Home Bedah Berita Mahatir Mohammad : Tak Ada Lobi dari Jokowi untuk Bebasnya Siti Aisyah

Mahatir Mohammad : Tak Ada Lobi dari Jokowi untuk Bebasnya Siti Aisyah

275
0
SHARE
Mahatir Mohammad : Tak Ada Lobi dari Jokowi untuk Bebasnya Siti Aisyah

Keterangan Gambar : ilustrasi diambil dari dunia kini.co.id

Siapa Siti Aisyah. Tentu kita bertanya, siapa perempuan berusia 27 tahun tersebut. Pekan ini begitu mengguncang pemberitaan dalam negeri.

      Ya, Siti Aisyah adalah perempuan yang telah menunggu proses hukum selama dua tahun. Ia diancam hukuman mati di pengadilan Malaysia, untuk dakwaan keterlibatannya dalam jaringan pembunuhan Kim Jong Nam, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Akhirnya, keputusan pengadilan menyatakan Siti Aisyah tidak terbukti bersalah. Dirinya tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut dan ia dinyatakan bebas. Semua senang.

      Rakyat Indonesia menyambut pembebasannya. Termasuk presiden yang mengklaim sebagai bagian proses bantuan yang dilakukan pemerintah RI terhadap WNI yang ada di luar negeri. Bahkan, klaim itu juga menyatakan bahwa sebagai keberhasilan dari upaya pemerintah melobi perdana menteri Malaysia saat ini.

Satu Suara Media di Indonesia

Pembebasan Siti Aisyah menjadi klaim keberhasilan presiden Jokowi. Semua bersuara dengan nada sama, sebagai bentuk usaha keras Jokowi membebaskan Siti Aisyah. Dalam laman berbagai media nasional, semacam tribunnews.com, tulisan itu kentara banget menyanjung Jokowi. Judulnya pun besar-besaran, Siti Aisyah Bebas, Besok Bertemu Jokowi. Warga Akan Sambut dengan Pesta (http://batam.tribunnews.com/2019/03/11/siti-aisyah-bebas-besok-bertemu-jokowi-warga-akan-sambut-dengan-pesta. Senin, 11 Maret 2019), di Kompas.com dengan judul : Siti Aisyah Bebas, Ini Kata Presiden Jokowi, Senin, 11 Maret 2019, (https://nasional.kompas.com/read/2019/03/11/19061431/siti-aisyah-bebas-ini-kata-presiden-jokowi).

     Di situs Detik.com, berita mengenai pembebasan itu juga lebih banyak lagi. Yaitu, https://news.detik.com/berita/d-4462652/siti-aisyah-bebas-jokowi-kepedulian-kita-untuk-wni-di-luar-negeri (detik.com Senin, 11 Maret 2019). Menkum HAM Yasonna Laoly juga ikut bersuara sama. Ia menyatakan, Pemerintah Indonesia melakukan upaya lobi pembebasan Siti Aisyah sejak dua tahun lalu. Dari era Perdana Menteri Najib Razak hingga kini dijabat Mahathir Mohamad. Menurutnya, langkah pemerintah merupakan proses yang panjang dalam membantu Siti Aisyah bebas. Ini sudah dilakukan dan kami sudah berkoordinasi dari PM Najib hingga sekarang Tun Mahathir," klaim Yasonna Laoly. (ada di detik.com, 11 Maret 2019 (https://news.detik.com/berita/4462573/lobi-pembebasan-siti-aisyah-dilakukan-sejak-era-najib-hingga-mahathir ).

       Tidak hanya Jokowi dan Menkum HAM yang ditanyai, media juga menanyai calon wakil presiden Ma’ruf Amin. Mantan Ketua MUI ini mengklaim sama, sebagai lobi pemerintah, tepatnya presiden Jokowi. Judul berita di vivanews.com, yaitu : Ma'ruf Amin Klaim Siti Aisyah Bebas karena Lobi Pemerintah (vivanews.com,  Senin, 11 maret 2019 dengan laman : https://www.viva.co.id/berita/nasional/1128981-ma-ruf-amin-klaim-siti-aisyah-bebas-karena-lobi-pemerintah). Dan Kepolisian Indonesia mengklaim sebagai peran hubungan bilateral Indonesia-Malaysia. Berita ini ada di tribunnews.com, (http://www.tribunnews.com/nasional/2019/03/11/siti-aisyah-bebas-dari-hukuman-mati-polri-singgung-peran-hubungan-bilateral-erat-indonesia-malaysia, diunggah pada 12 Maret 2019).

Bantahan Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad

Apakah benar pemerintah Indonesia melobi Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad? Ternyata semua itu hanya kabar bohong belaka. Setidaknya, Mahathir Mohammad menyangkal informasi tentang lobi pemerintah Indonesia dalam kebebasan Siti Aisyah. Dr Mahathir Mohamad telah membantah bahwa segala bentuk lobi dilakukan untuk mengamankan kebebasan Siti Aisyah Indonesia. Bantahan tersebut diungkapkan  Mahathir ketika ditanyai media saat konferensi pers di Parlemen, Selasa, 12 Maret 2019. Bantahan tersebut termuat dalam www.thestar.com, yang muncul hari Selasa, 12 Maret 2019 dengan judul: PM Denies Knowledge of Indonesia Government Lobbying in Siti Aisyah’s Freedom. (https://www.thestar.com.my/news/nation/2019/03/12/pm-denies-knowledge-of-indonesian-govt-lobbying-in-siti-aisyahs-freedom/).

     Lagi, menurut Dr Mahathir, pembebasan Siti Aisyah dilakukan sesuai dengan hukum. Keputusan pembebasan Siti Aisyah dibuat oleh pengadilan. Dia diadili dan dia dipulangkan. Jadi itu proses yang mengikuti hukum. Saya tidak tahu detailnya. Tapi, penuntutan bisa memberikan pembebasan tidak sebesar pembebasan, "kata Mahathir, dalam laman berita Thestar.com tersebut.

     Media dalam negeri yang memuat soal ini adalah kumparan.com. dalam situs ini, judul yang ditampilkan adalah PM Mahathir Bantah Dilobi Indonesia untuk Bebaskan Siti Aisyah (kumparan.com, Selasa, 12 Maret 2019).

Ada dengan Media Indonesia?

Media-media di Indonesia tampaknya sudah kehilangan ‘kedigdayaannya’. Hampir semua media menjadi corong dari pemerintah yang berkuasa, termasuk dalam kasus ini. Klaim sepihak atas upaya pembebasan Siti Aisyah, sebagai kerja keras dari pemerintah Jokowi langsung saja dimuat. Bahkan, tidak ada upaya konfirmasi terhadap pihak pemerintah Malaysia atau pengadilan Malaysia.

     Logika bahwa kebebasan dari dakwaan merupakan hasil lobi tentunya menciderai hukum itu sendiri. Klaim lobi untuk pembebasan adalah sebuah ketidakbenaran dalam logika pengadilan. Justru, pembela terdakwa yang harus menyajikan bukti-bukti bahwa terdakwa tidak salah. Apalagi lembaga hukum, yakni pengadilan adalah lembaga independen. Termasuk di Malaysia, Perdana Menteri Mahathir Mohammad pun mengakui tidak akan ‘berani’ mengintervensi pengadilan, menyangkut kasus Siti Aisyah.

Peduli dan Klaim Peduli

Ingat kasus yang menimpa TKI Wilfrida Soik? Saat itu, Prabowo Subianto dengan kemampuannya ikut memberikan bantuan pada Wilfirda Soik. Saat itu, Wilfrida Soik juga tersangkut kasus di Malaysia.

      Wilfrida Soik akhirnya selamat dari tiang gantungan yang mengancamnya. Berita soal ini masih bisa dilacak di detik.com, Selasa, 25 Agustus 2015 (https://news.detik.com/berita/d-3000407/dibantu-prabowo-tki-wilfrida-soik-selamat-dari-tiang-gantungan-malaysia), merdeka.com, Senin, 30 September 2013 (https://www.merdeka.com/peristiwa/4-cara-prabowo-subianto-selamatkan-wilfrida-soik.html), juga di republik online dan kompas.com.

    Kerja nyata dari Prabowo Subianto terbukti. Kemampuannya menunjuk pengacara handal menjadi salah satu kuncinya. Ia memilih Tan Sri Dr Muhammad Shafee Abdullah dan asistennya Ms Tania Scivett sebagai pengacara Welfrida. Kepedulian pada TKI yang ada di luar negeri juga diberikan pada mereka yang ada di Timur tengah. Pada Januari 2012, Prabowo juga berhasil memulangkan 300 TKW yang keleleran tidak terurus di KBRI Yordania.

    Coba bandingan dengan pemerintah sekarang. Yang ada adalah klaim semata. Satunya sudah bekerja keras dan berjuang secara nyata. Sedangkan satunya adalah berbentuk klaim ikut melobi untuk sebuah pembebasan. Itupun, yang dilobi menolaknya. Sebuah bentuk kebohongan yang nyata.

    Benar apa yang dikatakan Cawapres Sandiaga Uno, sebenarnya kasus TKI di negara jiran tidak perlu terjadi, seandainya mereka tidak bekerja di luar negeri. Apa yang mesti dilakukan? Tentu saja, membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Sebenarnya ini pernah dijanjikan oleh presiden Jokowi, saat pemilu 2014.  Kenyataannya, janji tinggal janji. Semua menguap seperti udara, dan tidak pernah terbukti dibukanya lapangan kerja secara luas. Ironi.

   Memang, apa yang dikatakan Voltaire tentu harus kita yakini kebenarannya. Yakni, Semua manusia sama; yang membedakan bukan keturunannya, tapi kebaikannya. (Les mortels sont égaux; ce n'est point la naissance, c'est la seule vertu qui fait leur difference). Dari dua kasus di atas, Anda tentu bisa membedakan mana yang peduli dan sekedar klaim peduli. Sebuah bantuan nyata dan sekedar retorika.

      Sebagai penutup, ingat apa yang dikatakan Jean-Paul Sartre, bahwa “Bagian terburuk dari dibohongi adalah mengetahui bahwa Anda tidak layak untuk mendapatkan kebenaran”. Dan tentu ini akan semakin meyakinkan Anda, siapa yang akan dipilih pada Pemilu nanti.

Heru Setiyaka, Praktisi Media