Home BukuKita Menggali Sejarah Pasanggrahan Parangtritis

Menggali Sejarah Pasanggrahan Parangtritis

598
0
SHARE
Menggali Sejarah Pasanggrahan Parangtritis

Keterangan Gambar : Cover buku Pesanggrahan Prangtritis

Judul Buku      : Pasanggrahan Parangtritis, 1933-2011

Penyusun         : Hermanu

Tim Kerja       : Dwi Oblo dkk

Penerbit           : Bentara Budaya Yogyakarta

Tahun              : Cetakan Pertama, 2011

Viii + 112 halaman

ISBN               : 978-979-187-942-2

 

Pesisir pantai selatan Pulau Jawa cukup eksotik. Banyak tempat indah dan mempesona. Mulai adair Pantai Brumbun di Tulungagung, Pantai Popoh di Trenggalek, sebagian pantai di Gunungkidul, di antaranya Pantai Krakal, Baron, dan Drini, kemudian Pantai Parangtritis dan Depok di Bantul, Glagah di Kulonprogo, Hingga Pelabuhan Ratu di Jawa Barat.

Semua berjejer dan menyapa laut Selatan yang terkenal ombaknya. Belum lagi, pantai selatan memiliki nilai mistis yang tinggi, pantai dengan banyak sejarah dan legenda tentang tanah Jawa menyertainya. Terutama Pantai Parangtritis.

Tim kerja dan penyusun buku ini memang fokus membicarakan Pantai Parangtritis. Ini sudah dibuka pada pengantar buku ini. Parangtritis menyangkut banyak legenda yang ada. Mulai dari Ajisaka, legenda Panembahan Sela Ening, Kyai Tunggulwulung, Syeh Belabelu, Syeh Maulana Ibrahim, dan lainnya.

Kawasan Parangtritis  juga mempunyai tempat keramat. Seperti Parang Wedang, Gua Payung, Gua Samin, dan Gua Lengse. Semuanya akan dijelaskan dalam buku ini, pada bab-bab khusus di dalamnya. Buku yang sejatinya hadir bersamaan dengan Pameran Foto karya lima orang, Arief Sukardono, Budi ND Darmawan, Dwi Oblo, Hermanu, dan Wawan H. Prabowo ini semacam katalog karya pameran foto mengenai Parangtritis, antara 1933-2011.

Tulisan Pasanggrahan Parangtritis berisi 18 sub judul, mulai dari lokasi dan cerita asal usul Parangtritis, hingga keramaiannya. Juga ada orang Belanda yang memilih tinggal di sekitar Parangtritis. Berlanjut pada tulisan berikutnya, mengenai Porangan, Parangkusumo, Trebis dan Gondoluwak, Rawa Aji, Pasiraman Parang Wedang.

Selanjutnya, subjudul yang disiapkan adalah berkisah mengenai Bukit Sentana, Gua Langse, Gunung Banteng, Gambirawati, Sungai Opak, Kyai Sela Ening dan Kyai Tunggulwulung. Cerita mengenai Gua Suracala, Gua Semin, dan Gua Gebangkara juga diceritakan dalam subbagian masing-masing. Selayaknya sebuah buku yang mendukung pameran, di dalamnya juga mengenai foto Parangtriris dan segala pernak-perniknya.

Terima Kasih. (***)

Heru Setiyaka, bekerja di perusahaan konsultan