Home BukuKita Menengok Sejarah Kota Lama Semarang

Menengok Sejarah Kota Lama Semarang

643
0
SHARE
Menengok Sejarah Kota Lama Semarang

Menengok Sejarah Kota Lama Semarang

 

Judul Buku      : Menapak Jejak-Jekak Sejarah Kota Lama Semarang

Penulis             : LMF Purwanto dan R Soenarto

Penerbit           : PT Bina Manggala Widya Bandung

Tahun              : Cetakan Pertama, Oktober 2012

X + 186 halaman

ISBN               : 978-602-186-592-7

 

Kota Semarang, saat ini terbagi dalam dua bagian, kota lama dan kota modern. Membicarakan kota lama, atau tepatnya kawasan kota lama Semarang, sungguh indah dan mempesonakan. Di tempat ini, menyisakan tapak-tapak yang masih bisa dilihat fisiknya, sejak Semarang digadaikan kepada VOC oleh Susuhunan Amangkurat II sampai dibentuknya Gemeente Van Semarang. Itulah sekelumit pengantar yang disampaikan penulis dalam buku yang berjudul Menapak Jejak-Jekak Sejarah Kota Lama Semarang, Menelusuri Jalan-Jalan Kota Lama Semarang dari Abad 17 sampai Abad 19 Dari Zaman VOC sampai Gemeente Van Semarang. Cukup panjang, sepanjang sejarah Kota Semarang dengan segala pernak-perniknya.

     Buku ini dibuat dua orang penulis, yakni LMF Purwanto dan R Soenarto. Tidak ada bab dalam buku ini. Hanya 23 judul yang disiapkan, ditambah 16 lampiran yang menyertainya. Buku ini disusun seperti menata ‘bangunan sejarah’ yang cukup panjang, termasuk cerita yang menyertainya. Perkembangan arsitektur kota lama, yang merupakan bagian dari arsitektur Hindia Belanda di Indonesia mengawali tulisan di buku ini. Penulis memaparkan dengan jernih, perkembangan era arsitektur Belanda di Semarang. Ia mencontohkan, salah satunya, balai kota di Batavia, kemudian membandingkan dengan Kota Semarang, bagaimana  pemerintah kolonial ‘cukup cerdik’ dalam mengantisipasi masalah tropis lembab di kota tua Semarang.

     Beberapa bangunan kolonial Belanda di Semarang juga didata. Di antaranya, Rumah Makan di Jalan Letjend Suprapto, Kantor Borsumij Wehry  di Jalan Kepodang, Marba yang eksotik di Jalan Letjend Suprapto, Kantor Rajawali Nusindo di Jalan Mpu Tantular, Gedung PTP XVI di Jalan Mpu Tantular, gedung Pelni di Jalan Mpu Tantular, dan masih banyak lainnnya.

     Penulis mengisahkan mengenai kota Semarang kuno hingga perkembangannya sampai saat ini. Adanya endapan lumpur dari Kali Kreyo, Kaligarang, dan Kali Kripk, sedikit banyak mengubah wajah kota. Diceritakan juga oleh penulis, bagaimana Kota Semarang dikuasai oleh VOC, setelah Amangkurat II bersiasat dengan VOC dalam menghadapi pemberontakan Turnojoyo dari Madura. VOC mulai mendirikan benteng di Semarang. Bangunan benteng itu berbentuk segi lima dan dikenal sebagai Benteng Vijfhoek. Benteng ini dijelaskan secara terpisah dalam tulisan berjudul Benteng Vijfhoek (halaman 53-57). Selanjutnya, kisah bangkrutnya VOC, hingga pembangunan Jalan Anyer-Panarukan, yang melewati Kota Semarang. Persinggungan ini ditulis dalam judul tulisan, Jalan “Daendles” Anyer-Panarukan. Jalan ini dihadirkan untuk kepentingan penjajah, mengeksploitasi sumber daya alam yang melimpah di Hindia Belanda. Penulis juga menyinggung lambang Kota Semarang 1825 dan Gemeente Van Semarang.

     Berikutnya, Kota lama (Oudestad) Semarang ditulis di halaman 65, dan beranjak membahas Gereja Immanuel (Gereja Blenduk) di halaman berikutnya. Gereja yang cukup terkenal ini dibangun orang-orang Portugis yang tinggal di kawasan itu. Kata Blenduk bukanlah berasal dari bahasa Portugis maupun Belanda, namun bentuk kubahnya (atap) yang berbentuk setengah lingkaran bola, dalam bahasa Jawa digambarkan mblenduk. Gereja ini menjadi tetenger dan landmark-nya kota tua Semarang. Gereja ini selanjutnya ditetapkan sebagai bangunan kuno bersejarah oleh Pemkot Semarang.

    Di kota tua Semarang ini, juga nama-nama jalan lama masih tercatat rapi. Nama-nama jalan tempo dulu seperti Heerenstraat yang sekarang menjadi Jalan Letjen Suprapto, Jalan Kepondang, dulunya bernama Hogendorstraat dan sebagian lagi bernama Blinde Spekstraat. Jalan Ronggowarsito, dulunya bernama Kloosrterstraat; Konijnenstraat, dan Achterkerstraat digabung menjadi Jalan Garuda; Zeestrand, Altingstraat, Pakhuisstraat, dan Westerwalstraat, disatukan menjadi Jalan Mpu Tantular, serta masih banyak lagi. Dalam buku ini, penulis juga menyertakan nama jalan lama dan nama jalan yang sekarang, beserta bangunan yang ada di dekatnya. Tentu saja, bangunan yang masih berdiri kokoh dan merupakan bangunan kuno yang dilindungi.

     Menguak kota Semarang tentu akan lengkap jika menyebut aneka kuliner yang masih ada sampai sekarang. Makanan khas Semarang  sudah ada sejak dulu. Beberapa penganan atau kue-kue ini merupakan jajan pasar yang biasa dijajakan di pasar tradisional. Bahan dasarnya beragam, mulai dari beras, beras ketan, kedelai, tepung terigu, hingga kelapa. Beberapa di antaranya, berasal dari serapan kuliner Tionghoa dan Belanda. Kurang lebih 50 nama penganan disebut penulis. Di  antaranya bolang-baling, jakwe, putu mayang, bubur candil, bir temulawak, jamu jun, jongkong, untir-untir, lumpia, tahu pong, stuban, srabi inggris, enten-enten, putu bumbung, ketan srikaya, gandos, sup cemplung, lekker, dan masih banyak lagi.

     Dalam lampiran, penulis lebih spesifik lagi menulis beberapa hal yang menarik dan ada kaitannya dengan keberadaan Kota Tua Semarang. Ada Nederlandsche Indische, VOC, termasuk alur waktu tapak sejarah VOC. Juga ada lampiran yang membicarakan khusus siapa Cornelis de Houtman, dari latar belakang dan awal perjalanan hingga tiba di Jawa. Kemudian, ditulis pula mengenai alat navigasi dan teknologi maritim VOC dan daftar penguasa Hindia Belanda. Mulai dari yang pertama Pieter Both, hingga Pieter Gerardus Van Overstraten pada masa VOC. Masa kekuasan di Hindia Belanda sempat diselingi kekuasaan di bawah pengaruh Napoleon Perancis, antara 1800-1811, kemudian kekuasaan Ingris antara tahun 1811-1816. Kemudian, masa kekuasan Belanda periode kedua, antara 1816-1949. Nama yang muncul juga cukup lengkap, mulai dari G.A.G. Ph. Baron van Der Capellen hingga A.H.J. Lovink. Sebagian dari nama-nama itu juga ada fotonya dan dicantumkan dalam buku ini.

     Bicara mengenai Semarang, tidak bisa lepas dari nama Ki Ageng Pandanaran. Penulis juga memaparkan kisah cerita rakyat mengenai Ki Ageng Pandanaran. Penulis juga menyinggung mengenai nama-nama bupati Semarang sebelum masa kemerdekaan, mulai dari Ki Pandan Arang II, hingga Kyai Mertonoyo, Kyai tumenggung Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo. Bupati di bawah masa VOC, ada Raden Martoyudo (Raden Sumimngrat) hingga Adipati Surohadimenggolo V atau Kanjeng Terboyo. Nama bupati di bawah Pemerintahan Hindia Belanda, dari Raden Tumenggung Surohadiningrat sampai RMTA Purboningrat. Kemudian, nama Bupati Semarang dari Raden Cokrodipuro hingga RMAA Sukarman Mertohadinegoro. Di lampiran buku ini, juga tergambarkan seragam tentara kolonial, lambing kerajaan Belanda, Rad Van State (Dewan Rakyat), Lambang VOC pada bangunan gedung, surat saham VOC, buku pelayan VOC, dan uang kolonial saat itu.

     Buku ini tergolong lengkap. Foto-foto yang menyertainya menambah menarik buku ini. Sayangnya, semua hitam putih dan tidak ada satupun yang berwarna. Sungguh lebih menarik, seandainya dibuat berwarna, sebagian atau semuanya,  sehingga benar-benar hidup. (***)

 

Heru Setiyaka, Praktisi Media