Home BukuKita Mempelajari Lagi Agama Baru Masyarakat Milenial

Mempelajari Lagi Agama Baru Masyarakat Milenial

652
0
SHARE
Mempelajari Lagi Agama Baru Masyarakat Milenial

Keterangan Gambar : Buku Media Sosial : Agama Baru Masyarakat Milenial

Mempelajari Lagi Agama Baru Masyarakat Milenial

 

Judul : Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial

Penulis: Nurudin

Penerbit: Intrans Publishing Malang

Tahun : Cetakan Pertama, Desember 2018

Xviii + 184 halaman

 

Pertengahan awal tahun ini, masyarakat Yogyakarta digemparkan dengan polemik yang berkepanjangan. Yang dimaksud masyarakat di sini adalah mereka yang berada di dunia maya. Ini bermula dari laporan forum wartawan kepada kepolisian terhadap pemilik akun Facebook (FB) Presiden Info Cegatan Jogja (ICJ) Yanto Sumantri, dan ini menyebar terus-menerus di komunitas tersebut. Bahkan, di antara nada menyesalkan atas peristiwa tersebut, ada yang menyuarakan kesedihan, kemarahan, hingga muncul hujatan, bullying (perundungan) terhadap salah satu anggota tim advokasi dari forum wartawan tersebut.

     Kami tidak akan membahas persoalan tersebut dan berharap segera selesai secara damai (sudah berakhir damai, red), seperti karakter masyarakat Yogyakarta yang cinta damai. Namun, ada pelajaan berharga dari semua itu, pelajaran buat semuanya, bahwa bijak di media sosial ternyata belum sepenuhnya ada dalam diri masyarakat kita.

     Belajar dari situ, kehadiran buku berjudul Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial, yang ditulis dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nurudin ini patut diapresiasi. Setidaknya kumpulan tulisan-tulisan beliau yang tersebar di berbagai media ini seakan mengingatkan, bahwa agama baru yang dianut kaum milenial ini sepatutnya dimengerti, dipahami secara benar dan menyeluruh, agar tidak ada lagi goncangan di masyarakat. sebuah pengertian yang tidak tepat atau tidak benar, begitu disebarkan yang muncul adalah persepsi salah.  Persepi salah yang menyebar kontinu, akan memunculkan sebuah persepsi salah yang massif. Ini tentu tidak diharapkan semua pihak.  Karena sebuah pengertian yang salah sebenarnya bentuk lain dari hoax. Hoax yang diproduksi massal sangat berbahaya, menimbulkan fitnah baru dan merusak sebuah keserasian dan tatanan yang ada. Memang, perbedaan dalam alam demokrasi adalah hal yang wajar dan diberikan ruang yang luas. Namun, bukan berarti perbedaan itu menjadikan sebuah masyarakat tercerai-berai.

    Tindakan tabayun (melakukan koreksi dan mengecek kebenaran informasi) menjadi kunci dalam bertindak. Saat menerima informasi di media sosial, lalu melakukan sharing tanpa memeriksa terlebih dahulu adalah langkah awal yang salah. Memang, seringkali kita terbawa emosi, sehingga kontrol diri menjadi berkurang. Namun, mengulang kembali, memeriksa lagi, dan menahan diri untuk langsung menekan tombol share di media sosial, adalah solusi tepat. Itulah yang diingatkan dalam penulis.

     Buku yang terdiri dari enam bab ini ditulis dengan bahasa lugas dan mudah dimengerti. Penulis memilih bahasa  ilmiah populer khas media massa yang dikonsumsi masyarakat umum, dengan alasan akan selalu aktual pada suatu kasus tertentu yang sangat mungkin bisa muncul lagi di lain waktu. Dari enam tema yang dipilih, penulis cukup cerdik dengan memilah bagian demi bagian. Ia memulai dari bab pertama yang berisi mengenai hoax di era media sosial. Contoh nyata dari kasus hoax adalah digunakan untuk tujuan politis, mempertahankan dan merebut kekuasaan. Karenanya, tulisan di media sosial, tidak seharusnya dipercaya begitu saja, bisa jadi merupakan sebuah kebohongan dan berulang-ulang dengan dasar semangat kebencian. Pada kasus lain, penulis melihat fenomena Lambe Turah, dalam artian luas (halaman 15). Lambe Turah yang dimaksud bukan sekedar nama akun Lambe Turah saja, namun sejatinya kita adalah personal dari Lambe Turah-Lambe Turah tersebut. Lambe Turah yang selalu berguncing di dunia maya, menyebarkan isu, kebencian, hoax, dan tiada melihat efek dari sharing informasi tanpa melihat kebenaran apa yang disebarkan tersebut. Penulis juga berharap, dengan tabayun (halaman 29), persoalan hoax akan diminimalisir.

     Selanjutnya, bab dua mengangkat adanya perubahan teknologi dan rekayasa sosial yang berkembang di masyarakat. ini diawali dari semakin mudah dan murahnya mendapatkan gadget, dan terjangkitnya penyakit nomophobia. Masyarakat terkena ‘virus’ selfie-ria dan mudah mengomentari apa yang dilihat di depan mata saat berinternet. Bahkan, penulis menyindir kita melalui tulisan media sosial bisa merusak pahala puasa  di halaman 67.

     Pada bab tiga, perubahan sosial yang terjadi di masyarakat juga mempengaruhi perilaku masyarakat itu sendiri. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya literasi masyarakat dan media. Alasannya, masyarakat yang miskin literasi jika dibombardir informasi remeh temeh media akan berdampak buruk. Kurangnya literasi masyarakat juga berdampak buruk, di mana masyarakat tidak semakin cerdas. Ini diwakili dari jempol masyarakat lebih cerdas dari otaknya, dan mereka tidak berpikir panjang dalam menyebarkan berita bohong sebelum mempertimbangkan secara jernih dengan otaknya. Masih dari bab ini, Bahkan, penulis menyarankan agar masyarakat Indonesia untuk mematikan televisi menjelang Pemilu, dengan alasan banyak acara ‘sampah’ yang diproduksi televisi, karena biasanya televisi dimanfaatkan orang-orang tertentu untuk tujuan politik. Sebagaimana diungkapkan Michael Foucault, bahasa tidak pernah netral, penuh muatan-muatan tertentu, seperti halnya bahasa televisi.

     Bab empat dan lima, membahas kaitan antara media sosial dengan politik, serta kajian persoalan secara lebih umum, antara media, politik, dan masyarakat. dalam dunia politik, media sosial memiliki peran penting. Baik pemerintah maupun oposisi, memanfaatkan media sosial dalam berkampanye, untuk mendapatkan kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan. Di antara politik dan masyarakat, ada media yang kini mulai dipertanyakan independensinya. Media sebagai pilar ke empat dalam alam demokrasi tidak lagi sakral, bahkan, pesan yang disampaikan seringkali dianggap corong kelompok atau golongan tertentu.

     Pada bab terakhir, bab enam, penulis mengulas mengenai komodifikasi pesan-pesan komunikasi yang disebarkan media. Pesan yang sebenarnya bebas nilai menjadi bermuatan kepentingan. Di ini, penulis menyindir bahwa pemerintahlah yang memiliki kekuatan politik, dana, dan alat negara, yang memungkinkan mampu membeli pesan tersebut dan mendapatkan keuntungan darinya.

     Terlepas dari keseluruh isi dengan satu-dua kesalahan ketik, semisal optimis yang seharusnya optimistis, dengan membaca buku ini, akan mendapat pencerahan (enlighting). Tentu saja, pembaca yang ingin mencari solusi, jangan harap mendapatkan di buku ini. Penulis tidak semua menyuguhkan solusi atau pemecah kebuntuan akan berbagai masalah yang dihadapi di media sosial. Justru, ia ingin mengajak pembaca terpancing, berpikir, dan mencari solusi sendiri atas aneka masalah di media sosial tersebut. Tulisan ini lebih pada membuka wacana-wacana berpikir, juga mengingatkan akan ancaman dari ber-media sosial yang tidak santun, melanggar hukum dan menimbulkan prasangka negatif pihak lain. Ini tertuang dalam pesan bijak, mulutmu harimaumu (jarimu, harimau). **

Heru Setiyaka

Praktisi Media, juga Sebagai Mahasiswa Program Magister Psikologi Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta

 

Dimuat di Harian Umum Kedaulatan Rakyat (KR), Minggu 27 Januari 2019.