Home Idea Humor dan Manfaatnya bagi Manusia

Humor dan Manfaatnya bagi Manusia

166
0
SHARE
Humor dan Manfaatnya bagi Manusia

Keterangan Gambar : gambar milik demokrasi.co.id

Jagat maya tengah ramai, terutama di twitter. Tagar #IndonesiaDaruratHumor membuncah, pasca ditangkapnya Ismail Ahmad oleh polisi. Pria asal Kepulauan Sula, Maluku Utara, harus berurusan dengan pihak berwajib, karena mengunggah guyonan yang pernah dibuat Gus Dur, soal polisi. Ismail menulis ulang humor tersebut dan diviralkan via akun media sosialnya, pada 12 Juni 2020. Ismail tidak beruntung. Ia harus ke Mapolres Sula, dan diharuskan memberikan klarifikasi. Ismail sempat dikenai wajib lapor. Kewajiban tersebut berjalan dua hari, dan berhenti setelah Ismail menyampaikan permohonan maaf ke media massa. Di balik cerita permohonan maaf tersebut yang mem-viral, berujung pada kritik tajam terhadap instansi Polri.

     Bila melihat ke belakang, pada 22 Desember 2017, mantan Kapolri Jendral (Purnawiran) Tito Kranavian sempat mengutip kelakar soal polisi jujur tersebut pada Haul Gus Dur ke-8. Tito Karnavian menyebut guyonan tersebut sebagai self criticism, agar menjadikan instansi Tribrata menjadi institusi yang lebih baik. Tidak berbeda dengan Tito, mantan Kapolri lain, Sutarman, juga pernah mengutip humor yang sama. Ia mengatakan, menjadikan humor tersebut sebagai refleksi. Berkat protes dan sindiran soal adanya mantan petinggi Polri yang melontarkan joke yang sama, kasus Ismail tidak dilanjutkan lagi.

     Pengusaha Jamu Jaya Suprana mengatakan, sebagian masyarakat masih sering memandang keliru terhadap humor. Menurut pria yang dikenal dengan berbagai bakat, pianis, kolumnis, hingga komedian ini meneruskan, humor atau komedi masih dipandang hanya sebagai tontonan. Sejatinya, panggung humor bisa menjadi media menyampaikan pesan dan kritik. Ia menambahkan, tingkat humor yang paling tinggi tidak lagi lucu dan jenaka, namun justru mengharukan, menyedihkan, dan menyadarkan. Seringkali yang terjadi di masyarakat, humor tidak adil dan tidak beradab, saat humor digunakan untuk melecehkan dan mem-bully orang lain.

     Pendapat lain diungkapkan Deddy Gumelar, salah satu anggota Bagito Group (Lawak). Menurut Miing, sapaan akrab Deddy Gumelar, humor bukan saja kelompok orang-orang yang melawak. Ia meneruskan, humor merupakan katarsis dari kepengapan sosial. Humor dihadirkan sebagai sarana menyampaikan kritik dan pesan, sehingga mudah diterima tanpa menyakiti hati.

Apa Itu Humor?

Berbagai macam teori berupaya mendefinisikan humor. Semuanya mengacu pada artian humor seperti yang lazim dimaksudkan sekarang. Yaitu, yang ada hubungannya dengan segala sesuatu yang membuat orang menjadi tertawa gembira. Perkembangan humor di Inggris terlembaga sejak abad ke-16.

     Menurut Calley (1997), pada masa itu, penulis dan pemain teater humor yang sering disebut pemain komedi. Komedian terkenal bernama Ben Johnson. Satu karyanya berjudul Man Out of His Humor. Abad ke-17 perkembangan humor di Inggris cukup pesat. Terutama teater komedi dan naskah humor. Menurut Gauter (1988), di Eropa dan Amerika, humor dianggap bagian dari kehidupan. Bahkan dianggap sebagai suatu seni yang setara dengan seni lainnya. Awal abad ke-20, humor memasuki era baru. Humor dominan dalam teater komedi dan film. Sampai kini, media massa film masih menjadi ladang subur bagi kehidupan humor. Komedi dan satire bertahan di kalangan tertentu. Komedian yang terkenal adalah Charlie Chaplin, lahir pada April 1889. Ia menjadi seorang komedian terkenal di dunia humor modern. Film yang dibintanginya memberi inspirasi dalam perkembangan humor. Sejak awal abad ke-20, humor menjadi salah satu objek penelitian. Berbagai tulisan mengenai humor diterbitkan ilmuwan berbagai cabang ilmu sosial, terutama perspektif psikologi. Komedian Amerika Bill Burr, bisa jadi contoh lain. Pria yang terlahir pada 10 Juni 1968 ini kerap mengisahkan guyonan soal orang berkulit hitam. Tentu saja, guyonannya tidak menjadikan dirinya terjebak rasis, mengingat istirnya orang berkulit hitam.

     Di Indonesia, humor menjadi bagian dari kesenian rakyat. Seperti ludruk, ketoprak, lenong, wayang kulit, wayang golek, dan lainnya. Unsur humor di dalam kelompok kesenian menjadi unsur penunjang. Bahkan sebagai unsur penentu daya tarik. Humor yang dalam istilah lain disebut lawak, banyolan, dagelan, dan sebagainya. Setelah Indonesia merdeka, munculnya grup-grup lawak semacam Atmonadi Cs, Kwartet Jaya, Loka Ria, Srimulat, Surya Grup, dan lain-lain. Hingga kini, berkembang secara group atau personal, semacam stand up comedy.

     Pengertian humor yang termudah adalah sesuatu yang lucu, yang menimbulkan kegelian atau tawa. Humor identik dengan segala sesuatu yang lucu dan membuat orang tertawa. Sementara itu, Manser (1989), membagi teori humor dalam tiga kelompok. Yaitu, pertama, teori superioritas dan meremehkan. Jika yang menertawakan berada pada posisi super, sedangkan objek yang ditertawakan ada pada posisi degradasi (diremehkan atau dihina). Kedua, teori mengenai ketidakseimbangan, putus harapan, dan bisosiasi. Arthur Koestler dalam teori bisosiasinya mengatakan bahwa hal yang mendasari semua bentuk humor adalah bisosiasi. Yakni, mengemukakan dua situasi atau kejadian yang mustahil terjadi sekaligus. Ini menimbulkan beragam asosiasi. Yang terakhir, teori mengenai pembebasan ketegangan atau pembebasan dari tekanan. Humor muncul dari sesuatu kebohongan dan tipuan muslihat, bisa berupa rasa simpati dan pengertian atau dapat menjadi simbol pembebasan ketegangan dan tekanan, serta bisa berwujud ungkapan awam atau elite, dapat pula serius seperti satire dan murahan seperti humor jalanan. Yang pasti, humor tidak mengganggu kebenaran.

     Jatiman, sosiolog dan pengajar Universitas Indonesia memiliki pendapatnya sendiri. Menurutnya, di samping sebagai sarana kritik sosial, humor juga dibuat sebagai alat aktualisasi diri. Dalam lingkungan tertentu, segolongan orang yang tidak berdaya untuk melemparkan kritik langsung, mencoba melakukannya dengan menciptakan humor tentang yang bersangkutan. Ia menyebut pula, fungsi humor adalah sebagai rekreasi. Dalam hal ini, humor berfungsi menghilangkan kejenuhan dalam hidup sehari-hari yang bersifat rutin. Sifatnya hanya sebagai hiburan semata. Selain itu, humor juga berfungsi untuk menghilangkan stres akibat tekanan jiwa atau batin.

     Emil Salim menambahkan, selain salah satu cara menyampaikan kritik, humor juga merupakan bagian dari proses menjalin komunikasi sosial antara manusia. Untuk komunikasi yang sifatnya serius, pesan-pesan yang akan disampaikan biasanya tidak mudah terjalin antara kedua belah pihak. Jika pertemuan merupakan pertemuan baru, medium humor dalam tahap komunikasi akan mempercepat terbukanya pintu keakraban.

Humor Bagian dari Marketing

Bila melihat content marketing yang berseliweran di media massa dan media sosial, begitu banyak yang mengandung lelucon. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia marketing, lelucon juga memiliki kekuatan penting, sehingga sebuah konten yang disajikan bisa terhubung dan menarik minat para target audiens.

     Melalui humor, brand bisa terhubung secara positif dengan para masyarakat. Inilah mengapa humor begitu penting dan menjadi salah satu tujuan utama menjalankan kegiatan content marketing.

     Memang, untuk menentukan konten humor harus melakukan penelitian yang cukup. Karena, bila salah memilih materi humor, justru mengundang risiko. Humor yang dipilih harus ditempatkan secara tepat dan eksekusinya pas. Bila tidak, bisa jadi komedi menjadi bumerang, dan berakibat pada para audiens yang kehilangan minatnya.

     Beberapa alasan mengapa memilih konten yang berunsur humor. Pertama, saat ini banyak masyarakat yang skeptis dengan bentuk konten yang terkesan berjualan alias hard sell. Masyarakat akan menolak bentuk penjualan seperti itu bila mereka tidak menghendaki. Lain bila memakai joke atau lelucon, dan membuat masyarakat terhibur. Meski ada unsur promosi produk, mereka lebih terbuka dengan konten bernada humor dan brand bisa menyampaikan pesan yang ingin disampaikan secara efektif. Kedua, konten humor membuat brand lebih mudah terkoneksi dengan para target audiens. Ketiga, humor membuat orang lebih tertarik untuk menyebarkan konten tersebut. Bisa dilihat, banyak konten yang di-share berbentuk sesuatu yang jenaka.

     Keempat, konten humor membentuk suara dari brand terkait. Lewat komedi, masyarakat lebih mudah mengingat pesan dan siapa yang mengirimkan pesan. Saat humor dapat ditempatkan secara tepat, ternyata bisa membuat brand menampilkan personality-nya dan membuat pesan yang disampaikan menarik mereka.

     Semua orang menyadari kalau humor itu bersifat subjektif. Apa yang dianggap lucu oleh generasi millennials, belum tentu menarik oleh generasi tua, atau sebaliknya. Demikian pula, lucu bagi sebuah komunitas tertentu, belum tentu diterima oleh komunitas lain. Oleh karena itu, agar pesan sampai dengan baik, menjadi penting untuk mengerti benar target audiens. Dengan begitu, brand akan lebih mudah menyajikan konten jokes, seperti apa yang bisa mengundang engagement yang tinggi.

Humor, Kaitan dengan Psikologi

Pada 20 Juli 2018, situs Theconversation.com, mengungkapkan para peneliti di Australia menemukan ada hubungan antara rasa humor dengan tingkat kecerdasan seseorang. Mereka menyimpulkan, orang-orang humoris lazimnya punya IQ lebih tinggi dibanding mereka yang tidak memiliki selera humor. Alasannya, dibutuhkan kemampuan kognitif dan emosional untuk memproses dan menghasilkan humor. Lain lagi dengan para psikolog evolusioner. Mereka menggambarkan humor sebagai sifat yang diwariskan, yang menandakan kebugaran mental dan kelincahan intelektual seseorang.

     Lain lagi apa yang dilakukan Psikolog Rod Martin. Pensiunan University of Western Ontario, Kanada. Martin menggagas tes untuk mengategorikan selera humor. Tes tersebut dinamai Humor Styles Questionnaire atau HSQ. Tes ini pertama kali dikenalkan dalam jurnal Research in Personality pada tahun 2003. Kini, tes yang membagi selera humor dalam empat kategori tersebut banyak digunakan di berbagai tempat.

     HSQ mengklasifikasikan humor dalam empat gaya. Yaitu, affiliative, aggressive, self enhancing, dan self-defeating. Martin mengatakan, selera humor tiap individu adalah kombinasi unik dari empat kategori meski terkadang ada kecenderungan terhadap salah satunya. Seseorang disebut memiliki selera humor Affiliative (afiliatif), jika kerap menggunakan lelucon untuk membuat orang lain menyukai dirinya. Sementara humor self-enhancing adalah humor optimistis yang ditandai kemampuan menertawakan diri sendiri atau situasi absurd, lalu merasa lebih baik karenanya.

     Kategori selanjutnya adalah aggressive (agresif). Ini ditandai dengan sarkasme dan mengkritik lewat humor. Sementara gaya self-defeating, cenderung menempatkan diri sendiri sebagai bahan lelucon. Diingatkan Martin, keempatnya bermanfaat bila digunakan dalam konteks tepat. Namun, akan menjadi maladaptif, jika berlebihan. Dari situ, Martin menegaskan bahwa manusia memanfaatkan humor itu sangat penting. Artinya, bukan seberapa lucu dia, namun humor dipakai untuk melanggengkan hubungan sosial. Tetapi bila berlebihan, yang pasti tidak lagi lucu dan justru merugikan hubungan sosial tersebut.

Manfaat Humor bagi Manusia

Humor memiliki beberapa manfaat. Dr Elias Shay, Kepala Psikiatri Good Samaritan Hospital di Baltimore, Amerika mengungkapkan, humor bisa mengurangi rasa sakit. Seseorang yang menonton komedi atau terlibat sesuatu yang berhubungan dengan lelucon, terbukti bisa mengurangi rasa sakit yang dialaminya. Kemudian, humor bisa mengoptimalkan fungsi otak. Melalui humor dan tawa, seluruh syaraf, otot mengendur, sehingga memberi suasana hati menjadi tenang dan nyaman. Akhirnya, bisa memberi respons positif ke otak, sehingga otak tersebut bekerja lebih optimal.

     Selain itu, humor bisa bisa membuat rileks. Seperti latihan umumnya, humor membuat orang tertawa. Begitu tertawa lepas, seseorang bisa melawan stres kronis, dan merasa rileks atau santai. Kemudian, humor bisa membangkitkan imajinasi dan daya kreatif. Ini cocok seperti yang diungkapkan seorang ahli yang bekerja lebih dari 35 tahun meneliti bidang kreativitas, Robert Alan Black PhD. Ternyata, Alan Black menemukan, bahwa humor, kelucuan, atau gurauan memiliki tempat tersendiri dalam proses kerja yang serius. Humor sebagai sarana kelucuan terbukti efektif membangkitkan imajinasi dan daya kreatif.

     Saat pandemik ini, seseorang membutuhkan imun dalam dirinya. Ternya, humor bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Hal tersebut telah dibuktikan Lee Berk dan Stanley A Tan dari Loma Linda University di Loma Linda, Califormia. Pada 2006, mereka menemukan dua hormon, beta endorfin (mengurangi depresi) meningkat 27 persen dan human growth hormone/ HGH (yang membantu kekebalan tubuh) meningkat 87 persen ketika menonton video lucu. Humor juga bisa mengurangi stres. Penelitian dari Loma Linda University, menemukan bahwa humor dan lelucon membantu mengurangi tingkat 3 hormon yang berhubungan dengan stres, yaitu kortisol (hormon stres), epinefrin (adrenalin), dan hormon dopac.

     Dual hal lain pentingnya humor adalah bisa mengurangi rasa takut dan baik untuk pernafasan dan pencernaan. Humor merupakan alat kebahagiaan paling mendasar. Secara fisiologis humor menutupi rasa takut yang dialami seseorang. Humor mengubah persepktif seseorang mengenai memori yang menyakitkan pada masa lalu dan menggantinya dengan kebahagiaan.

     Dengan tertawa, seseorang bisa disebut tengah berlatih pernafasan, perut, punggung kaki, dan otot-otot wajah. Kemudian, bisa memperlancar fungsi usus, sebagai organ pijat perut, dan memperkuat otot-otot perut. Kegiatan ini menguntungkan bagi pencernaan serta penyerapan. Tertawa membantu membakar kalori dan bermanfaat untuk menurunkan berat badan.

     Dari berbagai sudut tersebut, bisa dikatakan humor sangat berguna bagi manusia. Saat humor telah dipersepsikan salah, tentu benar adanya bila Indonesia menjadi darurat humor. Saat humor dipidanakan, sudah saatnya bangsa ini introspeksi diri. Bahwa, humor berbalut kritik sekalipun, tentu ada kebaikan dibaliknya. Ketika pembuat jokes dan siapa saja yang menyebarkan humor mulai dikriminalisasi, saat itulah bangsa ini menuju titik terendah. Apakah kita ingin seperti itu? Semoga tidak. (***)

Heru Setiyaka , Bekerja pada Perusahaan Konsultan dan Mahasiswa Program Magister Psikologi Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta
---------
Artikel ini sudah erbit di AyoSemarang.com, dengan Judul Humor dan Manfaatnya bagi Manusia
pada URL https://www.ayosemarang.com/read/2020/06/22/59062/humor-dan-manfaatnya-bagi-manusia