Home Idea Korban Pandemi Corona dan Para Penuai Kebahagiaan

Korban Pandemi Corona dan Para Penuai Kebahagiaan

357
0
SHARE
Korban Pandemi Corona  dan Para Penuai Kebahagiaan

Keterangan Gambar : Para ibu ibu korban wabah pandemi yang membutuhkan sayuran bisa mengambil gratis-foto diambil dan milik Wien Tambo

Siapa korban dengan adanya Corona Virus Disease (Covid-19)? Tentu saja mereka yang terpapar langsung dan berakhir dengan dua fakta, meninggal atau sembuh. Selanjutnya, pertanyaannya, siapa korban tidak langsung akibat serangan Covid-19 atau lebih familiar dengan Corona? Tentu sangat beragam, karena hampir semua sektor terkena dampaknya. Beberapa bagian dari mereka bahkan tidak lagi bekerja alias kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Pertambangan, perkebunan, pertanian, perdagangan, jasa, dan lainnya hampir lumpuh. Di satu sisi, adanya kebijakan dari pemerintah seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) adalah sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus berbahaya tersebut. Di sisi lain, dampaknya begitu dasyat. Sebuah pilihan yang dilematis.

     Korban-korban pandemi yang harus dibantu cukup banyak. Terutama mereka yang harus memenuhi kebutuhan dasar, yaitu makanan. Banyak warga masyarakat untuk kesehariannya sudah susah pada kondisi normal. Saat kehadiran Corona seperti sekarang ini, mereka semakin terjun dalam kepedihan dan kesedihan. Kelompok-kelompok seperti mereka-lah yang patut disodori pelampung berupa bantuan sosial.

     Mengharapkan dari pemerintah? Itu salah satunya, dan bukan satu-satunya. Saat kondisi pada keadaan buruk seperti ini, untuk memberikan bantuan tidaklah harus menunggu kehadiran pemerintah. Mereka yang harus ditolong sudah banyak yang dalam kondisi megap-megap.

     Beruntungnya, banyak dari sebagian masyarakat Indonesia yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Baik dengan dikoordinasi atau tidak, tanggap darurat yang insidental atau berkesinambungan, beberapa lapisan masyarakat mengulurkan tangan memberikan bantuan. Semua tentu mempunyai tujuan sama, agar tidak ada saudara se-bangsa dan setanah air yang kesusahan.

     Dalam sebuah keluarga, seorang ibu tentu yang paling mumet menghadapi kondisi yang serba menyesakkan ini. Ibu-ibu yang ada pada sebuah keluarga miskin, tentu pusing tujuh keliling untuk urusan menyediakan kebutuhan primer berupa makanan siap santap. Apalagi kondisi seperti ini, saat krisis keuangan hadir dan mencari bahan makanan sulit, mereka harus pandai-pandai mengatur agar semua bisa makan dan menikmatinya. Masih beruntung, bila bantuan datang. Bila tidak, meratapi nasib mungkin satu-satunya yang bisa dilakukan.

Kecil namun Bermanfaat

Kita tahu, jiwa sosial masyarakat Indonesia sebenarnya baik. Rasa gotong royong dan saling membantu, menjadi ciri khas rakyat Indonesia. Hanya karena modernitas dan ketamakan kapitalis yang membuat dua ciri khas rakyat Indonesia itu perlahan sirna.

     Ujian dari ciri khas sikap gotong royong dan saling membantu adalah saat kehadiran pandemi Corona ini. Mereka yang sedikit lebih baik dan mampu bertahan, mendapat tantangan untuk mau berbagi. Adakah yang mau berbagi? Tentu saja ada, dan jumlahnya tidak sedikit.

     Contohnya adalah Mas Wiwin. Pria bernama Arif Winarko , mantan wartawan Tabloid Cempa Suara Merdeka Group. Pria yang bekerja di sebuah LSM dan pemilik warung kopi Kopisantung ini bersama teman-temannya menggagas gerakan Sayur for Everyone (SEF). Gerakan sederhana ini dilakukan di Yogyakarta. Wiwin mengungkapkan, SFE tersebut murni gerakan sosial kemanusian dengan menggantungkan sayur mayor yang diperoleh dengan cara membeli langsung dari para petani di lereng Merapi. Kemudian, lewat proses sortir dan packing, sayur mayor tersebut didistribusikan dengan cara menggantungkan di titik-titik tertentu agar bisa dikonsumsi masyarakat umum secara mudah dan gratis di tengah pandemi corona. Dengan hastag #sejangkauan tangan, upaya kecil berbagi pangan untuk kemanusiaan itu diharapkan terus berjalan hingga wabah Corona menghilang. Wiwin menegaskan, gerakan tersebut berjalan berkat bantuan teman-teman dan para donatur yang mempercayainya. Selain bantuan tersebut terdistribusi bagi masyarakat yang membutuhkan, cara tersebut menjadi solusi bagi petani di lereng Gunung Merapi yang kesulitan menjual hasil pertaniannya.

     Lain wiwin, lain pula yang dilakukan dua perempuan ini, Tutik dan Riana. Di tengah ‘cuti’ tidak bekerja ini, mereka bergerak menyiapkan bahan makanan dan masker buat tetangga yang membutuhkan. Duo pekerja di bidang hospitality ini membungkus supermi dan bahan makanan lain dari uang yang mereka kumpulkan secara pribadi. Lalu, mereka gantungkan di depan rumahnya, dan dipersilahkan siapa saja yang membutuhkan. Program itu sendiri memang sudah berakhir dan mereka tidak melanjutkan, mereka juga tidak ‘jawil’ donatur dan hanya sekedar ingin meringankan beban tetangganya yang membutuhkan.

     Di belahan bumi lain, para ibu-ibu di Kecamatan Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur juga melakukan hal serupa. Endang Sri handayani, seorang guru bersama teman-temannya tergerak usai membaca berita mengenai para petani sayur di Kedungboto, Tumpang, Malang. Para petani yang bergabung dalam CU Sawiran banyak yang membagi-bagikan sayuran. Bahkan, sebagian dari sayur hasil sawahnya mereka buang. Pasar tidak menyerap hasil sawah para petani.

     Endang bersama teman-temannya terus mengumpulkan dana dan membeli sayuran tersebut. Selanjutnya, di tempat yang telah disepakati, mereka membungkus sayuran tersebut dan menyiapkan tempat khusus atau ‘cantelan’ sayuran. Para ibu-ibu tetangga atau yang tengah lewat bisa mengambil sesuai kebutuhan. Mereka hanya diminta mengambil secukupnya dan biar ibu-ibu lain bisa kebagian. Program ini tidak hanya berhenti selama lebaran saja. Mereka berkeinginan program sosial tersebut kontinu hingga wabah Corona berhenti.

     Sikap serupa dilakukan pemuda Bali, Ameer Brongtoari. Pria yang bekerja di bidang pariwisata ini sempat terhenyak melihat kenyataan wabah yang melumpuhkan industri pariwisata di Bali. Tentu saja, dirinya terkena dampaknya. Dia cukup tabah. Bahkan, dirinya tergerak untuk bertahan hidup. Ia menghidupi dirinya dengan menjual nasi bakar dengan merk Nasi Gurih Bakar Uda Am. Di sela berjualan itu, sebagian dari keuntungannya dia bikin nasi bakar dan diberikan pada korban pandemi Corona. Seiring berjalannya waktu, relasi, teman, dan para donatur ikut membantu dana. Sebagian dari dana tersebut dibuatkan nasi bakar dan didistribusikan pada mereka yang layak mendapatkan.

     Lewat laman Facebook-nya, Ameer mengungkapkan dalam waktu seminggu, Ayo Makan-nama usahanya- sudah menerima pesanan dan semua sudah dibayar lunas sebanyak 148 bungkus nasi bakar dari tiga orang dermawan untuk diteruskan kepada keluarga yang terdampak pandemi. Pendistribusian dilakukan sendiri olehnya. Seharian dia menempuh beberapa lokasi (tempat di Bali), mulai dari Ubung, Dalung, Monang Maning, Renon, Pemogan, Sanur, Tuban, hingga Tanjung Benoa. Ia merencanakan beberapa tempat yang akan disinggahi, seperti panti asuhan dan yayasan yang ada di wilayah Ubud, Kuta, dan Sanglah.

     Masih dari lawan FB-nya, Ameer sempat mengungkapkan isi hatinya. Agak panjang sih. “Orang kaya yang dermawan itu biasa. Orang yang masih kekurangan tapi dermawan itu baru sesuatu. Kabar gembiranya, spesies yang terakhir ini makin banyak jumlahnya di masa sulit seperti sekarang. Barusan nganter pesanan nasi bakar titipan seorang dermawan yang ingin berbagi rezeki dengan mereka yang terdampak pandemi. Tempat terakhir yang saya datangi, karena sudah malam adalah rumah sangat sederhana di satu sudut tersembunyi di Denpasar. Saya minta maaf karena sudah janji kirim 6 bungkus tapi hanya bawa 3, yaitu kelebihan jumlah kiriman hari ini. Jadi, daripada dibawa pulang lagi lebih baik di antar untuk yang sudah request dan lokasinya searah jalur pulang. Saya diajak masuk ke rumah si ibu, tapi saya tolak dengan alasan perjalanan masih jauh. (Lagian pula saya ngga mau berlama-lama menahan keluarga ibu yang ingin segera nyicip nasi gurih bakar bikinan Ayo Makan yang kelezatannya mulai jadi pembicaraan di beberapa komunitas di Bali). Lima menit setelah pamit, saya masih sibuk menyalakan starter motor yang rewel. Dari sudut mata kelihatan si ibu keluar dari rumahnya lalu ngetuk pintu rumah sebelah sambil bawa 1 bungkus nasi bakar. Pak De, ini ada nasi bakar. Mau ya?

     Aduh duh, manusia macam begini nih yang bikin kamu ingin meniru sifat Tuhamu yang ‘kalau kamu bersyukur, pasti akan Aku tamba nikmat-Ku buatmu.’

   Si ibu tinggal bersama suami dan 2 anaknya, dan mereka merasa cukup dengan makan 2 bungkus saja, jadi 1 lagi bisa dibagi ke tetangganya.

    Saya sadar nasi bakar ini mungkin nggak bisa mengenyangkan semua perut setiap hari, tapi setidaknya bolehlah ini jadi sedikit hiburan di saat hati belum tau besok mau makan apa. Saya senang dengan keputusan menjalani usaha baru ini, karena saya kembali bisa melihat orang lain gembira, meski sebentar.”

    Kisah-kisah heroik ini cukup menginspirasi. Upaya dan langkah mereka patut diapresiasi. Dan kisah-kisah semacam itu, masih banyak ditempat dan waktu berbeda. Semuanya dilakukan karena mereka meyakini, bantuan sedikitpun bagi orang lain yang membutuhkan sangat berarti. Mereka telah selesai dengan dirinya.

Menyebar kebaikan, Menuai Kebahagiaan

Manusia hidup itu hakekatnya adalah mendapatkan kebahagiaan. Iwan Setiadi Arif, seorang Psikolog dalam bukunya Pskiologi Positif (2016) mengatakan, kebahagiaan adalah tujuan akhir dari segala aktivitas, segala daya upaya, segala pergumulan dan perjuangan dalam hidup ini. Semua pasti sepakat, kebahagiaan adalah dambaan universal dari semua manusia di sepanjang sejarah hingga kehidupan masa depan.

     Aristoteles menyebutnya sebagai eudaimonia, yakni hidup yang dijalani dengan baik. Dalam pandangannya, hidup yang baik itu bukanlah hidup yang bergelimang kesenangan dan kenikmatan, melainkan hidup yang ditandai oleh kesadaran dan direfleksikan, sehingga berbuah makna dan kebijaksanaan.

     Sedangkan Seligman (2005) menemukan tiga faktor utama yang mempengaruhi kebahagiaan. Yakni, faktor bawaan atau secara genetik, situasi lingkungan (situasi kehidupan yang berubah-ubah dari waktu ke waktu), serta faktor voluntary activites atau kesadaran diri untuk memilih keputusan untuk bahagia tersebut.

     Apa yang dilakukan para insiator dalam mengulurkan bantuan tersebut bisa disebut sebagai voluntary activities. Dengan penuh kesadaran diri, mereka memilih bergerak untuk membantu sesama. Tujuanya adalah membuat orang lain mendapatkan kegembiraan.

     Kegembiraan yang dimaksud tentu sangat sederhana, bisa makan enak, tersedia bahan makanan untuk keluarganya, bisa memasak hari ini, tanpa memikirkan besok mau makan apa.

     Akibat dari bantuan yang datang, para penerima muncul emosi positif. Beragam emosi yang muncul, sebagaimana penelitian Barbara Fredrickson. Setiap emosi yang muncul dipicu persepsi yang hadir pda masing-masing penerima. Ada yang merasa bersukacita (joyful), rasa bersukur (gratitude) karena ada yang memberikan bantuan, rasa damai, tenang (serenity), minat (interest), harapan (hope), bangga (pride), gembira (amusement), terinspirasi (inspiring), takjub/terpesona (awe), dan cinta atau love.

     Bagi yang bergerak melakukan aksi sosial, mereka telah melakukan dua hal, yaitu melakukan perbaikan diri (drive for enhancement) dan membangun etos mandiri (drive for independent). Mereka melakukan perbaikan diri dengan membantu orang lain dan menyebarkan etos mandiri, baik dirinya maupun orang lain. Mereka memberikan inspirasi untuk bergerak tanpa menunggu bantuan dari negara. Negara hadir atau tidak, itu sudah tidak penting lagi.

     Para pelaku gerakan sosial adalah para penuai kebahagiaan. Mereka bisa merasakan kebahagiaan ketika langkah dan usahanya membuat orang lain bahagia. Mereka bisa ‘nempil’ bahagia dari mereka yang berbahagia saat uluran tangan datang. Bagi mereka tidak ada kata lain, selain membuat orang bahagia. Bagi kita, semoga tergerak untuk ikut gerakan sosial mereka. Semoga.

----------------------------------------------

Heru Setiyaka

Bekerja pada Sebuah Perusahaan Konsultan