Home Idea Hasil Pemilu dan Kebahagiaan

Hasil Pemilu dan Kebahagiaan

308
0
SHARE
Hasil Pemilu dan Kebahagiaan

Keterangan Gambar : ilustrasi dari jurnas.com

Ada tiga macam individu yang bisa digolongkan dalam pemilihan umum (pemilu) tahun ini, yakni, pemilih #01, pemilih #02, dan golongan putih alias (golput). Dalam kategori golput ini, ada tiga kelompok pula yang bisa dimasukkan. Yaitu, pertama, memiliki hak pilih, namun tidak menggunakan. Kedua, memiliki hak pilih, tetapi bingung memilih yang mana, dan memiliki hak memilih namun karena keterpaksaan, seperti saya ini yang terpaksa tidak bisa pulang kampung, akhirnya tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Padahal, dulu merencanakan memilih di kampung halaman dan tidak mengurus kartu A5 atau kartu yang mengizinkan bisa memilih di tempat pemungutan suara (TPS) terdekat.

     Ada juga kelompok yang tidak bisa memilih karena tidak terdaftar, ya itu sudah nasibnya. Bisa jadi karena belum melakukan perekaman e-KTP, ketlingsut saat pendataan, dan banyak ragam alasan. Semua berkumpul menjadi satu, tidak bisa memilih. Titik.

     Dari mereka, ada tiga golongan yang muncul, saat pemilu berlangsung. Menunggu dengan tidak sabar, kabar siapa yang terpilih menjadi presiden, baik di TPS atau di rumah. Golongan lain, tidak mau menunggu kabar itu dan lebih baik memanfaatkan waktu dengan berlibur, beraktivitas lain, usai melaksanakan haknya, memilih. Toh, nanti juga akan tahu juga, cepat atau lambat siapa yang akan terpilih sebagai pemenang. Dan golongan ketiga, sejak awal tidak peduli siapa yang akan memimpin negeri ini, petahana atau penantang.

    Ada lagi, tiga golongan lagi yang tengah menunggu, mereka yang menginginkan calon #01 yang menang, kelompok kedua yang menginginkan calon #02 yang unggul, dan kelompok yang tidak peduli siapa yang bakal unggul.

     Ujung dari semua itu adalah terpilihnya pemimpin RI dalam lima tahun ke depan. Siapapun itu, tulisan ini tidak akan membahasnya. Biar lembaga survei, pendukung, dan timses saja yang meramaikan ramalan dan hasilnya pada tanggal 17 April dan hari-hari berikutnya. Ibarat sebuah pertarungan, akan ada yang menang. Itu satu, tidak bisa dua, tiga, atau angka lainnya. Soal siapa, tentu wasit atau KPU yang akan menentukan.

Semua Mencari Kebahagiaan 

    Mereka yang hidup di komunitas masyarakat Jawa, seringkali mendengar kalimat ini; “Sak karepmu, sing penting kowe bahagia, aku gampang”. Ini diungkapkan dengan nada riang, ceria, dan dilafalkan dengan setengah tertawa. Paling tidak, yang mengucapkan akan menyertai dengan senyuman lebar.

    Kalimat itu memang enak dan renyah. Memberikan kebebasan pada lawan bicara kita, agar feel free, melakukan apa yang membuatnya bahagia. Si empu kalimat tersebut, memilih mengalah dan membebaskan lawan bicara mendapatkan kebahagian lebih dulu. Bukan barengan atau belakangan.

      Memang, kebahagiaan adalah tujuan hidup dari manusia. Entah ia bekerja keras, banting tulang, kerja santai, memilih profesi yang diinginkan, menikah, tinggal sendirian, menjadi single parent, menjomblo, kerja hingga luar negeri, beranak pinak, memilih tak berketurunan, dan seabrek pilihan lain, tujuannya cuma satu. Mendapatkan kebahagiaan. Itu juga sebenarnya inti dari hidup ini. Kebahagiaan adalah tujuan akhir dari segala aktivitas

     Sebagaimana pula dengan pilihan presiden tahun ini, aktivitas mendukung salah satu pilihan adalah jamak. Sebuah kebebasan berpendapat, memilih yang disukai, mendukung yang dicintai. Soal kelebihan dan kekurangan masing-masing capres dan cawapres, tentu para pendukung memiliki ukuran masing-masing.

     Kembali ke selera orang, tentu memiliki pilihan sendiri. Namun, soal tujuan hidup, tentu semua sepakat, yakni mencari bahagia. Pakar Psikologi Marin Seligman, dalam konsep kebahagiaan (positivity), harus ada lima elemen yang harus dipenuhi. Kelima itu bisa dipenuhi secara bersama atau terpisah. Bila dipenuhi penuh, komplitlah ia mendapatkan kebahagiaan. Mulai dari positive emotions, engagement, relationships, meaning, dan berkumpul dalam achievement.  Tentunya, hiruk pikuk proses pemilu hingga berakhir dengan terpilihnya wakil rakyat dan pemimpin negeri ini, tidak lepas dari keinginan mendapatkan kebahagiaan itu. kemenangan adalah salah satu bentuk kebahagiaan yang diperoleh. Yang kalah, apa tidak bahagia? Pertanyaan itu tentu muncul di benak kita. Bisa jadi, ia akan menderita, dan tidak menemukan kebahagian langsung. Namun, proses sebuah kekalahan tidak boleh ditanggapi secara pesimistis. Justru, dengan merasakan kekalahan, akan mengambil intisari dari sebuah rasa bersyukur saat diberi kekalahan. Di situlah ia akan menikmati bahagia yang sejati. Karena kebahagian juga bisa muncul dari rasa bersyukur (grateful), rasa berserah diri, dan menyadari kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Hasil tidak akan mengingkari proses. Saat ini kalah, bisa jadi suatu saat menang.

Hasil Pilpres dan Bahagia

    Ramainya jagad perpolitikan Indonesia bisa menimbulkan efek beragam. Bisa bahagia, atau justru setres dibuatnya. Bagi yang menganggap Pemilu lima tahunan sebagai bagian dari pesta demokrasi-pesta yang harusnya disikapi dengan santai, gembira, gegap gempita, tentuk berefek positif bagi dirinya. Sebaliknya, pesta yang harusnya dianggap sebagai sebuah pesta yang menyenangkan, diikuti dengan perasaan was-was, kecurigaan, pesimistis, tentu dirinya akan mengalami efek negatif yang menyerang otak dan fisiknya. Semua kembali ke kita masing-masing dalam menanggapinya.

    Ini merupakan salah satu contoh. Setiap orang mendapat cobaan-kata ahli agama berkata. Cobaan bisa berbentuk kebahagiaan, bisa juga berbentuk kesedihan. Bila sedih, kecewa, galau, sang penerima harus lebih bersabar, lebih mawas diri, dan berhati-hati dalam meniti kehidupan selanjutnya. Namun, cobaan yang berwujud kebahagiaan, tentu yang menerima bisa jadi malah lupa, sering alpa, dan semakin lupa diri. Lumrah. Dua hal menyikapi dari sebuah cobaan.

     Bahagia dan sedih, banyak contohnya. Syahrini menikah dengan mantannya Luna Maya, tentu pernikahan yang menimbulkan kebahagian mendalam bagi yang melakukan. Saat itu, atau seminggu, sebulan, tiga bulan pascamenikah. Setelah itu, mungkin grafik kebahagiaan menurun, dan terus kembali ke titik normal, biasa.

      Laporan Kebahagiaan Dunia tahun 2018 yang dikeluarkan Perhimpunan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut, ada 10 besar yang menguasai ranking kebahagiaan. Yakni, Finlandia, Norwegia, Denmark, Iceland, Swiss, Belanda, Kanada, Selandia Baru, Swedia, dan Australia. (http://worldhappiness.report). Dari laporan PBB tersebut, Indonesia menempati posisi yang memprihatinkan, yaitu pada angka 96 dari 156 negara. Negara Indonesia masih dikalahkan tetangga di Asia Tenggaranya, di mana Singapura dan Malaysia menempati ranking 34 dan 35, Philipina pada posisi ke-71 dan Vietnam lebih baik satu poin dibanding Indonesia, yaitu di ranking 95.

     Ukuran yang dipakai untuk memberikan peringkat adalah kesejahteraan rakyat masing-masing negara-negara yang tergabung di lembaga dunia tersebut. Banyak faktor yang membuat seseorang bahagia, meliputi jaminan kesehatan, kondisi lingkungan yang asri, sampai layanan pendidikan yang baik.

     Laporan PBB tersebut membuktikan, faktor keharmonisan keluarga yang merupakan salah satu indikator kepuasan hidup menjadi nilai yang paling berpengaruh tinggi terhadap kebahagiaan seseorang dengan angka 80,05. Hal ini sejalan dengan temuan dari Harvard Study of Adult Development, studi terpanjang selama 75 tahun yang pernah ada dan terlengkap yang menyatakan bahwa memiliki hubungan yang dekat dan berkualitas dengan keluarga dan orang terdekat membuat seseorang menjalani hidup dengan lebih sehat dan bahagia. Untuk itu, kebahagiaan tidak dapat diraih seseorang dengan begitu saja tanpa berusaha. Tak heran jika manusia bekerja keras untuk meraih kebahagiaaan (Elfida, 2008).

    Kata kunci dari kebahagian di atas adalah harmonis. Harmonis harus dimaknai dalam artian luas. Bukan sekedar harmonis di keluarga saja, namun juga harmonis dalam lingkungan pergaulan dan pekerjaan. Harmonis dengan lingkungan sekitar, dengan alam juga tidak kalah penting. Apakah ada yang merasa bahagia, dengan sampah berserakan? Adakah yang merasa

     Nyaman, dengan pengerukan sumber daya alam tanpa jeda, rusaknya hutan dan alam raya? Jawabnya pasti seragam, tidak. Karena itu, marikah kita berusaha mendapatkan kebahagiaan dengan merebut harmonisasi dalam diri kita, dalam kehidupan kita, dan harmonisasi dalam segala hal. Soal hasil pilpres, menerima apapun hasilnya adalah upaya mengharmoniskan diri dengan situasai yang ada. Karena, saya, Anda, dan kita semua berhak mendapatkan kebahagiaan. Sekian.

Heru Setiyaka, Praktisi Media, Kini Tengah Menempuh Program Magister Psikologi Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta