Home BukuKita Memperluas Imajinasi, Membaca Makna Dekave

Memperluas Imajinasi, Membaca Makna Dekave

666
0
SHARE
Memperluas Imajinasi, Membaca Makna Dekave

Judul Buku      : Membaca Tanda dan Makna Desain Komunikasi Visual

Penulis             : Dr Sumbo Tinarbuko

Penerbit           : Badan Penerbit ISI Yogyakarta

Tahun              : Cetakan Pertama, 2017

IV + 206 halaman

ISBN               : 978-602-650-913-0

Apakah kita perlu mengetahui tanda dan makan keberadan pesan verbal dan visual pada sebuah karya desain komunikasi visual? Ingat pula, desain komunikasi visual jangan diartikan dalam sebuah mata kuliah di bangku kuliah. Karena, setiap kita bangun tidur dan mulai menapaki hari ini dan esok, sebenarnya kita selalu dihadapkan pada sebuah pesan komunikasi visual. Saat berada di jalanan, banyak baliho, billboard, pamfet dan lainnya yang merupakan sebuah karya desain komunikasi visual. Demikian pula saat melihat televisi, berselancar ke dunia maya, karya-karya komunikasi visual tidak lepas dari pandangan mata. Mengapa penting? Jawabannya ada di buku karya Sumbo Tinarbuko berjudul Membaca Tanda dan Makna Desain Komunikasi Visual ini. Yakni, memperluas imajinasi kreatif, wawasan, dan menambah pengetahuan tentang penciptaan atau perancangan serta pengkajian karya desain Komunikasi Visual. Jelas bukan?

     Ada lima bab yang disusun penulis. Bab pendahuluan yang menjadi awal buku ini berisikan mengenai pengertian mengenai desain semiotika. Ya, semiotika menjadi dasar memahami desain komunikasi visual. Membicarakan semiotika tentu harus mengerti menyeluruh. Semiotika berasal dari kata Yunani, semeion. Diartikan sebagai tanda. Semiotika menurut kamus linguistik adalah ilmu yang mempelajari lambang-lambang dan tanda-tanda (Kridalaksana, 1993:195). Semiotika adalah studi tentang tanda dan cara-cara tanda itu bekerja, dalam konteks ini, pokok perhatiannya adalah membahas masalah tanda. Yasraf Amir Piliang menegaskan, semiotika adalah sebuah ranah keilmuan yang jauh lebih dinamis. Semiotika pada kenyataanya ilmu yang terbuka bagi berbagai interpretasi. Logika semiotika adalah logika di mana interpretasi tidak diukur berdasarkan salah atau benarnya, melainkan  derajat kelogisannya; interpretasi yang satu lebih masuk akal dari yang lainnya. (Halaman 5).

     Selanjutnya, perkawinan silang antara semiotika dengan desain komunikasi visual melahirkan anak biologis bernama semiotika komunikasi visual. Semiotika komunikasi visual dihadirkan untuk menginterpretasikan serta memahami makan pesan verbal dan pesan visual yang terkandung dalam karya desain komunikasi visual.(Halaman 6).

     Diingatkan juga oleh penulis, agar pesan verbal dan pesan visual desain komunikasi visual mampu menarik perhatian calon konsumen atau pun pembeli loyal, maka desain komunikasi visual harus menawarkan eksklusivisme dan keistimewaan.

     Pada bab dua, penulis ingin lebih menukik lagi. Ia membahas mengenai literasi dan desain komunikasi visual. Ditegaskan oleh Sumbo, desain komunikasi visual hadir sebagai salah satu upaya pemecahan masalah komunikasi atau komunikasi visual. Keberadaannya diabadikan untuk menghasilkan desain yang paling baru di antara desain yang terbaru. Dalam konteks ini, penekannya lebih dititikberatkan pada upaya pemecahan masalah komunikasi atau komunikasi visual dengan mengedepankan unsur novelties (kebaruan) sebagai panglima perang.(Halaman 12).

     Diyakini penulis, desain komunikasi visual (dekave) sebagai salah satu bagian dari seni terapan yang mengajarkan perihal perencanaan dan perancangan berbagai bentuk informasi komunikasi visual. Perjalanan kreatifnya diawali dengan menemukan dan mengenali permasalahan komunikasi visual. Kemudian, dilanjutkan proses mencarai data verbal dan visual, dan menyusun konsep kreatif yang berdasarkan para karakteristik target sasaran. Kerja kreatif yang dijalankan para pekerja dekave adalah mengolah beberapa elemen desain grafis. Seperti ilustrasi, huruf, warna, komposisi, dan layout. Langkah terakhir adalah penentuan visualisasi final desain. Ini dilakukan untuk mendukung tercapainya sebuah komunikasi verbal-visual yang fungsional, persuasif, artistik, estetis, dan komunikatif. Contoh soal kerja pekerja dekave bukan semata pada industri media, seperti koran, tabloid, majalah, atau jurnal saja, namun cakupannya luas. Mulai dari perwajalahan buku (penerbitan), desain sampul kaset, cover CD (industri musik), desain kalender, desain kaos oblong, desain kartu pos, perangko, mata uang, stiker, pin, cocard, id card, kartu ATM, e-toll, e-money, desain undangan, desain tiket dan karcis, desain sertifikat dan ijazah, hingga desain berbentuk kampanye iklan komersial dan iklan layanan masyarakat, dan iklan politik. Media yang terlibat juga beragam, media massa cetak, media luar ruang, media internet, media massa elektronik (radio dan televisi), hingga new media (ambient media, guerillas advertising, theatrical advertising, adman). Wilayah kerja kreatif desain multimedia juga beragam, animasi 2D, 3D, game, motion graphic, fotografi, sinetron, vlog, audio visual, program acara televisi, film dan video documenter, film layar lebar, video klip, web desain, dan CD interaktif, serta masih banyak ragam lainnya.

     Penulis menegaskan, dekave menjadi bagian dari fenomena bahasa, dan para desainer-nya harus memperhatikan beberapa hal, pertama, memahami betul seluk-beluk bentuk pesan yang ingin disampaikan; kedua, mengetahui kemampuan menafsir serta kecenderungan kondisi fisik maupun psikis kelompok masyarakat yang menjadi sasaran; ketiga, mampu memilih jenis bahasa dan gaya bahasa yang serasi dengan pesan yang dibawakannya.(Halaman 15-16). Intinya, sumber daya manusia (SDM) atau memilih dan menjadi pelaku dekave yang mumpuni menjadi tantangan tersendiri. Berikutnya, membicarakan dekave juga membicarakan materi produk. Untuk mengkomunikasikan produk desain komunikasi visual, diwakili dengan simbol-simbol yang disepakati bersama. Huruf dan tipografi menjadi ujung tombak dalam menyampaikan pesan verbal dan pesan visual kepada seseorang dan sekelompok orang. Setelah huruf dan tipografi, berikutnya adalah nirmana. Pelakunya adalah nirmaner. Nirmana menitikberatkan pada analisi unsur seni rupa dan desain. Ini terdiri dari bentuk, raut, ukuran, arah, warna, value, tekstur, dan ruang. Dan ujung dari beberapa bagian itu adalah gabungan dari semua yang telah disebutkan atau dikenal dengan kata layout. Pelakunya layouter. Layout merupakan sebentuk manajemen ide. Ia bertugas mendokumentasikan dan menyusun sebuah tatakelola desain atas stimulus verbal visual.

     Pada bab tiga, penulis kembali membicarakan mengenai semiotika. Semiotika dalam bab ini dipaparkan secara lengkap, termasuk teori-teori dan tokoh-tokoh yang menyertainya. Penulis memulai dari Winfried Noth, kemudian ahli semiotik lainnya John Fiske. Lalu, Ferdinand de Saussure, yang memunculkan istilah penanda, petanda; kemudian Charles S. Peirce yang menyebut ikon, indeks, sampai simbol. Penulis kembali menegaskan bahwa semiotika sebagai ilmu, yakni ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsinya tanda, dan produksi makna. Dalam bab ini, penulis juga membeberkan mengenai semiotik komunikasi visual sebagai metode analisis tanda desain komunikas visual. Ia memaparkan mengenai tanda, kode, dan makna. Adapun mengenai metode analisis semiotik komunikasi visual pada verbal dan tanda visual serta pesan verbal dan pesan visual atas karya desain komunikasi visual, beroperasi pada jenjang analisis. Pertama, analisis tanda secara individual, mencakup tanda, kode, dan makan tanda. Kedua, analisis tanda yang membentuk teks. Analisis semiotika komunikasi visual menggunakan metode penelitian kualitatif. Caranya diawali dengan mengidentifikasi dan menginterpretasikan makna konotasi karya desain komunikasi visual. Semuanya dilakukan dengan menyandarkan diri pada teori semiotika dan teori desain komunikasi visual. Penulis juga mengenalkan mengenai proses analisis objek penelitian dilakukan secara diskriptif dengan memanfaatkan konsep Triadik Sumbo Tinarbuko. Ini diciptakan untuk mengidentifikasikan dan memahami makan konotasi atas tanda dank ode karya desain komunikasi visual.

     Bab empat, penulis memberikan contoh mengenai pembahasan beberapa karya desain komunikasi visual. Cara proses analisis objek penelitian atau objek pembahasan dilakukan secara diskriptif dengan memanfaatkan konsep Triadik Sumbo Tinarbuko. (Halaman 58). Adapun yang menjadi contoh adalah iklan layanan masyarakar (ILM), desain kaos oblong Dagadu Djokdja, desain kaos sosok Sakera Madura, ilustrasi kemasan susu instan, infografis Komisi Pemberantasan Korupsi, iklan politik Caleg Bang Egy. Pengkajiannya menggunakan semiotika komunikasi visual sebagai metode analisis tanda dan makna.

     Dalam bab penutup buku ini, penulis menegaskan bahwa tulisan dalam buku ini adalah mencoba mencari, menemukan, dan memahami makna konotasi atas keberadaan pesan verbal dan pesan visual yang terkandung dalam karya desain komunikasi visual. Analisis semiotika komunikasi visual dengan objek karya desain komunikasi visual diharapkan menjadi salah satu pendekatan baru. Proses analisis objek penelitian secara diskriptif. Setidaknya, itu yang sebagian diharapkan penulis, selain harapan-harapan lain yang terpapar secara lengkap di sini.

     Buku ini pasti menambah wawasan bagi masyarakat yang selalu dihadapkan pada produk dekave, terlebih bagi mereka yang tengah mempelajari ilmu dekave. Hanya, buku yang kontennya cukup mendidik dan menambah pengetahuan ini, kurang lengkap rasanya saat melihat contoh produk iklan yang seharusnya berwarna, dibuat hitam putih. Seakan-akan sayuran kurang garam, kurang lengkap dan mantap, rasanya. Tentu saja, masukan ini akan berharga bila direalisasikan dalam cetakan ulang berikutnya. Secara bahasa, penulis juga memilih kosa kata yang mudah dipahami dan dimengerti. Ini menunjukkan kualitas penulis yang kaya perbendaharaan kata-kata.

     Di buku ini, sampul merah dengan wajah Sumbo Tinarbuko cukup bagus dan eye-catching. Hanya, saat membuka setiap permulaan bab, muncul wajah yang sama tentu membuat kesan berlebihan-kalo tidak boleh dibilang norak. Entah, mungkin penulis ingin mengirim pesan apa, bisa dianalisis secara semiotik, mungkin. Sekali lagi, selamat membaca dan Anda pasti akan bertambah pengetahuannya. (***)

Heru Setiyaka, Praktisi Media