dalam kehidupan kita, manusia.

Awal hadirnya prasangka itu tidak terlepas dari informasi yang kita peroleh, dan seberapa sering informasi itu menghinggapi pikiran-pikiran manusia. Selanjutnya, prasangka itu lahir dalam bentuk sikap. Bagaimanapun, prasangka itu melibatkan perasaan negatif atau emosi pada orang yang dikenai prasangka ketika mereka memikirkan anggota kelompok yang mereka tidak sukai.

Lalu, apakah prasangka itu bisa dihilangkan? Tentu saja tidak, karena sekecil apapun itu prasangka, tetap ada dalam diri manusia. Robert A. Baron dan Donn Byrne (2003) menyatakan, seseorang memiliki prasangka karena dua hal. Pertama, secara individu mereka memiliki prasangka karena dengan melakukannya mereka bisa meningkatkan citra diri mereka sendiri. Dengan kata lain, bila seseorang berprasangka memandang rendah sebuah kelompok yang dipandangnya negatif, hal itu membuat mereka yakin akan harga diri mereka. Mereka merasa superior. Tujuannya, melindungi dan meningkatkan konsep diri mereka.

Adapun alasan kedua, dengan melakukan itu (berprasangka), mendukunh usaha kognitif. Ia tidak perlu lagi proses berpikir yang hati-hati dan sistematis.

Ternyata, prasangka itu lahir sebagai wujud dari ketiadaan toleransi dalam diri seseorang. Bisa lihat di masyarakat, banyak kasus toleransi muncul berasal dari prasangka yang datang terlebih dahulu. Dalam skala kecil, dalam lingkungan keluarga, saat prasangka mendominasi yang terjadi adlah tiadanya toleransi antaranggota keluarga. Dalam masyarakat, di kampung misalnya, sesama tetangga tidak adanya toleransi mengenai parkir kendaraan di gang sempit bermula karena prasangka kita pada mereka, atau mereka pada kita, atau memang kedua belah pihak sudah berprasangka (negatif).  Di lingkungan kerja, konflik-konflik antarkaryawan juga seringkali muncul, berawal dari prasangka. Dalam skala lebih besar,  prasangka dalam bernegara sedikit banyak juga membimbing kita memberi penilaian pada pemegang kekuasaan.

Memang ada cara untuk memutus prasangka yang sering mundul dalam diri kita. Ahli psikolog memberikan tips-nya, seperti memutus siklus prasangka dengan belajar tidak membenci. Secara teknik, agar tidak terjebak pada prasangka, diajarkan agar tidak menjadi fanatik. Pandangan bahwa orang  yang memiliki prasangka, sebenarnya membahayakan orang lain dan dirinya. Mereka akan dikuasai rasa takut, cemas, dan amarah yang tidak perlu. Berikutnya, tips lainnya adalah dengan melakukan kontak antarkelompok secara langsung. Dengan cara itu, mereka akan memiliki potensi keuntungan di masa depan, seperti mengembangkan pemahaman akan kesamaan di antara mereka, mereduksi informasi dari kelompok lain, yang bersifat negatif dan tidak perlu, dan  dua yang terakhir adalah meniadakan kata ‘kita’ dan ‘mereka, serta belajar untuk tidak stereotip.

Jejaring kebaikan seperti yang dicontohkan pada proyek kemanusian ala Lord Didi bisa berkembang baik, sekaligus juga bisa layu cepat, saat berhadapan dengan prasangka yang berkembang di masyarakat.  Musuh perbuatan baik adalah prasangka negatif. Saat satu individu, satu kelompok, atau masyarakat dikuasai prasangka, menjadi sign bahwa kebaikan-kebaikan itu takkan hidup lama.

Permasalahannya, masyarakat kita yang dikenal mudah bergotong royong dan saling membantu itu juga ada kekurangannya, cepat berprasangka. Padahal, dua hal itu saling bertolak belakang. Informasi dari media sosial yang massif, menjadi pupuk yang cukup baik bagi tumbuhnya prasangka. Rasa malas untuk cek and ricek atas informasi yang tidak benar begitu mendominasi. Akibatnya, prasangka seringkali mematikan jiwa sosial dalam diri masyarakat. Nah, pekerjaan rumah kita adalah bagaimana menindas benih-benih prasangka yang sering hadir dalam diri kita, dalam diri masyarakat Indonesia. Ayo, kita bisa!

--------------------------------------------------------------------------------

Heru Setiyaka

Bekerja pada Perusahaan Konsultan dan Mahasiswa Program Magister Psikologi Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta