Home BukuKita Dari Satu Abad Perjalanan Ismail Marzuki

Dari Satu Abad Perjalanan Ismail Marzuki

417
0
SHARE
Dari Satu Abad Perjalanan Ismail Marzuki

Judul Buku      : Seabad Ismail Marzuki, Senandung Melintas Zaman

Penulis             : Ninok Leksono

Penerbit           : PT Kompas Media Nusantara Jakarta

Tahun              : Cetakan Pertama, 2014

Xvi + 200 halaman

ISBN               : 978-979-709-829-2

Siapa yang bisa didaulat menjadi maestro musik dan lagu dari Indonesia? Ternyata, Majalah Rolling Stone pada edisi Februari 2014 menempatkan nama Ismail Marzuki diurutan pertama. Apakah alasannya? Tim yang terdiri dari pengamat musik dan wartawan yang bergelut di dunia hiburan menyebut kesederhanaan liriknya yang justru kuat bertahan sepanjang zaman.

     Itulah tulisan awal dari Ninok Leksono dalam buku Seabad Ismail Marzuki, Senandung Melintas Zaman tersebut. Buku yang dihadirkan menjelang satu abad (jika hidup sampai tahun 2014 lalu) Ismail Marzuki. Ya, Ismail Marzuki memang ‘masih hidup’, setidaknya karya-karyanya yang abadi hingga kini. Ismail Marzuki yang lahir pada tanggal 11 Mei 1914 dan meninggal pada 25 Mei 1958. Pria kwintang ini juga mendapat gelar pahlawan nasional pada tahun 2004. Nama Ismail Marzuki juga disematkan sebagai taman budaya di ibukota, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

     Tidak berlebihan sebenarnya kalau menobatkan Ismail Marzuki sebagai ‘bintang.’ Karya-karya yang cukup terkenal dan selalu dikenang. Jumlahnya juga tidak tanggung-tanggung, hingga 200-an. Bagi Anda penikmat musik, karya Ismail Marzuki juga dibawakan dalam berbagai versi dan banyak penyanyi. Lagu Juwita Malam, misalnya, group Band Slank yang membawakan dengan versi blues dan punk, ada Trie Utami dengan gaya jazz saat menyanyikan lagu Kopral Jono, dan masih banyak lagi. Belum lagi menjelang satu abad Ismail Marzuki, berbagai konser dipersembahkan untuk mengenangnya. Semuanya terekam dalam bab satu di buku tersebut.

     Pada bab dua, penulis memulai dengan kisah Ismail Marzuki saat muda. Ismail Marzuki lahir di Jakarta, tepatnya di Kwintang. Ayahnya bernama Marzuki Saeran dan ibunya tidak ketahui pasti namanya, yang meninggal saat Ismail Marzuki berusia tiga bulan. Ismail Marzuki mewarisi bakat ayahnya dalam bermusik. Masa kecil Ismail hingga dewasa dilalui dengan gembira, mengikuti pendidikan yang diberikan, termasuk lagu-lagu. Kesukaan pada musik dikarenakan pengaruh ayahnya. Apalagi di rumahnya ada gramafon. Semasa kecil dan menginjak remaja, ia belajar bermain alat-alat musik, hingga dewasa ia memasarkan piringan hitam. Di tengah perjalanan hidupnya yang belajar musik, tentu perlu wahana mengekspresikan diri dalam bermusik. Maka, ia bergabung dalam kelompok musik Rukun Agawe Santosa atau Bersatu Kita Jaya. Group ini berubah nama menjadi Lief Java, berlanjut sering siaran di Radio NIROM (Nederland Indische Radio Omroep Maatshappi). Kemudian loncat ke VORO (Vereeniging voor Oostersche Radio Omroep).

     Perjalanan hidup Ismail Marzuki juga menyangkut pertemuan pertamanya dengan istrinya, Eulis Zuraida.(Halaman 43). Meski diawal sempat ada ‘permusuhan’, nyatanya mereka berakhir di pelaminan. Bahkan, kisah kasih mereka terekam dalam lagu abadi, Panon Hideung (bahasa Sunda), yang berarti mata hitam, merujuk pada wajah Eulis. Perjalanan cinta hingga mendekati ajal, juga ditulis Ismail. Lagi Dari Mana Datangnya Asmara adalah merupakan perjalanan cinta Ismail-Eulis. Berikut liriknya, dari mana datangnya asmara, aku pun tak mengetahui…cara bagaimana dia dapat mengikat hatiku….bagaimana dapatnya asmara, merajalela di hati….tak dapat aku membantah, walaupun dahulu benci…Mulai dia berpantun, hatiku berdetik…kubalas dengan senyum, sambil mataku melirik….Kemudian datang rasa saying, mulai wajahnya terbayang…Setiap waktu terkenang, akhirnya aku bertunang…(Halaman 47).

    Pada lagu Kasih Putus di Tengah Jalan, firasat kematian sudah mendatangi sang istri. Lirik lagu itu :

Padaku dikau berikan kasih mesramu

Padaku dikau berikan janji sucimu

Seiring jalan setujuan sehidup semati

Sempurnalah asmara kajian insan

Tapi apa mau dikata putusan Allah

 Janji kasih harus putus di tengah jalan

Engkau ke bintang nan tinggi

Aku hanya ke bulan

Selamat bercerah kasih kawan.

    Ya, lagu berirama walsa pelan yang dibawakan mendiang Masnun memang indah. Namun, istrinya Eulis merasakan sebagai isyarat lain. Kematian. Perpisahan. (Halaman 55-56).

     Pada bab tiga, penulis membagikan mengenai lagu dan penciptaannya. Di sini, Ismail Marzuki mendapat aneka ilham dalam menciptakan lagunya. Pertama, mengenai kehidupan, tentang alam dan kecintaan pada tanah air. Ini seiring dengan upaya mencapai negara merdeka dan mempertahankan kemerdekaan. Cinta-bukan sekedar roman cinta jejaka-perawan, laki-laki-perempuan, namun cinta dalam arti luas.

     Selebihnya, Ismail mencurahkan banyak ciptaan untuk mengangkat aneka gejala sosial, seperti orang yang sok kaya dan berlagak sebagai pahlawan, juga oang yang berlebihan saat merayakan hari Lebaran, pesan kepada pemimpin agar tidak korupsi. Mengalirkan lagu-lagu semacam O Sarinah (bahasa Belanda), Seruan Teruni, dan lainnya.

     Perkembangan zaman membuat lagu-lagu Ismail Marzuki dibawakan dalam berbagai corak musik, oleh penyanyi yang berbeda, juga diabadikan dalam aneka media. Mulai dari era piringan hitam (vinyl), kaset, hingga CD. Termasuk di media sosial, semacam youtube. Penyanyi yang membawakan juga beraneka aliran musik. Ada penyanyi Johan Untung, Koes Hendratmo, Patti Bersaudara, Rien Djamain, Kris Biantoro, Henny Purwonegoro, Broery Pesolima (Broery Marantika), Lilis Suryani, Jimmy Samalo, Zwesty wirabuana, Masnun, Slank, hingga Grace Simon. Pianis Jaya Suprana juga tidak mau ketinggalan. Juga pemusik dan komposer yang ikut mengubah lagu Ismail, di antaranya Yazeed Djamin.

     Ide dan kreativitas bermusik dan mencipta lagu Ismail Marzuki terlihat lebih dalam saat membuka bab empat. Penulis menyupliknya dalam beberapa bagian. Tema mengenai tanah air, kampung halaman, bukti cinta tanah air dan pemujaannya ada dalam beberap lagu. Contohnya, Indonesia Pusaka, Rayuan Pulau Kelapa, Kampung Halaman, dan Lambaian Bunga. Untuk kepahlawanan, diwakili beberapa lagu. Seperti,  Gagah Perwira, Sepasang Mata Bola, Gugur Bunga (di Taman Bakti), Pahlawan Merdeka, dan Selamat Datang Pahlawan Muda.

     Tema perempuan dan romantika perjuangan, begitu hidup dan merupakan representasi manusiawi Ismail Marzuki. Ada lagu Melati di Tapal Batas, Tanda Mata Pemberi Semangat, Selendang Sutra, dan Saputangan dari Bandung Selatan.  Namun, kisah romantika percintaan itu tidak selamanya indah. Ada yang bahagia, namun ada pula yang merana. Lihatlah pada lagu Wanita, Ratna Juwita, Aryati, Rindu Lukisan, Siasat Asmara, Patah Cincin, Dari Mana Datangnya Asmara, Jauh di Mata di Hati Jangan, Sampul Surat, Jangan Ditanya, Air Mata, Asmara Terpendam, dan Cumbuan Kasih di Rimba Lara.

     Kemudian, tema korupsi sudah diangkat oleh Ismail Marzuki. Korupsi bukanlah hal baru di negeri ini. Dan Ismail Marzuki sudah mencium hal tersebut, lahirlah lagu berjudul Yii. Penulis juga menambah dengan tema lain, yaitu Irisan Samba dan Visi Masa Depan (Halaman 113). Juga, Ismail Marzuki mengangkat tema lain, yang ringan, jenaka, dan merupakan potret sosial. Muncullah karya Ali Baba, Ali Baba, Seruan Teruni, Hari Lebaran, Kopral Jono, Sersan Mayorku, dan Inikah Bahagia.

     Pohon semakin tinggi, semakin dicoba dengan tiupan angin. Juga hujan deras dan panas terik ikut menerpanya. Demikian manusia, semakin terkenal dan popular, kritik selalu menyertainya. Kritik atas karya dan perjalan Ismail Marzuki juga hadir. Baik semasa ia masih hidup, hingga sudah kembali ke alam baka. Kritik atas karyanya beragam, juga sanjungan dan rasa hormat padanya. Bab lima memperlihatkan pedasnya kritik yang menghampirinya. Katakan lagu Selendang Sutera dan Sepasang Mata Bola, nyatanya diterima masyarakat sebagai lagu-lagu romantis yang isinya menimbulkan semangat juang. Meski oleh Musikolog JA Dungga, ciptaan Ismail Marzuki dianggap sebagai kitsch.

     Tidak hanya itu, Amir Pasaribu, dan L. Manik yang notabene orang Indonesia juga mengeluarkan kritik. Kritiknya beragam, dari soal musikalitas, lirik lagu, hingga latar belakang Ismail Marzuki yang tidak berpendidikan formal bermusik. Pengkritik lain juga hadir, mengkritik lagu demi lagu yang ada. Di sisi lain, masyarakat luas menerima karyanya dengan gembira.

     Ninok pada bab enam menuliskan kesan-kesan mereka yang bersentuhan dengan Ismail Marzuki, meski hanya dari menyanyikan atau memainkan karyanya tersebut. Ada Grace Simon, Addie MS, Jaya Suprana, Koes Hendratmo, hingga Aisha Sudiarso Pletscher, untuk menyebut di antaranya. Dan buku ini ditutup dengan epilog, usai erainya abadi lagunya. Penulis juga melampirkan daftar lagu Ismail Marzuki termasuk penghargaan yang diterimanya.

       Buku ini memang memiliki nilai sejarah dan menambah pengetahuan mengenai tokoh-tokoh bangsa ini yang ikut andil, di bidangnya. Tentu saja, buku ini akan lebih lengkap seandainya, tidak hanya daftar lagu yang dibuatnya saja, tetapi lirik lagu (sebagian sudah ada) juga diikutsertakan semua. Saya membayangkan, buku ini akan lebih lengkap lagi, tidak hanya berbentuk cetakan kertas, namun lengkap dengan daftar lagu, lirik lagu, note balok, dan suara lagu-lagu karya Ismail Marzuki, tentu saja yang dibawakan oleh penyanyi kekinian, agar anak cucu kita juga ikut menikmati lagu-lagunya, bukan sekedar cerita sejarah perjalanan Ismail Marzuki. Bukan sebagian, namun komplit, 200-an lagu tersebut. Semoga. (***)

Heru Setiyaka, Praktisi Media

 

Judul Buku      : Seabad Ismail Marzuki, Senandung Melintas Zaman

Penulis             : Ninok Leksono

Penerbit           : PT Kompas Media Nusantara Jakarta

Tahun              : Cetakan Pertama, 2014

Xvi + 200 halaman

ISBN               : 978-979-709-829-2

 

 

Siapa yang bisa didaulat menjadi maestro musik dan lagu dari Indonesia? Ternyata, Majalah Rolling Stone pada edisi Februari 2014 menempatkan nama Ismail Marzuki diurutan pertama. Apakah alasannya? Tim yang terdiri dari pengamat musik dan wartawan yang bergelut di dunia hiburan menyebut kesederhanaan liriknya yang justru kuat bertahan sepanjang zaman.

Itulah tulisan awal dari Ninok Leksono dalam buku Seabad Ismail Marzuki, Senandung Melintas Zaman tersebut. Buku yang dihadirkan menjelang satu abad (jika hidup sampai tahun 2014 lalu) Ismail Marzuki. Ya, Ismail Marzuki memang ‘masih hidup’, setidaknya karya-karyanya yang abadi hingga kini, Ismail Marzuki yang lahir pada tanggal 11 Mei 1914 dan meninggal pada 25 Mei 1958. Pria kwintang ini juga mendapat gelar pahlawan nasional pada tahun 2004. Nama Ismail Marzuki juga disematkan sebagai taman budaya di ibukota, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Tidak berlebihan sebenarnya kalau menobatkan Ismail Marzuki sebagai ‘bintang.’ Karya-karya yang cukup terkenal dan selalu dikenang. Jumlahnya juga tidak tanggung-tanggung, hingga 200-an. Bagi Anda penikmat musik, karya Ismail Marzuki juga dibawakan dalam berbagai versi dan banyak penyanyi. Lagu Juwita Malam, misalnya, group Band Slank yang membawakan dengan versi blues dan punk, ada Trie Utami dengan gaya jazz saat menyanyikan lagu Kopral Jono, dan masih banyak lagi. Belum lagi menjelang satu abad Ismail Marzuki, berbagai konser dipersembahkan untuk mengenangnya. Semuanya terekam dalam bab satu di buku tersebut.

Pada bab dua, penulis memulai dengan kisah Ismail Marzuki saat muda. Ismail Marzuki lahir di Jakarta, tepatnya di Kwintang. Ayahnya bernama Marzuki Saeran dan ibunya tidak ketahui pasti namanya, yang meninggal saat Ismail Marzuki berusia tiga bulan. Ismail Marzuki mewarisi bakat ayahnya dalam bermusik. Masa kecil Ismail hingga dewasa dilalui dengan gembira, mengikuti pendidikan yang diberikan, termasuk lagu-lagu. Kesukaan pada musik dikarenakan pengaruh ayahnya. Apalagi di rumahnya ada gramafon. Semasa kecil dan menginjak remaja, ia belajar bermain alat-alat musik, hingga dewasa ia memasarkan piringan hitam. Di tengah perjalanan hidupnya yang belajar musik, tentu perlu wahana mengekspresikan diri dalam bermusik. Maka, ia bergabung dalam kelompok musik Rukun Agawe Santosa atau Bersatu Kita Jaya. Group ini berubah nama menjadi Lief Java, berlanjut sering siaran di Radio NIROM (Nederland Indische Radio Omroep Maatshappi). Kemudian loncat ke VORO (Vereeniging voor Oostersche Radio Omroep).

Perjalanan hidup Ismail Marzuki juga menyangkut pertemuan pertamanya dengan istrinya, Eulis Zuraida.(Halaman 43). Meski diawal sempat ada ‘permusuhan’, nyatanya mereka berakhir di pelaminan. Bahkan, kisah kasih mereka terekam dalam lagu abadi, Panon Hideung (bahasa Sunda), yang berarti mata hitam, merujuk pada wajah Eulis. Perjalanan cinta hingga mendekati ajal, juga ditulis Ismail. Lagi Dari Mana Datangnya Asmara adalah  merupakan perjalanan cinta Ismail-Eulis. Berikut liriknya, dari mana datangnya asmara, aku pun tak mengetahui…cara bagaimana dia dapat mengikat hatiku….bagaimana dapatnya asmara, merajalela di hati….tak dapat aku membantah, walaupun dahulu benci…Mulai dia berpantun, hatiku berdetik…kubalas dengan senyum, sambil mataku melirik….Kemudian datang rasa saying, mulai wajahnya terbayang…Setiap waktu terkenang, akhirnya aku bertunang…(Halaman 47).

Pada lagu Kasih Putus di Tengah Jalan, firasat kematian sudah mendatangi sang istri. Lirik lagu itu,

Padaku dikau berikan kasih mesramu

Padaku dikau berikan janji sucimu

Seiring jalan setujuan sehidup semati

Sempurnalah asmara kajian insan

Tapi apa mau dikata putusan Allah

 Janji kasih harus putus di tengah jalan

Engkau ke bintang nan tinggi

Aku hanya ke bulan

Selamat bercerah kasih kawan.

Ya, lagu beirama walsa pelan yang dibawakan mendiang Masnun memang indah. Namun, istrinya Eulis merasakan sebagai isyarat lain. Kematian. Perpisahan. (Halaman 55-56).

Pada bab tiga, penulis membagikan mengenai lagu dan penciptaannya. Di sini, Ismail Marzuki mendapat aneka ilham dalam menciptakan lagunya. Pertama, mengenai kehidupan, tentang alam dan kecintaan pada tanah air. Ini seiring dengan upaya mencapai negara merdeka dan mempertahankan kemerdekaan. Cinta-bukan sekedar roman cinta jejaka-perawan, laki-laki-perempuan, namun cinta dalam arti luas.

Selebihnya, Ismail mencurahkan banyak ciptaan untuk mengangkat aneka gejala sosial, seperti orang yang sok kaya dan berlagak sebagai pahlawan, juga oang yang berlebihan saat merayakan hari Lebaran, pesan kepada pemimpin agar tidak korupsi. Mengalirkan lagu-lagu semacam O Sarinah (bahasa Belanda), Seruan Teruni, dan lainnya.

Perkembangan zaman membuat lagu-lagu Ismail Marzuki dibawakan dalam berbagai corak musik, oleh penyanyi yang berbeda, juga diabadikan dalam aneka media. Mulai dari era piringan hitam (vinyl), kaset, hingga CD. Termasuk di media sosial, semacam youtube. Penyanyi yang membawakan juga beraneka aliran musik. Ada penyanyi Johan Untung, Koes Hendratmo, Patti Bersaudara, Rien Djamain, Kris Biantoro, Henny Purwonegoro, Broery Pesolima (Broery Marantika), Lilis Suryani, Jimmy Samalo, Zwesty wirabuana, Masnun, Slank, hingga Grace Simon. Pianis Jaya Suprana juga tidak mau ketinggalan. Juga pemusik dan komposer yang ikut mengubah lagu Ismail, di antaranya Yazeed Djamin.

Ide dan kreativitas bermusik dan mencipta lagu Ismail Marzuki terlihat lebih dalam saat membuka bab empat. Penulis menyupliknya dalam beberapa bagian. Tema mengenai tanah air, kampung halaman, bukti cinta tanah air dan pemujaannya ada dalam beberap lagu. Contohnya, Indonesia Pusaka, Rayuan Pulau Kelapa, Kampung Halaman, dan Lambaian Bunga. Untuk kepahlawanan, diwakili beberapa lagu. seperti,  Gagah Perwira, Sepasang Mata Bola, Gugur Bunga (di Taman Bakti), Pahlawan Merdeka, dan Selamat Datang Pahlawan Muda.

Tema perempuan dan romantika perjuangan, begitu hidup dan merupakan representasi manusiawi Ismail Marzuki. Ada lagu Melati di Tapal Batas, Tanda Mata Pemberi Semangat, Selendang Sutra, dan Saputangan dari Bandung Selatan.  Namun, kisah romantika percintaan itu tidak selamanya indah. Ada yang bahagia, namun ada pula yang merana. Lihatlah pada lagu Wanita, Ratna Juwita, Aryati, Rindu Lukisan, Siasat Asmara, Patah Cincin, Dari Mana Datangnya Asmara, Jauh di Mata di Hati Jangan, Sampul Surat, Jangan Ditanya, Air Mata, Asmara Terpendam, dan Cumbuan Kasih di Rimba Lara.

Kemudian, tema korupsi sudah diangkat oleh Ismail Marzuki. Korupsi bukanlah hal baru di negeri ini. Dan Ismail Marzuki sudah mencium hal tersebut, lahirlah lagu berjudul Yii. Penulis juga menambah dengan tema lain, yaitu Irisan Samba dan Visi Masa Depan (Halaman 113). Juga, Ismail Marzuki mengangkat tema lain, yang ringan, jenaka, dan merupakan potret sosial. Muncullah karya Ali Baba, Ali Baba, Seruan Teruni, Hari Lebaran, Kopral Jono, Sersan Mayorku, dan Inikah Bahagia.

Pohon semakin tinggi, semakin dicoba dengan tiupan angin. Juga hujan deras dan panas terik ikut menerpanya. Demikian manusia, semakin terkenal dan popular, kritik selalu menyertainya. Kritik atas karya dan perjalan Ismail Marzuki juga hadir. Baik semasa ia masih hidup, hingga sudah kembali ke alam baka. Kritik atas karyanya beragam, juga sanjungan dan rasa hormat padanya. Bab lima memperlihatkan pedasnya kritik yang menghampirinya. Katakan lagu Selendang Sutera dan Sepasang Mata Bola, nyatanya diterima masyarakat sebagai lagu-lagu romantis yang isinya menimbulkan semangat juang. Meski oleh Musikolog JA Dungga, ciptaan Ismail Marzuki dianggap sebagai kitsch.

Tidak hanya itu, Amir Pasaribu, dan L. Manik yang notabene orang Indonesia juga mengeluarkan kritik. Kritiknya beragam, dari soal musikalitas, lirik lagu, hingga latar belakang Ismail Marzuki yang tidak berpendidikan formal bermusik. Pengkritik lain juga hadir, mengkritik lagu demi lagu yang ada. Di sisi lain, masyarakat luas menerima karyanya dengan gembira.

Ninok pada bab enam menuliskan kesan-kesan mereka yang bersentuhan dengan Ismail Marzuki, meski hanya dari menyanyikan atau memainkan karyanya tersebut. Ada Grace Simon, Addie MS, Jaya Suprana, Koes Hendratmo, hingga Aisha Sudiarso Pletscher, untuk menyebut di antaranya. Dan buku ini ditutup dengan epilog, usai erainya abadi lagunya. Penulis juga melampirkan daftar lagu Ismail Marzuki termasuk penghargaan yang diterimanya.

Buku ini memang memiliki nilai sejarah dan menambah pengetahuan mengenai tokoh tokoh bangsa ini yang ikut andil, di bidangnya. Tentu saja, buku ini akan lebih lengkap seandainya, tidak hanya dafar lagu yang dibuatnya saja, tetapi lirik lagu (sebagian sudah ada) juga diikutsertakan semua. Saya membayangkan, buku ini akan lebih lengkap lagi, tidak hanya berbentuk cetakan kertas, namun lengkap dengan daftar lagu, lirik lagu, dan suara lagu-lagu karya Ismail Marzuki, tentu saja yang dibawakan oleh penyanyi kekinian, agar anak cucu kita juga ikut menikmati lagu-lagunya, bukan sekedar cerita sejarah perjalanan Ismail Marzuki. Bukan sebagian, namun komplit, 200-an lagu tersebut. Semoga. (***)

 

Heru Setiyaka, Praktisi Media