Home Bedah Berita Kebohongan Berseri Ala Presiden Indonesia

Kebohongan Berseri Ala Presiden Indonesia

461
0
SHARE
Kebohongan Berseri Ala Presiden Indonesia

Keterangan Gambar : foto ilustrasi debat diambil dari JPNN

Kebohongan demi kebohongan yang keluar dari mulut sang presiden. Ya, itu terjadi dalam debat kedua, Minggu Malam (17 Februari 2019), saat menangkal pertanyaan dari sang penantang, Prabowo. Sungguh menyesakkan, dan memalukan. Apalagi, semua pasang mata mengikuti, sembari mengkonfirmasi melalui mesin pencari google. Semua yang diungkapkan dulu kala, sesuai fakta atau tidak. Apa yang menjadi alasan sesuai kenyataan atau tidak, hoaks atau tidak. Semua bisa diketahui dalam sekejap.

     Soal kebakaran saja, dengan sombongnya sang petahana bilang dalam tiga tahun terakhir tidak ada kebakaran hutan. Saat mesin pencari data bekerja, pada 2018 ada 4.666,39 hektare (ha) lahan yang terbakar. Sebelumnya, 2017 ada 11.127,49 ha yang terbakar, 2016 ada 16.604,84 ha, dan 2015 ada 261.060,44 ha. Bahkan, greenpeace Indonesia melalui twitter-nya menolak statemen Jokowi. Isinya, Pak@jokowi tadi mengeluarkan statemen bahwa tidak terjadi kebakaran hutan selama tiga tahun terakhir. Faktanya? Sejak tragedy kebakaran hutan terbesar 2015, kebakaran hutan dan lahan terus terjadi setiap tahun hingga sekarang#DebatCapres. Telak dan menyakitnya, tetapi muka memang sudah terlalu tebal untuk memiliki rasa malu.

     Kebohongan berikutnya, soal impor jagung dan beras. Presiden bilang, impor jagung tahun 2018 sebanyak 180 ribu ton. Padahal, BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat impor jagung sepanjang 2018 sebanyak 737,22 ribu ton. Nilainya juga fantastis, US Dollar 150,54 juta. (Detik.com, Minggu, 17 Februari 2019)  Bagaimana bisa data bisa jauh dari BPS-yang juga lembaga pemerintah. Dari mana presiden mendapatkan ‘bisikan’ data yang tidak akurat tersebut.

     Juga impor beras, ia mengklaim impor beras turun sejak tahun 2014. Faktanya, impor beras sejak 2014 terus naik(kecuali 2017), di mana puncaknya justru terjadi tahun kemarin, 2018 yang mencapai 2,25 juta ton impor beras. Ini merupakan rekor impor beras selama 10 tahun terakhir, berdasarkan nilai dan volume (detik.com, Rabu, 16 Januari 2019).

     Demikian juga dengan sengketa tanah atau konflik agrarian. Selama tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK(2015-2017), terjadi 1.361 letusan konflik agrarian. Sementara tahun 2018, konflik lahan terkait infrastruktur dicatat sejumlah 16 kasus. (Diberitakan di kompas.com.)

     Ini baru sebagian. Belum lagi soal bagi-bagi sertifikat yang gratis, ternyata fakta di lapangan ada yang dikenai Rp 2 juta hinga Rp 3 juta per orang. Sungguh sangat ironis, antara fakta yang dipaparkan jauh begitu.

Kebiasaan Bohong

     Pertanyaan kita sebagai rakyat Indonesia, mengapa bisa presiden begitu pede dan meyakinkan bisa berbohong kepada rakyatnya. Padahal, jejak digital itu tidak bisa ditipu. Semua yang dikatakan di awal, sampai sekarang bisa dicari, berbohong tentang apa, di mana, kapan, saat sedang apa, kepada siapa, semua ada data-datanya. Tidak bisa mengelak. Namun, belum pernah sekalipun presiden meminta maaf atas kebohongan-kebohongan yang diucapkan. Apakah tidak ada yang mengingatkan, mungkin pertanyaan itu juga muncul di kepala Anda.

     Kebohongan sekali, mungkin wajar. namun tidak wajar bila kebohongan dilakukan terus-menerus atau compulsive lying, di hampir setiap perkataannya dan aspek kehidupannya. Seseorang yang berbohong berulang-ulang, biasanya dikarenakan kebiasaan dan latihan dalam sepanjang hidupnya. Satu kali berbohong, akan berbohong seribu lagi untuk menutup kehobongan yang dilakukannya.

     Mellissa Grace M.Psi, seorang psikolog menjelaskan, beberapa penyebab seorang melakukan kebohongan terus-menerus (compulsive lying). Antara lain :

  • Berbohong digunkanan sebagai bentuk pelarian dari tanggung jawab.
  • Berbohong digunakan untuk meningkatkan image atau konsep diri seseorang.
  • Berbohong merupakan mekanisme yang otomatis terjadi.
  • Berbohong dilakukan sebagai upaya untuk memperolah pengakuan sosial atau membentuk impresi dari orang lain.
  • Berbohong adalah suatu kebiasan sebagai bentuk akibat dari pengalaman masa kecil yang traumatis.
  • Berbohong digunakan subyek sebagai bentuk pengesahan atas keyakinannya.
  • Berbohong sebagai upaya untuk memperoleh penerimaan sosial.

     Lalu, menurut Anda, presiden melakukan compulsive lying karena apa, Anda sendiri yang bisa menilai. Karena, penilaian itu akan menentukan keputusan Anda memilih pemimpin bangsa Indonesia dalam lima tahun ke depan.

     Pertanyaan berikutnya, apakah compulsive lying bisa sembuh? Saat usia masih remaja, bisa diberi ‘perlakukan psikologis’ agar cepat sembuh. Namun, saat usia dewasa, besar kemungkinan sulit untuk bisa sembuh, karena sudah menjadi bagian dari karakter kepribadian.

Pilihan

     Di era transparansi dan era digital, di mana semua perilaku manusia bisa sangat jelas terbaca, jelas dilihat baik-buruk, dan jelas tergambar di hadapan kita, saat itulah diri kita diuji. Pilihan atas sebuah keputusan yang besar dan berarti bangsa ini diuji. Ada dua pilihan, meneruskan presiden melakukan kebohongan demi kebohongan lagi, atau malah menghentikannya. Kita harus memberikan kesempatan presiden untuk bercermin dan menata diri, dan memberikan kesempatan untuk beristirahat dulu. Mungkin, itulah pilihan yang terbaik, agar Presiden Jokowi cukup sekali periode memerintah.

     Sebagaimana pertanyaan, bukankah insfrastrukturnya dan hal-hal lain telah menunjukkan kinerja yang baik? Satu jawaban untuk itu, semua hal baik itu harus dilandasi juga dengan kejujuran dan bukan kebohongan. Satu kali berbohong, akan ada kebohongan lain yang muncul, untuk menutup kebohongan awal. Perbedaan mendasar antara Jokowi dan Prabowo hanya satu, Jokowi pernah membohongi Prabowo, dan Prabowo belum pernah (dan semoga tidak) membohongi Jokowi. Ini dalam konteks presiden dengan rakyat Indonesia. Terima Kasih.

Heru Setiyaka, Praktisi Media