Home Bedah Berita Jerinx VS Jokowi, Siapa yang Menang?

Jerinx VS Jokowi, Siapa yang Menang?

370
0
SHARE
Jerinx VS Jokowi, Siapa yang Menang?

Keterangan Gambar : ilustrasi teluk benoa dari maritimnews

Babak perjalanan kampanye menolak reklamasi Teluk Benoa masih panjang ? Sampai pemilihan presiden berakhir dan siapa yang menang, belum tentu ada jaminan bahwa permasalahan itu akan berakhir.

     Jerinx, ya nama itu identik dengan penolakan reklamasi Teluk Benoa. Jerinx adalah drummer group band asal Bali Superman is Dead (SID). Dengan nama lengkap I Gede Ari Astina, pria ini cukup getol berjuang untuk penolakan reklamasi Teluk Benoa yang disetujui saat pemerintahan SBY. Menjelang akhir masa kepemimpinannya, memang Presiden Susilo Bambang Yudhono (SBY) menyetujui reklamasi Teluk Benoa, Bali. Padahal, penolakan cukup keras dari masyarakat Pulau Dewata. Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2014 memuat poin mengenai berubahnya peruntukan Perairan Teluk Benoa. Yakni, dari kawasan konservasi perairan menjadi zona budidaya. Ini memungkinkan untuk dilakukan reklamasi maksimal seluas 700 hektare.

     Aturan yang ditetapkan pada 30 Mei 2014 tersebut merevisi Peraturan Presiden (PP) Nomor 45 Tahun 2011. Isinya tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Sarbagita yang memasukkan kawasan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi perairan.  Dengan aturan tersebut, juga mengubah kawasan konservasi pulau kecil dari seluruh Pulau Serangan dan Pudut menjadi sebagian Pulau Serangan dan Pudut. Dengan kekuatan Perpres tersebut, juga menghapus besaran luas taman Hutan Raya Ngurah Rai sebagai kawasan pelestarian alam. aturan sebelumnya menetapkan secara spesifik luas taman Hutan Raya Ngurah Rai seluas 1.375 hektare.
     Itulah yang ditolak jerinx dan masyarakat Bali secara luas. Saat pemerintahan berganti ke Jokowi, ada asa dalam diri masyarakat Bali. Terutama Jerinx. Apalagi ia diminta mengumpulkan bahan untuk dikirim ke istana, sebagai bagian mengkaji kembali. Lebih-lebih, Jerinx juga diundang ke istana. Melambunglah asa dari masyarakat Bali, khususnya Jerinx. (April 2015). Kedatangan Jerinx menemui Jokowi tersebut juga termuat dalam beberapa media online Indonesia. Kompas.com, cnnindonesia.com, tribunnews.com, dan beberapa media nasional Indonesia.  Alasan penolakan jelas, reklamasi Tanjung Benoa akan merusak kawasan Bali Selatan, karena daerah itu adalah daerah konservasi yang seharusnya dijaga kelestariannya. Saat ini, kawasan itu sudah sangat padat. Dengan dibangunnya pulau baru, selain menghilangkan nafkah nelayan lokal, meminggirkan masyarakat lokal, rencana pembangunan hotel, ajang Formula 1, wahana sejenis Disneyland, dipastikan tidak nyambung dengan konsep pariwisata Bali selama ini.

     Respons Presiden Jokowi, saat diminta membatalkan Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2014 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita), hanya meminta data untuk mempelajari hal tersebut.

Masih Gelap, Pembatalan Reklamasi Teluk Benoa

     Nyatanya, semua itu hanya isapan jempol belaka. Hingga pemerintahan Jokowi berakhir, semua itu tidak ada ujung pangkalnya. Harapan tinggal harapan. Asa yang melambung, harus berakhir. Tidak da jawaban yang pasti dari sang presiden. Semua menguap di istana. Mungkin, presiden melihat ada prioritas kerja yang dipilih. Tidak ada yang tahu. Semua gelap.

     Lalu, bagaimana Jerinx? Sedih, berduka, atau kecewa. Pasti, kalau boleh jujur. Tetapi, semangat perjuangan menolak reklamasi masyarakat Bali, Jerinx khususnya tiada ada kata putus. Setidaknya, lewat twitter-nya, Jerinx terus menyuarakan perjuangannya.

     Dari beberapa media mainstream, seperti cnnindonesia.com (10 Juli 2018 dan 20 Desember 2018), jabar.tribunnews.com ( 21 Januari 2019), detik.com (22 Desember 2018), bagaimana Jerinx terus me-mention medsos milik presiden dan menteri kelautan Susi Pudjiastuti. Media lainnya, semacam brilio.net dan mongabay.co.id turut memberitakan hal tersebut. Mongabaya.co.id, tercatat malah yang pertama mengunggah, tepatnya 12 September 2014 dengan judul : Jerinx SID : Jokowi Harus Batalkan Reklamasi Teluk Benoa.

      Menariknya, dalam permintaan kepada Jokowi sejak 2014, usai presiden dilantik, hingga sekarang, suara keras Jerinx tidak berhenti. Masih sama, protes yang keras. Tujuannya, satu, menolak reklamasi dan membiarkan Teluk Benoa seperti sebelumnya. Perlawanan menolak reklamasi terus disuarakan, baik melalui instagram maupun twitter oleh Jerinx. Ia juga mencurigai Menteri perKelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang tak mau mengundang SID setiap ada acara bertema lingkungan di Bali. Bahkan, medsosnya diblok dengan Menteri Susi, usai mereka debat panjang dan keras. Sindiran keras atas blok yang dilakukan menteri juga cukup memerahkan telinga.

       Kritik Jerinx juga meluas, termasuk tidak akan berpartisipasi pada pemilu nanti alias golongan putih (golput). Ini dinyatakan lewat akun Instagram pribadinya, yang tak akan memberikan suaranya pada Pilpres 2019 mendatang. menurutnya, siapapun yang terpilih jadi presiden mendatang, akan tetap sama-sama disetir investor. Termasuk ia berterima kasih pada presiden dan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti. Karena, ia sempat memiliki harapan jika dengan memberikan suaranya pada Pilpres 2014 lalu, bisa membawa perubahan bagi Indonesia.

"Terima kasih mas Jokowi dan bu Susi. Kalian membuat saya makin yakin untuk tidak yakin. Kalau kita golput maka orang-orang jahat akan menang? Saya sempat mencoba percaya teori tersebut. 2014, untuk pertama kalinya, bersama saudara-saudara di SID saya tidak golput. Konsekuensinya, SID kehilangan hampir 50% fanbase kami. Kami pikir, gapapa kehilangan fans utk kebaikan yg lebih besar bagi umat manusia.

4 tahun kemudian. Hasilnya? 0 besar. Teluk Benoa masih terancam. Fasime, radikalisme masih subur. Ras minoritas tetap dijajah. Petani dan aktivis masih diintimidasi. Belum lagi kasus Papua dan lain-lain. Intinya, selama korporat masih danai para capres, we are not going anywhere.

2019 akan jadi tahun yang keras. Elit politik tentu tak akan merasakannya. Namanya juga elit. Saya, kamu, keluarga saya, keluargamu, kita semua yg akan merasakannya. Semoga kita masih diberkati kekuatan utk terus bersatu; sebagai rakyat, sebagai manusia, sebagai cinta

#2019tetapbertarung

Ia juga menambahkan agar di tag ke presiden dan menterinya.

Monggo tag @jokowi & @susipudjiastuti115. Terima kasih," tulis Jerinx.

Turunnya Elektabilitas

     Bali menjadi lumbung suara PDIP, partainya Jokowi. Ini sudah bertahun-tahun, dan akan selalu begitu. Dengan catatan, tidak ada kejadian yang menorehkan luka masyarakat Bali. Nyatanya, pada pemerintahan yang dipimpin Jokowi, setidaknya ada dua hal yang menimbulkan kekecewaan yang mendalam.

     Pertama, diberikannya remisi pada pembunuh jurnalis Prabangsa (Radar Bali), yaitu Susrama. Ia yang dijatuhi hokum seumur hidup, kini mendapat “pengurangan” hukuman menjadi 20 tahun. Itupun sudah dijalani selama 10 tahun. Tinggal 10 tahun, dan mestinya kurang dari itu, karena kemungkinan akan ada pengurangan demi pengurangan setiap tahun, dengan alasan berbuat baik selama di tahanan.

     Kedua, tidak kunjung jelasnya nasib penolakan reklamasi Teluk Benoa pada pemerintahan ini. Padahal, sudah dijanjikan akan mendapat kabar baik, setidaknya dengan dimintainya informasi mengenai penolakan Teluk Benoa oleh masyarakat Bali.

     Dua kekecewaan yang dipastikan akan menggerus elektabilitas, di saat petahana bertarung mati-matian untuk mempertahankan dan menaikkan elektabilitas. Ya, semua ini merupakan akibat dari sikap yang tidak tegas dari pemerintah. Kekecewaan(kecewa) meluap, emosi membuncah. Marah, benci, kecewa menjadi satu, membentuk suatu emosi yang muncul poada hati masyarakat Bali saat ini.

      Emosi, dari pandangan psikolog adalah perasaan yang dimiliki setiap manusia, untuk menggambarkan apa yang dirasakan seseorang saat ada perubahan yang terjadi dalam kehidupannya sehari  – hari.  Secara etimologi atau asal bahasa, emosi diambil dari bahasa Latin yaitu ‘movere‘ yang artinya “menggerakkan atau bergerak”. Kata ‘Movere’ lalu ditambah dengan awalan ‘e’ yang artinya ” bergerak menjauh”.

        Pakar psikologi Goleman mendefinisikan emosi sebagai setiap kegiatan, pergolakan pikiran, nafsu, dan juga setiap keadaan mental yang dalam keadaan hebat dan sedang meluap – luap. Emosi merujuk kepada suatu keadaan pikiran yang khas secara biologis dan psikologis, juga adanya kecenderungan untuk mengambil tindakan berdasarkan perasaan tersebut. Pada dasarnya emosi adalah suatu dorongan untuk bertindak.

         Saat perasaan kecewa, dan seperti yang diungkapkan Jerinx untuk tidak mendukung pasangan Nomor 01 atau golput-entah pilihan apa nanti- dan sudah diungkapkan, tentu sangat berbahaya. Sebagai public figure, kekecewaan dan emosi yang meluap, tentu ada yang mengikutinya. Jumlahnya, pasti tidak sedikit. Apalagi, band yang selalu menyuarakan persoalan sosial yang ada di sekitar. Apalagi, Superman is Dead (SID) menorehkan prestasi dengan masuk tangga lagu Billboard Uncharted. Uncharted merupakan tangga lagu musik yang dipublikasikan Billboard. Tangga lagu ini akan tayang di majalah musik Amerika tersebut pada 29 Januari 2011 lalu. Semua band dari berbagai genre di penjuru dunia masuk dalam tangga lagu tersebut. Mereka yang masuk adalah para artis yang belum pernah tampil sekalipun di tangga lagu Billboard lainnya, tapi meraih popularitas dari media internet. Jumlah pengikut mereka di YouTube, MySpace, Facebook, Twitter dan situs jejaring sosial lainnya menjadi tolak ukur. Superman is Dead duduk pda posisi ke-23. Semua prestasi yang luar biasa di kelas dunia. Ya, SID merupakan band pergerakan (movement).  SID memiliki fanbase yang loyal dan militant.

       Pertanyaan yang selalu muncul, sampai kapan perjuangan mereka berakhir? Siapa yang akan menang, Jokowi (yang ditandai juga menyetujui reklamasi Teluk Benoa) atau masyarakat bali, khususnya Jerinx? Tiada yang tahu pasti. Yang pasti, semua ada efek yang nyata atas nama sebuah elektabilitas. Mari kita bersama-sama menunggu hasilnya. (***)

Heru Setiyaka, Praktisi Media