Home BukuKita Membaca Byar Menjadi Byur

Membaca Byar Menjadi Byur

245
0
SHARE
Membaca Byar Menjadi Byur

Keterangan Gambar : Cover Buku Byar

Judul Buku      : Byar: Membaca Tanda, Menulis Budaya

Penulis             : Marwanto

Penerbit           : Interlude Yogyakarta

Tahun              : Cetakan Pertama, Januari 2019

Xii + 162 halaman

ISBN               : 978-602-6250-59-9

 

Buku berjudul Byar: Membaca Tanda, Menulis Budaya, merupakan kumpulan tulisan dari penulis yang berserakan di berbagai media. Baik yang ada di buletin sastra Lontar yang diterbitkan Komunitas Lumbung Aksara Kulonprogo, maupun media mainstream yang ada di Indonesia. Penulis cukup cerdik dengan memilih judul Byar, sebagaimana sub judul kumpulan tulisan dari buku ini. Marwanto memang menulis dua sub judul di buku ini, Byar dan Esai-Esai yang Terserak. Byar, dalam bahasa Jawa berarti padang, terang, saat matahari muncul di ufuk timur memperlihatkan senyumannya, dan mulai memberi kehangatan pada makhluk di muka bumi. Sebagaimana matahari yang memberi kehangatan, tulisan-tulisan dalam sub judul Byar juga ingin berperan sama, pembaca diajak membaca dan mendapatkan kehangatan pikiran, tercerahkan (enlighting). Tercerahkan di sini, adalah menemukan kesegaran baru, atau meminjam istilah orang Jawa adalah sehabis byur (mandi), menemukan kesegaran. Namun, kesegaran tidaklah hanya sebatas fisik, namun pikiran dan perasaan yang menemukan kesegaran, usai mendapat aufklarung (pencerahan). Tentu saja, penulis tidak ingin membuat pembaca berpikir berat, dan sebaliknya, pembaca secara tak sadar tercerahkan, tanpa merasa digurui. Biasanya, secara psikologis, saat seseorang diberi penyadaran, namun ada kesan ‘menggurui’ yang ada adalah penolakan. Ini tidak akan ditemui pembaca, setiap menikmati tulisan-tulisan budaya mantan anggota KPU Kulonprogo ini.

     Pada sub judul Byar, penulis memasang 20 tulisan pendek (essai). Isinya beragam, kritik, sindiran, kekecewaan, ngudo roso, dan lainnya, terhadap kondisi yang berlangsung saat itu. Semua dilihat dari ‘mata batin’ penulis, tanpa pretensi untuk memperkeruh keadaan. Jadilah tulisan renyah, mudah dipahami, dan syarat bungkus budaya. Coba disimak, pada judul Rahasia, penulis sampai menulis kritik dan kekecewaannya dengan menyamakan SBY dengan Soeharto. Tentu saja, ia menulis dengan cukup menarik, Memang SBY bukanlah Soeharto. Namun maafkan saya (rakyat jelata yang jauh dari Jakarta), kalau akhir-akhir ini sulit membedakan keduanya. Ya, barangkali karena ada sesuatu yang rahasia di balik sosok mereka. Entahlah, namanya juga rahasia. (halaman 16).

     Di halaman lain, dalam judul Bangun (halaman 35), ia pandai membuat kiasan mengenai negeri ini. Marwanto menyamakan bangsa ini dengan tatal (serpihan kayu di dunia pertukangan), mendekati sampah dan layak dibuang. Namun, di judul yang sama, ia mengingatkan agar ada kesinambungan antara bangkit dan bangun. Bangsa ini maunya bangit, sejatinya belum bangun. Padahal, kalau sudah bangun, apapun yang dilihat terasa indah. Ngudo roso pun, ia tuangkan dalam judul Akar, bercerita bagaimana kiai panutannya, Kiai Noor Hadi mengajak berdiskusi tentang ‘radikalisme’ pandangan keagamaan, tanpa menyentuh soal politik.

     Pada Esai-Esai yang Terserak, penulis cukup jeli melihat banyak hal terkait kebudayaan. Bagaimana ia membahas counter culture, culture freak, atau counter subculture secara lugas. Dari tiga hal tersebut, manusia sesungguhnya selalu berinisiatif. Dalam bahasa seni budaya, disebut kreativitas, dan disebut rekayasa saat dilihat dari kacamata politik. Akan berbeda lagi, saat dipandang dari sisi bahasa ekonomi, yaitu produksi.

     Sindiran dan kritik juga muncul saat menengok kebudayaan lokal. Kegelisahan dari kebudayaan lokal dirasakan mengalami sepi dan stagnan. Sejatinya, semua itu karena kurang bergaung di media mainstream yang ada. Di tingkat pelaku kebudayaan lokal, mereka masih berkarya, mesti tidak ada pemberitaan mengenai kegiatan tersebut.

     Tidak semata menyindir, mengkritik atau kekecewaan yang lantang, penulis yang pernah aktif sebagai komisioner KPU Kulonprogo ini juga menyisipkan ajakan untuk optimistis. Ia beranggapan, kondisi sekarang ini jangan menjadi pesimistis, justru lebih aktif bekerja keras untuk menjalani ujian. Dalam keterpurukan ini, kita perlu mencanangkan “perlawanan kultural.” Tentu saja, tidak asal bergerak, namun perlunya melakukan dialog sampai matang yang melahirkan dasar pijakan dan strategi. Tanpa penanganan yang komprehensif niscaya konsep perlawanan kultural hanya akan tampak gagah dalam lintas wacana, namun nol besar dampak dan realisasinya di lapangan.(halaman 69).

      Tulisan dalam sub judul Esai-Esai yang Terserak, berisi 27 tulisan, lebih panjang dan mendalam dibanding sub judul sebelumnya. Semuanya berisi keresahan-keresahan dalam diri penulis, menyangkut budaya, kebudayaan, dan kehidupan sekitarnya. Kehidupan seniman dalam berkarya tidak lepas dari sentuhan esai-nya. Salah satunya, almarhum Hadjid yang memilih nama pena Hendrasmara. Juga ada nama lain, Adjib Hamzah, dan lainnya. Tulisan mengenai seniman-sastrawan tidak berhenti di situ. Ia menyentil adanya sastrawan pusat dan pinggiran, istilah yang merujuk pada sastrawan yang sering muncul di media mainstream atau tidak. Kenyataanya, semua itu tidak menjadi jaminan, setidaknya menurut penulis. Ia beralasan dari fakta bahwa cerpen-cerpen Umar Kayam akan tetap dihormati, tak peduli ia tinggal di New York, Jakarta, atau Yogyakarta. Novel-novel Ahmad Thohari akan tetap bagus, kendati ia tinggal Banyumas. Demikian pula, puisi-puisi Umbu Landi Paranggi akan tetap disegani, baik ia tinggal di Yogyakarta atau Bali. Juga karikatur GM Sudharta (almarhum), akan tetap menggelitik banyak orang, meski ia (dulunya) “nyepi” dan pulang kampong bermukim di Klaten.(halaman 97).

     Paparan mengenai dunia sastra, dalam buku Byar ini, memang berputar-putar pada sastra daerah, sastra Yogya, dan semua hal yang ada di lingkungan hidup sang penulis. Bagi pembaca buku, pembaca awam, harus berpikir keras untuk memahami lebih detail, saat tulisan-tulisan menyinggung semua itu. Demikian juga pilihan kalimat yang harus dimaknai lebih dalam, bahasa sastra dari tulisan tulisan yang dipilih penulis seringkali harus dibaca berulang agar tidak salah mengartikan makna di baliknya. Semoga saja, setelah membaca buku ini, bisa ikut menulis budaya. (***)

 

Heru Setiyaka

Mahasiswa Program Magister Psikologi Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta