Home Idea Komunitas Vespa dan Budaya Tolong-Menolong

Komunitas Vespa dan Budaya Tolong-Menolong

947
0
SHARE
Komunitas Vespa dan Budaya Tolong-Menolong

Keterangan Gambar : komunitas vespa saat menggelar touring bersama. foto diambil dari Komunitas.ID

Beberapa waktu lalu, saya dari Muntilan, Kabupaten Magelang menuju Yogyakarta. Saat itu, saya memilih naik sepeda motor jenis vespa. Sebuah vespa tua, milih istri saya, warisan dari orang tuanya. Biasanya, saya mengendarai vespa itu lancar, tanpa kurang suatu apa. Entah kenapa, saat itu, menjelang perbatasan Jateng-DIY, vespa tersebut ngadat.

     Segala upaya dan kemampuan saya kerahkan untuk menghidupkan mesinnya. Karena tidak mengetahui secara detail per-mesin-an vespa, akhirnya saya menyerah. Saya menuntun vespa dan mencari bengkel terdekat. Belum 50 meter menuntun vespa, tiba-tiba seseorang yang juga mengendari vespa berhenti. Ia menanyakan ada apa, dan menawarkan bantuan. Tanpa banyak kata, saya mengiyakan dan orang tersebut langsung mengotak-atik vespa. Tak butuh lama, akhirnya mesin vespa bisa hidup dan siap dikendarai. Tentu saja saya bersyukur dan berulang-ulang mengucapkan terima kasih pada sang penolong. Beruntung benar, hari itu, saya ditolong seseorang, hingga saya lupa menanyakan nama dan alamatnya.

     Betapa bodohnya saya, begitu gembiranya karena mesin vespa bisa hidup kembali dan saya sampai lupa menanyakan hal yang mendasar- nama dan alamatnya- meski sudah berulang berterima kasih. 

     Ya, di kalangan penggemar vespa atau komunitas vespa, kebiasaan saling menolong di jalanan itu hal yang lumrah. Bahkan, setiap pemilik vespa seperti memiliki kewajiban membantu di saat ada yang membutuhkan pertolongan. Setiap ada pengendara vespa, siapapun, yang mengalami permasalahan di jalanan pasti mendapat pertolongan. Entah kenal atau tidak, bagi yang tergabung dalam komunitas atau perorangan. Itulah satu keuntungan memiliki sepeda motor asal Italia tersebut.

Komunitas Vespa dan Prasangka Buruk

    Bicara tentang komunitas vespa, yang muncul dari kepala kita adalah penilaian negatif. Ini tidak sepenuhnya salah, apalagi pengalaman berpapasan dengan sekelompok pengendara vespa ala gembel, atau dikenal sebagai Rat Scooter. Kalau orang lain lebih memilih memamerkan kemewahan dan kerapian, sekelompok ini justru pamer kegembelan. Mereka umumnya mengendarai vespa rombeng tahun 1980-an atau 1995-an yang dimodifikasi sesuka hati hingga bentuknya aneh-aneh. Ada yang mengganti setang vespa dengan setang tinggi menjulang. Mereka menyebut model ini sebagai vespa setang monyet. Sekilas memang, pengendaranya terlihat seperti monyet yang sedang menggelayut di batang pohon. Lain pula dengan mereka yang menambahi gerobak di samping vespanya. Ada pula yang menceperkan dan memanjangkan badan vespa hingga bermeter-meter. Kelompok ini umum disebut vespa long.

     Komunitas mereka mudah dikenali. Biasanya, masyarakat yang melihat kebanyakan berprasangka negatif. Teori tentang prasangka (prejudice) bisa berkonotasi positif (praduga tak bersalah) maupun negatif. Prasangka (negatif) merupakan persepsi yang bias, karena informasi yang salah atau tidak lengkap, serta didasarkan pada sebagian karakteristik kelompok lain, baik nyata maupun hanya khayalan. Dalam kehidupan, setiap individu selalu berusaha mengidentifikasikan dan mendefinisikan diri berdasarkan kelompok sosialnya. Ini ditegaskan D.G. Myers dalam karangannya Social Psychology (1999), sehingga timbullah identitas sosial. Untuk sampai ke identifikasi dan definisi diri tersebut, tentunya ada proses tertentu. Myers menambahkan, ada tiga hal yang dilakukan manusia dalam proses tersebut. Yakni, (1) kategorisasi, dengan menggolongkan berbagai hal yang dianggap mempunyai karakteristik yang sama dalam satu kelompok, bisa berdasar ras, etnik, agama, status sosial, dan lainnya. Berikutnya (2). Identifikasi. Yakni, memasukkan dirinya ke dalam satu kelompok yang sudah diimaginasikan sendiri dan terakhir (3). Membandingkan. Bagi seseorang, ingroup tentu akan diasosiasikan sebagai kelompok yang lebih menyenangkan, lebih baik, dan lebih positif, dibanding anggota outgroup. Tiga hal tersebut akan selalu ada.

     Kembali ke komunitas vespa, kurangnya kita berinteraksi atau ketidaktahuan budaya mereka menimbulkan prasangka buruk tersebut. Kita memandang komunitas itu berbeda. Saat informasi minim terhadap sebuah komunitas lain, kebanyakan yang muncul adalah stereotype. Menurut Pakar Psikologi Sosial, Robert S. Feldman (1995), terbentuknya stereotype disebabkan kategorisasi sosial yang merupakan upaya individu untuk memahami lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, saat individu menghadapi sekian banyak orang di sekitarnya, ia mencari persamaan-persamaan antara sejumlah orang tertentu dan mengelompokkan mereka ke dalam satu kategori. Bisa jadi, dalam proses itu ia melakukan persepsi sosial, karena tidak seluruh individu dalam kategori sosial tertentu mempunyai sifat-sifat dari kelompoknya.

    Intinya, stereotype memang berhubungan dengan prasangka. Yakni, prasangka mengaktifkan stereotype dan stereotype menguatkan prasangka. Dalam kasus komunitas vespa, seperti itu prasangka dan stereotype yang terbentuk.

Satu Vespa, Sejuta Saudara

    Bila dilihat lebih dalam, sebenarnya solidaritas di antara komunitas vespa cukup tinggi. Saling membantu di antara mereka saat ada berbagai kejadian di jalan, seperti macet, rusak, mogok, atau masalah lain menjadi bukti. Bagi mereka, solidaritas sosial merupakan tindakan yang membangkitkan semangat hidup. Jadi, bukan hanya sekedar perasaan kasihan, namun tidak ada tindakan nyata.

    Banyak yang berasumsi, solidaritas sosial komunitas vespa lebih tinggi dibandingkan dengan komunitas sepeda motor lainnya. Karena, sebagian besar anggotanya dari kalangan orang tidak mampu. Mereka merasakan kehidupan mereka sama-sama susah, sehingga muncul perasaan senasib sepenanggungan. Terlebih bagi kalangan Rat Scooter alias vespa gembel. Di dunia nyata, mereka sering kali dipandang sebelah mata. Pemilik Rat Scooter kerap diabaikan dan dipinggirkan. Nah, lewat vespa gembel mereka menciptakan ruang ekspresi sendiri dan merebut perhatian orang lain. Lewat kegembelannya, mereka menyelipkan semacam demokrasi di jalanan. Jalanan yang digunakan orang-orang kaya memamerkan mobil dan motor mewah, harus juga menjadi ruang bagi rakyat jelata berkantong kecil. Kebanyakan penggemar vespa gembel berasal dari kelompok menengah ke bawah. Umumnya, mereka pengangguran, mahasiswa, atau buruh serabutan. Namun ada pula yang berprofesi sebagai seniman, guru, atau pemilik bengkel.

    Lain vespa aliran gembel, ada juga vespa dengan aliran Mods. Kelompok ini memiliki perbedaan 180 derajat dengan yang pertama. Mereka menggabungkan vespa dan fashion, yang memunculkan keanehan, unik, dan mencuri perhatian. Vespa kendaraan yang dikategorikan jadul (jaman dahulu) di kendarai seorang berdandan modis, rapih, dan trendy seperti seseorang yang akan ke pesta. Ini merupakan salah satu ciri Mods, seorang yang fashionable berkendara vespa.

    Dua aliran di atas hanyalah contoh. Masih banyak aliran yang ada, termasuk classic dan matic (terbaru). Namun, semua pengguna vespa di manapun berada adalah sama. Di antara sesama pengguna vespa akan diperlakukan sama tanpa ada diskriminasi.

    Komunitas vespa ada di lebih dari 200 negara. Cukup unik, Indonesia memiliki komunitas vespa terbesar kedua setelah Italia. Vespa masuk ke Indonesia tahun 1960. Di Indonesia banyak sekali komunitas vespa. Mereka tersebar dari Sabang sampai Merauke. Walaupun umur, pekerjaan, dan jenis vespa yang dikendarai berbeda-beda, komunitas vespa ini selalu menjunjung rasa solidaritas sesama penggunanya. Mereka memiliki slogan “Satu Vespa Sejuta Saudara.” Slogan pemersatu ini menjadikan mereka kompak ketika bertemu di jalan. Walau mereka tidak saling mengenal, ketika melihat ada sesama pengendara vespa yang mogok di jalan, si pengendara vespa yang lain akan berhenti untuk menawarkan bantuan. Ketika berpapasan di jalanan, mereka akan saling menegur sapa dengan membunyikan klakson atau sekedar melempar senyuman.

Budaya Tolong-Menolong

    Kalau kita menarik ingatan ke beberapa tahun silam, akan jelas terlintas dalam kepala bagaimana budaya tolong-menolong cukup subur dalam masyarakat Indonesia. Terutama bagi mereka yang lahir di pedesaan. Budaya saling menolong selalu hadir dalam setiap sendi kehidupan, dengan segala bentuknya. Saat ada yang mau menikah, tetangga beramai-ramai menyiapkan segala hal, mulai dari pra-acara, pas acara, hingga pasca-acara. Saat ada kematian, tetangga tidak perlu dipanggil, sudah berdatangan, membantu yang tengah dilanda kesedihan, termasuk menyiapkan lubang bagi jenazah. Ketika ada yang akan merenovasi rumah atau membikin rumah, semua tetangga sigap, cancut tali wondo, bekerja membantu mereka yang membutuhkan. Bahkan, pekerjaan di sawah, mulai menanam hingga panen, semua dikerjakan dengan konsep tolong-menolong. Satu waktu, seseorang yang dibantu, di lain waktu, ia akan menyingsingkan lengan membantu tetangganya. Semua sektor, semua hal, urusan rumah, urusan sawah (pekerjaan), urusan sosial, hingga urusan pemerintahan-misal saat akan mengurus administasi ke kelurahan- pasti mendapat bantuan dari mereka yang berpengalaman soal itu. Semua dilakukan tanpa ada bayaran alias gratisan. Semua dilakukan bergantian, tanpa merasa mendahului, atau didahului. Semua kompak dan rukun.

    Bagi masyarakat Jawa, tolong-menolong itu mempunyai istilah sendiri, yakni sambatan. Entah kenapa dan bagaimana awalnya istilah itu muncul, saya tidak tahu. Namun, istilah itu begitu membekas dan akrab di telinga, saat itu. Sambatan berasal dari kata sambat, yang berarti mengaduh. Sebagaimana diceritakan dalam buku Gunungkidulan, Gunungkidul: antara Manusia, Arkeo-Narasi, Kosmologi, dan Mitologi (2018), karya Wonggunung (nama samaran), mengatakan, sambatan merupakan gambaran relasi horizontal dalam vertikalitas, territorial yang selestial, kebumian yang kelangitan. Karena, sambatan manusia, tidak hanya pada sesama manusia, namun juga permintaan (mengaduh) pada pemilik jagat alam raya. Sambatan yang dilakukan tidak hanya kepada keluarga satu darah, namun keluwarga (keluarga) berupa tetangga, teman, yang telah dianggap sadulur (saudara-satu darah). Untuk ukuran minta tolong (sambatan)  ini, memiliki ukuran masing-masing, sehingga tidak diketawai oleh sanak saudaranya.

     Contoh dari sambatan ini, saat akan merenovasi (atau membuat) rumah. Zaman dahulu, rumah terbuat dari pagar bambu atau kayu. Tetangganya menyiapkan tempat mendirikan rumah (pondasi), menyiapkan kerangka rumah (hingga atap), dan mendirikannya, termasuk memasang pagar tembok dari anyaman bambu (kayu). Semuanya dikerjakan bergotong-royong, dan digilir, agar tetangganya tidak terganggu pekerjaannya. Contoh sambatan lain, saat menanam tembakau, dari macul hingga menanam bibit tembakau dilakukan bareng-bareng, pada sore hari sehabis salat dhuhur. Pada kasus lain, saat ada kematian, persiapan memandikan jenazah, membuat keranda (saat itu belum ada keranda permanen seperti sekarang ini), lubang kuburan, dan memberangkatkan jenazah dilakukan tetangganya bersama-sama. Berbeda dengan sekarang, di beberapa tempat untuk bedah bumi membuat lubang jenazah saja sudah dilakukan ahli khusus. Di berbagai kasus dan banyak daerah, kerja sambatan banyak yang sudah hilang. Semuanya dikerjakan ahlinya (tukang) dan mendapat upah, disesuaikan kemampuan dan budaya daerah masing-masing.

   Kini, istilah sambatan itu tinggal kenangan belaka. Sekarang di zaman serba komputer itu, sudah tidak banyak yang melakukan. Bahkan, sudah mulai hilang. Bagaimana tidak, saat akan menanam hingga menuai padi, semua diburuhke (memanggih buruh dan mengupahnya), saat macul, juga sudah ada buruh macul. Saat memperbaiki rumah, semua dikerjakan tukang (ahli). Apalagi kini semua serba modern, genting khusus, rangka baja, tembok dengan batu bata ringan, yang hanya bisa dikerjakan ahlinya.

Berubah Bentuk

   Perilaku menolong menjadi ciri khas manusia sosial (homo social). Dalam setiap kesempatan, setiap individu akan berusaha menolong orang lain, saat dia melihat orang lain membutuhkan dan dirinya memiliki kemampuan untuk mengulurkan tangannya. Ini menjadi jamak bagi setiap individu di dunia ini.

     Budaya kompetisi sekarang ini, sedikit banyak melunturkan manusia untuk bergotong-rotong. Banyak alasannya yang muncul, entah sibuk, tidak ada waktu, atau alasan lainnya. Apalagi memiliki kekayaan yang mampu membayar budaya tolong-menolong tersebut. Ia merasa semuanya bisa diganti dengan uang yang dimiliki. Contoh budaya tolong menolong dalam menjaga keamaan lingkungan dalam bentuk ronda malam, sudah diganti dengan membayar satpam penjaga rumah dan lingkungan perumahan.

    Perilaku menolong sendiri, menurut Dovidio & Penner (2001) adalah tindakan yang bertujuan menghasilkan keuntungan terhadap pihak lain. Perilaku menolong itu dilakukan tanpa harus menguntungkan si penolong secara langsung. Bahkan, kadang menimbulkan resiko bagi si penolong (Baron, Byrne &Bracombe, 2006, dalam Sarlito Sarwono, 2009). Dalam perspektif  lain, menolong merupakan bentuk empati dari seseorang.

    Budaya menolong seperti yang digambarkan sesama pengguna vespa di jalanan tidak sendirian. Budaya menolong ini bisa dijumpai pada sesama sopir bus, antartruk pengangkut pasir, sesama tukang ojek online, atau mereka yang merasa memiliki persamaan, sama-sama menderita, sama-sama seperjuangan di jalanan, dan alasan lain.

    Pada era milenial ini, budaya tolong-menolong mulai hilang. Tidak peduli di desa dan perkotaan, karena faktor individual yang semakin kuat, menjadikan mereka tidak begitu aktif melakukan budaya tolong-menolong tersebut. Budaya sambatan yang cukup kental, juga hilang.

    Sejatinya, budaya prososial, yakni tindakan menolong orang lain tidaklah hilang. Apalagi manusia memiliki empati dan simpati yang selalu ada di dalam dirinya. Keberadaan simpati dan empati tersebut yang selalu ‘menyalakan’ seseorang untuk selalu siap membantu orang lain. Semua itu, berubah bentuk dan keberadaannya.

     Ingat bagaimana di Yogyakarta, ada media sosial (sosmed) Facebook (FB), muncul Info Cegatan Jogja (ICJ), yang anggotanya saling menginformasikan lokasi cegatan (operasi lalu lintas oleh polisi) seputar DIY. Kemudian, forum ini berkembang dengan informasi orang hilang, kehilangan barang, dan lainnya. ICJ juga diadopsi di berbagai kota di Indonesia.

    Contoh lain, pengguna twitter tidak asing dengan @e100Ss (Radio Suara Surabaya), yang menginformasikan cuaca, lalu lintas, sampai menjadi sumber informasi lost& found (kehilangan dan menemukan barang) di Kota Surabaya. Melalui Instagram dan Line, Teguh Andi menginisiasi tagar friendly Surabaya, untuk membantu turis asing yang kebingungan di Surabaya karena minimnya informasi berbahasa Inggris. Ini hanya sebagian saja, karena bentuk upaya pertolongan dan saling membantu di media sosial cukup banyak.

    Menurut Durkheim, bentuk budaya tolong-menolong merupakan kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif yang ada sudah tidak lagi berbentuk pertemuan fisik saja. Namun, juga sudah berubah dalam dunia maya. Namun, hakekat manusia yang membutuhkan bantuan orang lain tetaplah ada. Dan tolong-menolong itu akan tetap lestari, mengikuti pola kehidupan dan perilaku sosial masyarakat. ***

Heru Setiyaka,

Praktisi Media dan Mahasiswa Program Magister Psikologi Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta