Home Idea CSR Sekarang, Pasar Masa Depan

CSR Sekarang, Pasar Masa Depan

513
0
SHARE
CSR Sekarang, Pasar Masa Depan

Keterangan Gambar : ilustrasi CSR dari Indosat

Pernahkan Anda mendengar ajaran agama yang mengatakan, dalam sebagian hartamu ada milik orang lain. Artinya, kita diajak untuk ingat kepada orang lain, khususnya mereka yang terhitung secara materi masih kekurangan dibandingkan dengan kita. Merekalah para kaum duafa dan miskin yang wajib dibantu.

     Dari situ saja, bagaimana kepedulian kita diuji. Jiwa sosial yang dimiliki setiap manusia diingatkan. Dan sekarang, jiwa sosial tidak hanya harus dimiliki oleh perorangan tetapi juga wajib diimplimentasikan oleh corporate atau perusahaan. Meski belum diatur atau belum disyahkan dalam undang-undang, Corporate Social Responsibility (CSR) sudah menjadi tren yang diikuti semua perusahaan, baik skala kecil, menengah atau besar. Lewat program CSR tersebut, semua perusahaan membangun image atau pencitraan diri.

     Citra yang baik akan diikuti oleh prospek pasar yang bagus. Bagi perusahaan yang menjual saham di bursa, citra yang baik memang diciptakan agar saham bisa melambung. Tidak hanya perusahaan yang berjualan sahamnya di bursa, mereka yang tetap memakai sistem tradisional tetap menginginkan citra perusahaannya tetap bagus.

    Kebanyakan arah yang dilakukan perusahaan sekarang juga lebih fokus. Artinya, selain menciptakan pencitraan sebagai upaya berinvestasi ke depan agar nama baiknya selalu terjaga, kini perusahaan lebih smart lagi dalam memilih pasar. Apakah Indosat telah melakukan hal tersebut seperti perusahaan lainnya?

     Sebelum melihat hal tersebut, bisa diperhatikan bagaimana perusahaan operator telekomunikasi di Indonesia berkembang dari awal yang dimiliki pemerintah lewat PT Telkom Indonesia. Kemudian hadir Telkomsel yang juga masih anak perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) plat merah tersebut. Hadir berikutnya, Indosat, PT Excelcomindo Pratama Tbk dan berikutnya banyak pemain juga hadir. Ada Three (3) dan Perusahaan Lippo yang menggunakan brand Smart-nya. Semuanya menggunakan sistem GSM (Global System for Mobile Communications) sebagai pilihannya.

     Fase berikutnya, hadir operator lain yang memanfaatkan teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) yang dimulai oleh Telkom dengan TelkomFlexi dan disusul PT Mobile-8 dengan brand  Fren, PT Sampoerna hadir dengan Ceria dan PT Bakrie Telcom yang mengenalkan produk Esia menyusul PT StarOne yang telah mendahului dengan Jagoan.

     Semuanya berebut pasar yang sama dan semuanya optimis bisa memperebutkan pelanggan yang signifikan sesuai dengan investasi yang mereka tanamkan. Apalagi penetrasi semua operator GSM yang ada di Indonesia masih sekitar 17,28 persen atau 38 juta pelanggan dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia.

     Menurut riset pasar yang dilakukan Pixel Research diketahui bahwa pasar selular Indonesia sangatlah atraktif. Dalam 5 tahun ini bisnis telepon selular di Indonesia begitu berjaya. Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI) menyatakan jumlah pelanggan telepon diperkirakan akan mencapai 82,1 juta. Puncak pertumbuhan terjadi pada 2006 ke 2007, yakni dari 50,2 juta ke 72,5 juta pelanggan. Perkembangan jumlah pelanggan memang terus naik. Data tahun 2004, jumlah pelanggan seluler mencapai 32,4 juta. Tahun berikutnya, 2005, naik di angka 40 jutaan.

     Ramainya persaingan ini bukanlah tanpa resiko. Di tengah upaya merebut pasar, ternyata kendala utama semua operator adalah sama dimana perilaku pelanggan yang hanya memanfaatkan SMS (Short Message Service) dibanding untuk calling (panggilan). Tingkat churn rate (kartu hangus) juga terus naik mengingat semua operator melakukan pertempuran kartu perdana murah. Akibatnya, kartu perdana lebih banyak menjadi calling card atau digunakan ketika pulsa masih ada dan bila tidak ada pulsanya, langsung dibuang begitu saja. Ini terjadi akibat promosi operator dimana pengguna menghitung membeli kartu perdana lebih murah dan mendapatkan tambahan pulsa dibanding mengisi ulang.

     Tahun 2005, salah satu pengurus ATSI pernah mengatakan pada kuartal I tahun itu jumlah churn rate mencapai 12 %. Itu artinya, dari sekitar 32,4 juta pelanggan selular, ada 3,9 juta kartu hangus. Bahkan, pengamat Telematika, Roy Suryo pernah mengatakan tingkat churn rate pelanggan selular di Indonesia cukup tinggi bila dibandingkan negara-negara Asean. Churn rate yang terjadi bisa mencapai 26% dalam setahun. Sementara yang terjadi di Asean rata-ratanya mencapai 15%.

    Persoalan berikutnya adalah pola penggunaan pelanggan yang masih bertumpu pada SMS (Short Message Service) dibanding berkomunikasi voice. Apalagi hadirnya akses data yang juga ditawarkan oleh operator, juga tidak membuat pemakaian pulsa bertambah. Sudah menjadi rahasia bagi para operator bila pelanggan pra-bayar lebih sensitif terhadap harga bila dibandingkan pelanggan pasca-bayar. Pelanggan pasca-bayar masih mempertimbangkan unsur value pelayanan secara keseluruhan.

     Semua operator masih merasakan bila tingkat pendapatan dari rata-rata per pelanggan (average revenue per user/ARPU) sebenarnya masih rendah. Karena itu, analis dan lembaga keuangan internasional mengukur nilai suatu operator berdasarkan pada tingkat ARPU-nya. Agar tidak mengalami penurunan ARPU, operator telepon seluler harus segera memberikan jasa layanan berbasis internet bergerak (mobile internet) sebagai solusi untuk meningkatkan traffic-nya. Industri telekomunikasi memang cepat mengalami perubahan. Siapa yang cerdik mengantisipasi perkembangan itu, operator itulah nanti yang akan memenangkan kompetisi.

     Semua operator mengakui sebenarnya bila perang pemasaran yang mengandalkan harga akhirnya tidak akan menguntungkan bagi semua pemain. Termasuk Jhonny Suwandi Sjam, petinggi salah satu operator di Indonesia. Dia mengakui perang tarif merupakan salah satu strategi industri selular. Namun, yang perlu dilakukan sebagai langkah ke depan adalah kompetisi dalam hal pelayanan. Yaitu bagaimana membuat jaringan yang handal dan pelayanan yang baik kepada pelanggan.

      Sampai sejauh ini upaya operator masih pada konsep menambah jumlah pelanggan. Istilah yang dikaitkan dalam hal ini sesuai dengan konsep dari Griffin & Lowenstein, yaitu Management Big Three yang menyebutkan upaya tersebut masih fokus di acquisition customer dan belum mengarah bagaimana mempertahankan pelanggan atau retention. Langkah mempertahankan saja belum apalagi sampai ke langkah berikutnya win-back atau melakukan upaya-upaya menarik kembali mantan pelanggan yang sudah mempunyai pengalaman menggunakan produknya untuk menjadi pelanggannya lagi.

    Kembali ke persoalan CSR, sebenarnya masalah utama operator bisa disederhanakan yaitu bagaimana mencari pasar baru. Solusi yang ingin ditawarkan dalam tulisan ini adalah mencoba membuat pasar baru dan menciptakannya menjadi pelanggan tetap dan bukanlah yang mencoba-coba. Apalagi persolannya sudah diketahui bagaimana perilaku pasar yang ada serta kendala yang dihadapi banyak operator.

     Mungkinkah itu? Tentu saja mungkin, dan CSR adalah menjembataninya. Pola CSR yang ditawarkan adalah menjadikan obyek program CSR dari Indosat menjadi subyek pelanggan di masa depan, pasar jangka menengah dan pasar jangka panjang. Siapakah mereka?

    Kita tahu, pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia cukup banyak. Untuk sample, saya ambil data di DIJ saja dimana memperlihatkan jumlah UKM di propinsi ini ada 9.810 unit. Dari jumlah tersebut, belum banyak yang mengikuti asosiasi atau organisasi. Contohnya saja, Forum Daerah (Forda) UKM DIJ yang hanya 100-an anggota. Demikian juga asosiasi lain seperti ASEPHI (Asosiasi Pengusaha Handycraft Indonesia), ASMINDO, HIPMI, APIKRI dan lainnya yang masing-masing anggotanya kurang dari 500 anggota.

     Menurut Ketua Forum Daerah Usaha Kecil Menengah (FORDA UKM) DIY, Dwi Hendry Setiawan dari jumlah anggota yang ada, baru 10 %-nya yang memanfaatkan teknologi internet karena memang beriorientasi ekspor. Seandainya saja kita berhitung, jumlah UKM di DIJ ada 10 ribu dan 10 %-nya saja yang memanfaatkan teknologi internet berarti ada 1.000 pelaku UKM yang memanfaatkan internet. Apakah mereka mempunyai internet sendiri. Ternyata banyak yang memanfaatkan warung internet atau menggunakan internet di kantor asosiasinya secara bersama-sama dalam menjual produk mereka di dunia maya.

     Indosat semestinya melihat itu sebagai peluang. Dengan program CSR yang lebih terencana, Indosat bisa membantu pendanaan untuk pengembangan usahanya yang berorientasi ekspor dan pelatihan akan teknologi informasi. Kedepannya, kebutuhan akan internet pasti akan lebih besar lagi. Program pendanaan untuk modal akan membantu peningkatan kualitas produksi dan kinerja pelaku UKM. Efeknya, selain melihat Indosat sebagai perusahaan yang mempunyai citra bagus, juga sebagai ‘dewa penyelamat’ bagi perkembangan bisnisnya. Bila mereka ditawari produk Indosat, kemungkinan besar akan mau dan Indosat jangan hanya menjual produk SMS dan voice (telepon) saja. Mengapa tidak mengarahkan untuk akses data, dimana produk ini lebih stabil pelanggannya. Untuk akses, produk termurah saja dari Indosat adalah Rp 350 ribu. Bisa dibayangkan pasar itu seandaianya ada 1.000 Pelaku UKM yang memakai internet, total pendapatan Rp 350 juta perbulan. Apakah itu angka yang kecil, tentu saja tidak bukan. Apalagi jumlah itu adalah minimal dengan penggunaan minimal. Seiring pertambahan jumlah dan kemampuan produksi, penambahan akses data juga akan meningkat. Ini baru di Yogyakarta saja. Bagaimana tempat lain, dimana pelaku UKM juga tidak kalah banyaknya dan kemampuan untuk membeli produk akses data juga tidak rendah. Apalagi, sebelumnya Indosat melakukan program CSR, mulai dari pengenalan, pemanfaatan, pelatihan teknologi internet serta membantu dalam hal pendanaan atau kredit lunak yang bisa diterapkan secara bergulir.

   Program CSR untuk jangka panjang adalah melalui program anak usia sekolah dasar sampai SMA. Banyak operator lain, atau perusahaan yang mencoba membantu dengan tujuan yang sama. Pernahkan mencoba dengan cara yang berbeda, misalnya melalui yayasan, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) atau lembaga sosial lain, baik yang berbasis intenasional, nasional atau lokal. Bisa bekerja sama dengan Plan Internasional, Save Children, Yayasan Little Care atau yang lokal seperti Mitra Tema di Bantul serta karang taruna atau taman bacaan yang dikelola perorangan secara nirlaba. Berikan anak-anak yang mereka pengetahuan akan teknologi informasi-komunikasi dengan menyediakan sarana itu yakni berupa komputer dan pendukungnya untuk internet.

    Indosat mempunyai peran besar dengan menyediakan modem dan jaringan untuk internet. Contohnya yang bisa dipilih seperti membantu anak-anak mengenai akan persiapan pengetahuan teknologi informasi dan komunikasi di sekitar taman bacaan yang dibangun Little Care di Bantul dimana bangunannya berada di lingkungan pelaku UKM. Bila ini dilakukan secara sinergi, anak-anak akan menjadi investasi masa depan bagi perkembangan UKM yang ada.

     Pola internet goes to school sudah dijalankan banyak pihak. Tetapi bagaimana dengan internet goes to village, di mana pemerintah tidak bisa maksimal. Indosat bisa mengambil peran lebih besar dan pilot project-nya adalah lewat CSR. Seiring berpembangan zaman, tentu mereka akan menjadi pasar masa depan yang potensial.

    Dirjen Aplikasi Telematika Ir Cahyana Ahmadjayadi Departemen Komunikasi dan Informasi dalam pembukaan pameran Komputer di Yogyakarta mengatakan akan ada program pengadaan komputer baik PC atau Laptop sebanyak 2 juta bagi guru Indonesia. Artinya, ada sejumlah yang sama untuk saluran internet agar guru juga mengalami peningkatan kemampuan pengetahuan dan wawasan melalui penguasaan internet. Apakah ini bukan merupakan peluang pasar yang besar?

    Tetapi mestinya pihak Indosat perlu membuat formula yang lebih sistematis dan ke depannya untuk membuat pasar tersendiri bagi produknya. Biarkan operator lain yang bersaing di pasar yang sama dan Indosat mencari peluang di pasar yang diciptakan sendiri. Pertanyaan terakhir, apakah Indosat mau melaksanakan atau membiarkan operator lain merebut peluang ini? Selamat memilih.(***)

 

Heru Setiyaka, Praktisi Media

Pernah Dimuat di Harian umum Radar Jogja (Jawa Pos Group) pada Maret, 2010.