Home BukuKita Mengunjungi Masa Lalu Kota Salatiga

Mengunjungi Masa Lalu Kota Salatiga

795
0
SHARE
Mengunjungi Masa Lalu Kota Salatiga

Judul Buku      : Salatiga, Sketsa Kota Lama 

Penulis             : Eddy Supangkat

Penerbit           : Griya Media Salatiga

Tahun              : Cetakan Kedua, Agustus 2007

XVIII + 150 halaman

ISBN               : 978-979-729-017-7

 

De schoonste Stad van Midden Java berarti kota terindah di Jawa Tengah. Kalimat ini memang tepat tersemat di Kota Salatiga. Kota ini memang sudah dikenal sejak dahulu kala. Selain sebagai pusat militer dan agama, Kota Salatiga juga dikenal sebagai tempat peristirahatan (vacantie oord), kinder vacantie oord, tempat rekreasi, kota transit, dan pusat pendidikan. Dengan sasanti Salatiga Kota Hati Beriman, singkatan dari sehat, tertib, bersih, indah, dan aman.

Penjelasan semua itu diungkapkan Dra Emy Wuryani M.Hum, dari Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, mengantar buku berjudul Salatiga, Sketsa Kota Lama yang ditulis Eddy Supangkat.

Selain itu, dua artis ibu kota yang berasal dari Salatiga ikut mengisi prakata dan menambah keunikan buku ini. Mereka, Rudy Salam, dan Roy Marten, kakak beradik memang berasal dari kota ini. Rudy mengungkapkan kenangannya, bagaimana ia suka ke Terminal Pasar Sapi dan Pasaraya mencari gudeg koyor kesukaannya. Sesekali, ia juga suka pergi ke Bukit Cinta untuk pergi memancing.

Lain lagi dengan Roy Marten. Ia mengeluhkan Salatiganya yang sudah mulai panas, ruko menggantikan pohon kenari. Ia juga mengkritik bagaimana Senjoyo, Kalitaman, muncul sudah mulai mengering dan banyu-nya tidak lagi bening. Ia melihat Salatiga dengan modal sebagai kota pensiunan, kota pelajar, dan kota pariwisata, sebenarnya tidak perlu lagi menjadikan kota modern.  Apalagi, sebagai Indonesia mini-di mana seluruh suku di Indonesia ada di salatiga dan hidup harmonis, semestinya sudah lebih dari cukup untuk menjadikan Kota Salatiga tetap asyik, seperti keinginan Roy Marten.

Penulis membagi buku ini menjadi tujuh bab. Bab pertama berisi mengenai kilas balik pemerintahan tempo doeloe, di mulai dari Salatiga sebagai koya militer, kota terindah di Jawa Tengah, Gemeente (kotapraja) terkecil di Indonesia, hingga kondisi setelah Indonesia merdeka. Sebagai Gemeente Salatiga (kotapraja Salatiga) dipimpin oleh seorang Burgemeester (wali kota). (halaman 1).

Pada zaman Hindia Belanda, Kota Salatiga juga dibangun sebuah benteng yang diberi nama Benteng De Hersteller. Juga ada bangunan-bangunan lain, termasuk menjadikan Kota Salatiga sebagai kota militer. Sampai saat ini, bekas-bekas semua itu masih tersisa.  Dalam bab ini, penulis juga mengungkapkan nama-nama bupati yang memerintah Kabupaten Salatiga, saat itu. Tempat ini juga memiliki banyak perkebunan, ada 12 perkebunan dengan aneka macam produk perkebunan. Di antaranya, Perkebunan Getas, dengan jenis tanaman karet, kopi, coklat, pala, lada, dan kapuk. Kemudian, ada Perkebunan Sembir, dengan jenis tanaman kopi, coklat, pala, lada, dan kapuk. Juga ada Perkebunan Gogodalem, dengan jenis tanaman padi, kopi, coklat, pala, lada, dan kapuk.

Beberapa nama di Salatiga, dulunya juga dinamai dengan nama Belanda. Sekarang, sudah berganti, di antaranya Prins Hendriklaan (sekarang Jalan Yos Soedarso), Pinsenlaan (Jalan Tentara Pelajar), De Witteweg (Jalan dr Soemardi), Willemslaan (Jalan Ledoksari), dan Villa Park (sekarang Jalan Lapangan Kridanggo).

Bab dua, diceritakan mengenai kilas balik transportasi tempo doeloe.  Sarana transportasi tradisional saat itu, salah satunya Bus ESTO, sebagai perusahaan bus pertama di Salatiga, oplet sebagai sarana transportasi alternatif, atau Honda Mini sebagai cikal bakal kelahiran angkuta Kota Salatiga. Cerita mengnai Bus Esto lumayan lengkap di buku ini, selain oplet dan Honda mini.  Tentu saja, bicara moda transportasi, pasti menyinggung kereta api.

Memasuki bab tiga, penulis membeberkan mengnai bangunan-bangunan yang penuh kenangan. Di antaranya Istana Djoen Eng, Gedung Papak, dan Gedung Pakuwon. Di bab ini, juga diungkapkan bahwa Salatiga juga pernah memiliki landasan pesawat terbang, di kompleks militer Ngebul. Masih ada bangunan lain peninggalan masa lalu. Seperti Gedung Papak, satu gedung yang namanya banyak, juga ada terminal bus Salatiga yang kini tinggal nama belaka-kini berubah menjadi Tamansari Shopping Center, Tugu peringatan kelahiran Ratu Beatrix, Studio Film yang merupakan satu-satunya di Salatiga, Gedung Kubah kembar, dan lainnya.

Kilas balik peninggalan masa lalu berada pada bab empat. Prasasti tentang Salatiga ada di Dukuh Plumpungan, sehingga disebut Prasasti Plumpungan. Dari prasasti itu, diketahui bahwa usia Salatiga sudah lebih dari 1.250 tahun. Adapun dari sisi legenda, nama Ki Ageng Pandanarang memiliki keterkaitan dengan legenda Salatiga. Banyak versi mengenai asal muasal Salatiga, semuanya ada di buku ini.

Pada bab lima, isinya menyangkut Salatiga dan orang-orang ternama. Soekarno-presiden pertama Indonesia, bertemu istrinya Hartini di kota ini. Soeharto, juga pernah menjadi Komandan Korem Salatiga. Nama lain, pahlawan nasional yang juga penerbang, Adisutjipto, berasal dari Pungkursari, Salatiga.  Ada Yos Sudarsono, laksamana laut yang tak kenal takut, Matori Abdul Djalil, Menhamkam dalam Kabinet Gotong Royong (2001-2004) pada era Megawati memimpin.  Edhi Sunarso, perupa kelahiran Salatiga, Roy Marten dan tentu kakaknya, Rudy Salam, serta Arie Wibowo, penyanyi Madu dan Racun.

Bab, enam, penulis membahas mengenai Salatiga dalam lensa, foto-foto lama mengenai sudut-sudut Salatiga ada di buku ini. Mulai dari Jalan Toentangscheweg (Jalan Diponegoro), dulu dan sekarang, Indische Kerk yang terlihat jelas dari Bundaran Tugu, kini sudah terhalang Mal Tamansari, ada stasiun pompa bensin (SPBU) di tengah kota, dan sekarang berubah menjadi Gedung BNI 46, Studio Film di Salatiga dan sekarang ditempati oleh KFC, Lapangan tenis yang rindang berubah menjadi Gedung Ramayana, Terminal Salatiga menjadi Tamansari Shopping Center, gedung cikal bakal UKSW menjadi Gedung Pertemuan Sinode GKJ, dan masih banyak lainnya. Perubahan pasti terjadi, disukai atau tidak. Pesan dari penulis dengan memaparkan foto-foto ini setidaknya mengajak sejenak mengenang masa lalu, yang tak mungkin kembali. Otokritik buat kita adalah bagaimana memelihara bangunan dan sejarahnya, agar tidak hilang, terutama yang masih ada. Sedangkan yang ada, jangan pula hilang dari kenangan, dan buku ini cukup membantu mengingatkan.

Pada bab tujuh, bab penutup, penulis mengajak untuk menengok masa lalu Kota Salatiga untuk ikut mengenangnya. Dengan menengok kembali wajah Salatiga di masa lalu, akan membuat kita menjadi tahu dan menyadari, betapa Salatiga pernah begitu berarti dan indah berseri. (Halaman 145).

Buku yang unik, menarik, segar, dan mengajak pembaca mengenang. Terutama mereka yang pernah lahir, hidup, tinggal, dan bersinggungan dengan Salatiga. Bagi yang belum pernah ke Salatiga, juga bisa menarik untuk mengunjunginya, meski yang ada sekarang tinggal sisa kenangan masa lalu. Tidak mengapa, mengunjungi kota ini seperti sebuah ‘kewajiban’ yang harus dipenuhi, minimal satu kali dalam hidup. Di sini, aneka kuliner sangat beragam dan menggoda selera. Lainnya, wajah sejarah kota tua, masih menyisakan sebagian untuk dikunjungi dan dinikmati. Foto-foto dalam buku ini dibuat hitam putih, karena sebagian memang koleksi lama, dengan warna hitam putih. Namun, untuk foto yang terbaru, akan ‘lebih hidup’ jika dibuat dengan cetakan berwarna. Memang, dalam biaya, jatuhnya lebih mahal, dan berpengaruh dalam harga penjualan. Namun, semua itu akan tertutup dengan buku yang lebih menarik, bagus untuk dikoleksi dan cocok untuk buah tangan buat relasi. Selamat membaca. (***)

 

Heru Setiyaka, Praktisi Media