Home BukuKita Membaca Cerita Anak, Cerita Satwa Langka Dunia

Membaca Cerita Anak, Cerita Satwa Langka Dunia

168
0
SHARE
Membaca Cerita Anak, Cerita Satwa Langka Dunia

Judul               : Cerita Satwa Langka Dunia

Oleh                : Yovita Siswati

Penerbit           : Penerbit Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, Jakarta

Tahun              : Cetakan kedua, Oktober 2016

152 halaman

ISBN              : 978-602-394-106-3

Salah satu tugas menjadi orang tua adalah bercerita. Cerita itu bisa d cukup langka dan dilakukan saat menjelang tidur atau di tengah bermain dengan anak-anaknya. Tidak heran, tugas mulia ini menjadi satu kewajiban yang harus dilaksanakan. Jika tidak, terasa kurang lengkap menjadi orang tua.

     Tidak semua orang tua mampu menjadi pencerita yang handal bagi anak-anaknya. Bisa jadi, ada masalah komunikasi antara orang tua dengan anak, atau faktor lain. Misal, orang tua yang pendiam atau tengah ada masalah dalam keluarga tersebut. Terlepas dari semua itu, anak tentu tidak mau penundaan dari orang tua untuk mendapatkan cerita yang menarik. Sebagaimana seorang marketing, harus tetap bisa menjual dengan  senyuman lebar, meski di rumahnya ada masalah. Demikian juga sebagai orang tua, saat ada masalahpun, ia harus bisa bercerita dengan riang pada anaknya. Mudah teorinya, namun praktiknya sulit.

     Buku cerita anak dengan berdasar dunia satwa berbahasa Indonesia tidak banyak ditemui di toko buku. Salah satu yang bisa dipilih adalah buku ini, berjudul Cerita Satwa Langka Dunia, oleh Yovita Siswati. Buku terbitan Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia Jakarta ini memiliki ketebalan cukup, 156 halaman.

    Dalam buku ini, ada 10 tema atau 10 satwa langka yang ada di dunia. Apakah hanya sejumlah itu, hewan langka di dunia? Tentu tidak bukan. Ada ratusan atau ribuan hewan langka yang ada di planet bumi ini. Baik yang ada di daratan atau di air, air tawar maupun air tawar. Sepuluh jenis satwa langka itu hanyalah contoh. Adapun pilihan ke-10 satwa langka tersebut, juga berdasar dari pilihan penulis. Menariknya, meski dibuat dengan model cerita, dengan karya berbentuk cerita komik, setiap selesai masing-masing cerita itu ditutup dengan fakta-fakta seru mengenai satwa yang bersangkutan.

    Ke-10 binatang itu adalah diawali cerita mengenai Burung Kasuari, dilanjut Penguin, Burung Unta, Tapir, Paus Biru, Ikan Pari Manta Raksasa, Hiu Kepala Martil, Belalang Ranting, Kumbang Pengebom, dan diakhiri Lalat Penari.

    Cerita pertama mengenai Burung Kasuari. Bintang ini dikenal sebagai burung pemalu, bernama Cassie. Burung ini selalu bersembunyi saat bertemu binatang lain, terlebih bertemu manusia. Ia berusaha menyembunyikan diri, di antara semak dan pepohonan. Bisa jadi, kalau kepepet, ia akan menyerangnya. Faktanya, Burung Kasuari tinggal di Papua dan Australia. Burung ini dikenal sebagai burung yang hidup menyendiri dan saat berlari bisa mencapai 40 kilometer per jam, setara dengan  kecepatan sepeda motor. Burung ini tidak bisa terbang dan mampu melompat hingga dua meter. Saat ini, keberadaan burung ini bisa dikatakan cukup langka dan merupakan burung yang dilindungi.

     Berikutnya, penulis mengisahkan seekor penguin, bernama Pongpong yang mendapatkan pasangan bernama Pingping. Saat Pingping bertelur, Pongpong akan menjagakan telurnya hingga menetas. Penguin tinggal di belahan bumi bagian Selatan dan tinggal dalam kelompok. Burung ini berkumpul dan saling berdempet-dempetan, agar bisa menghangatkan satu sama lain. Penguin termasuk jenis burung dan tidak bisa terbang. Mereka menggunakan ekor dan sayap untuk menaga keseimbangan saat berjalan. Saat mengerami telurnya, penguin bisa kehilangan berat badannya hingga setengahnya.

    Pada tulisan ketiga, penulis berkisah mengenai Burung Unta yang berleher panjang. Burung ini memang selalu mengunyah kerikil dan pasir, berbarengan dengan makanannya, karena tidak memiliki gigi. Burung ini berasal dari Afrika, dan termasuk burung pelari tercepat di dunia. Biasanya, manusia memanfaatkan untuk dimakan dagingnya dan dilatih untuk menarik kereta.

   Tapir menjadi topik keempat oleh penulisnya. Cerita dari buku ini berkisah kehidupan Tapir yang ada di Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Asia Tenggara. Tapir merupakan hewan menyusui bertubuh besar dan berbelalai pendek. Belalainya berfungsi memegang atau memungut makanan serta memasukannya ke dalam mulut. Dalam sehari, seekor tapir bisa memakan tanaman seberat 40 kilogram. Binatang ini banyak mencari makanan pada malam hari atau pagi hari sebelum matahari terbit. Tapir termasuk hewan penyendiri (solitary animal) dan akan marah dan menyerang dengan cakar dan giginya saat diganggu.

   Saat kita masuk ke laut, ada satwa yang juga dilindungi. Yakni, Ikan Paus Biru. Ini menjadi topik berikutnya dalam buku ini. Paus Biru, atau oleh penulis menamakan si Willy, ternyata hanya makan udang kecil yang dinamakan krill, karena kerongkongannya sangat kecil. Paus Biru tidak memiliki gigi, dia hanya punya balin yang berbentuk seperti sikat. Nyanyian si Willy, bisa didengar dari jarak 1.600 kilometer. Paus Biru bernafas dengan paru-paru. Mereka harus sesekali muncul ke permukaan air untuk menghirup udara. Saat menghembuskan nafas, paus biru seakan-akan membuat tiang air setinggi belasan meter. Perburuan akan binatang ini membuat jumlahnya terus menerus menjadi sedikit  dan hampir punah. Karenanya, kita wajib menjaga keberadaan mereka.

   Mandy, itulah nama yang disematkan pada ikan Pari Manta Raksasa. Ikan ini tinggal di lautan tropis, dan ukurannya bisa mencapai lebih dari 7 meter. Ikan Pari Manta memiliki cara makan yang unik. Dia akan menelan semuanya, kemudian air yang tertelan akan dikeluarkan kembali melalui celah insang di bagian bawah tubuhnya, sedangkan makanan disaring oleh pelat khusus sehingga tetap berada di dalam mulutnya. Dalam sehari, ikan ini bisa makan 30 kilometer plankton selama berjam-jam. Ikan ini terus menyusut jumlahnya karena ditangkap manusia.

   Kemudian, ada Ikan Hiu Kepala Martil. Panjang badannya bisa mencapai 6 meter dan berat ½ ton. Di bagian bawah kepala, tersebar rangkaian pori-pori yang dapat mengirimkan sinyal-sinyal elektromagnetik untuk mendeteksi mangsa. Kemampua ini disebut electrolocation. Hewan yang suka tinggal di lautan tropis dan perairan hangat ini memiliki mulut kecil namun gigi-giginya sangat besar dan tajam. Beberapa di antara mereka cukup agresif, bisa memakan sesamanya saat lapar. Tak heran, mereka juga bisa menyerang manusia. Jenis hiu ini dilindungi. Sayangnya, manusia masih suka memburunya, karena menganggap sirip hiu sebagai santapan lezat.

    Masih ada tiga lagi yang dimuat dalam buku ini, yakni Belalang Ranting, Kumbang Pengebom, dan Lalat Penari. Sekilas memang terkesan hewan biasa dan banyak ada di mana-mana. Namun, masing-masing memiliki keunikan sendiri-sendiri. Belalang Ranting, ada di daerah tropis dan subtropis. Biasanya, bentuk dan warna belalang ini mirip ranting pohon. Saat ada bahaya datang, ia akan bergoyang-goyang, persis ranting yang ditiup angin. Binatang ini banyak cara untuk meloloskan diri. Bisa berpura-pura mati, berubah warna sesuai warna benda sekitar, khususnya ranting, mengeluarkan gas yang berbau atau melepaskan kakinya untuk mengelabui pemangsa. Persis cicak yang melepaskan ekornya. Nantinya, kaki yang copot itu bisa tumbuh lagi. Panjang belalang ranting terbesar bisa mencapai 30 centimeter.

     Kemudian, Kumbang Pengebom. Kumbang ini ada di seluruh dunia, kecuali antartika. Dalam keadaan berbahaya, ia bisa mengebom dengan mengeluarkan cairan dari perutnya seperti kentut. Kentut ini bunyinya keras, berbau busuk, dan panas melebihi air yang mendidih. Kentut dihasilkan dari campuran bahan-bahan kimia di dalam perut yang diracik di saat genting. Kumbang ini tak bisa terbang dan bisa berlari cepat untuk meloloskan diri dari sergapan musuh. Hewan ini berguna bagi pak tani, karena membantu memangksa hewan-hewan di ladang atau sawah. Terakhir, adalah Lalat Penari. Dinamakan begitu, karena suka membuat gerakan-gerakan seperti menari. Hewan ini senang di tempat lembab. Selain memakan serangga yang lebih kecil darinya, ia juga suka memakan sari bunga. Dalam mencari pasangannya, lalat penari melakukan gerakan bersama-sama atau satu kelompok besar lalat pejantan. Ini dilakukan pada senja hari, saat sinar matahari sudah tidak terlalu terang, supaya tidak mudah dilihat oleh manusia.

      Buku ini sangat bagus dikoleksi buat anak-anak. Selain gambar kartun dari masing-masing satwa yang berwarna-warni, ceritanya yang mudah dicerna, dengan pengandaian nama-nama dari satwa tersebut menarik si anak. Bagi orang tua, tulisan yang singkat memudahkan untuk membacakan bagi anak-anaknya.

        Sayangnya, buku ini hanya berisi 10 satwa. Bagi dunia anak, mungkin jumlah itu cukup. Namun bagi orang tua, jumlah itu terlalu sedikit untuk perbendaharaan ceritanya. Tentu saja, mereka butuh mengkoleksi buku sejenis, dengan beda satwa di dalamnya. Sebagai penutup, selamat mengkoleksi dan membacakan ceritanya untuk buah hatinya. (***)

Heru Setiyaka, Praktisi Media