Home BukuKita Mengunjungi Museum Ambarawa

Mengunjungi Museum Ambarawa

506
0
SHARE
Mengunjungi Museum Ambarawa

Judul Buku      : Ambarawa Kota Lokomotif Tua (Town of Ancient Locomotives)

Penulis             : Eddy Supangkat

Penterjemah    : Chris Soebroto

Penerbit           : Griya Media Salatiga

Tahun              : Cetakan Pertama, November 2008

v + 150 halaman

ISBN               : 978-979-729-030-6

 

Membicarakan Kota Ambarawa, tidak lengkap rasanya bisa tidak menyinggung Museum Kereta Api Ambarawa. Di museum tersebut, aneka lokomotif tua peninggalan zaman Belanda bertebaran. Ambarawa sendiri memang menjadi bagian dari sejarah kereta api itu sendiri. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Museum Kereta Api Soehardjono-saat buku ini diterbitkan- tanggal 21 Mei 1873 merupakan haris bersejarah bagi kota kecil Ambarawa. Setelah jalur kereta api Semarang – Jogjakarta selesai tahun 1872, pemerintah Hindia Belanda (saat itu) memutuskan membuka jalur Kedungjati -  Ambarawa. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 21 Mei 1873, jalur kereta api sudah masuk ke Ambarawa. Pada hari itu, langsung diresmikan pemakaiannya, dan kereta api menjadi bagian dari masyarakat Ambarawa.

    Hadirnya buku ini, yang di dalamnya ada dua bahasa, yaitu Indonesia dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Chris Soebroto, berawal dari sedikitnya informasi mengenai Museum Kereta Api Ambarawa. Saat penulis berkunjung ke museum tersebut, yang ada hanyalah fotokopi booklet yang berisi informasi museum tersebut. Booklet, semenarik apapun informasinya, apalagi berwujud fotokopi, tentu kurang enak dipandang dan disimpan. Maka, lahirnya buku ini, untuk meramaikan khasanah informasi seputar Museum Kereta Api Ambarawa. Bicara museum, tentu tidak lepas dari keberadaan kotanya, Ambarawa. Maka, tema lebih luas dipilih agar pembaca juga mengetahui informasi seputar museum, tepatnya Kota Ambarawa. Karena, di Ambarawa, selain museum kereta api, juga ada Sekolah Polisi Negara (SPN) Banyubiru, ada aneka gereja tua yang tersebar di kota tersebut, pasar, ada Waduk Rawapening, hingga perkebunan kopi. Membahas Ambarawa tentu juga harus menyinggung Kota Salatiga, karena ada tautan antarkeduanya, meski sebagai entitas kota yang terpisah.

     Buku ini terdiri dari enam bab. Bab pertama dimulai dari pembahasan mengenai sistem tanam paksa yang dilakukan penjajah Belanda saat itu, hingga mereka membentuk benteng-benteng Belanda. Sistem tanam paksa dan yang dikenalkan tahun 1830, membuat Ambarawa dan Salatiga menjadi incaran. Kebetulan di sekitar dua kota tersebut, berhawa sejuk dan cocok ditanami kopi.  Jadilah, dua wilayah tersebut sebagai centra kopi di Jawa Tengah, selain beberapa tempat lain. Ambarawa saat itu di bawah afdeeling Salatiga ikut dijadikan daerah perkebunan kopi. Tidak hanya kopi, daerah ini berkembang menjadi perkebunan karet, kina, coklat, pala, lada, kina, dan lainnya. Namun, keberadaan perkebunan dengan lokasi yang naik-turun menimbulkan persoalan tersendiri, yaitu masalah pengangkutannya. Belanda kemudian mencari alternatif sarana tranportasi dan dipilihlah kereta api. Alasannya, bisa mengangkut hasil bumi lebih banyak, lebih kuat, dan lebih cepat.

     Yang pertama kali mengemukakan ide soal kereta api adalah Kolonel Jhr Van Der Wijk, pada tanggal 15 Agustus 1840. Jalur utamanya Jakarta – Surabaya, melalui Surakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Van Der Wijk juga mengusulkan simpangan-simpangannya, termasuk Ambarawa ini, sebagai penghubung Semarang -  Yogyakarta. Pilihan yang masuk akal adalah melalui perkebunan dan mencapai pelabuhan. Tidak hanya kebutuhan dagang saja, militer memiliki kepentingan soal keberadaan jalur kereta api tersebut. Militer memiliki kepentingan dengan mendirikan benteng, mendekati jalur kereta api tersebut.

     Pada bab dua, penulis membahasa soal kereta api di Indonesia. Waktu itu, pada tanggal 7 Juni 1864, Gubernur Jenderal Baron Sloet Van Den Beele meresmikan dimulainya pembangunan rel kereta api di Desa Kemijen, Semarang. Maka, lahirlah jalur Semarang Tanggung. Kemudian disusul ke jalur ke Surakarta dan kemudian ke Yogyakarta. Lintas percabangan Kedungjati – Bringin - Tuntang – Ambarawa ikut menyusul, dan berkembang menjadi Ambarawa – Secang, Magelang. Tujuannya, untuk menghubungkan pusat militer di Purworejo – Magelang – Ambarawa. Sebenarnya, jalur ini tidak ideal, terutama di ruas Gemawang ke Jambu.

     Kebutuhan jalur kereta api juga membutuhkan perkantoran bagi Nederlands Indische Spoorweg Mastchappij (NIS). Lahirnya gedung megah bagi NIS yaitu gedung “Lawang Sewu.” Pada bab ini pula, penulis menyebut ada enam perusahaan yang mengurusi perkeretaapian tersebut. Yakni, NIS, Semarangshce Stoomstram (SS), Semarang-Joana Stroomstram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomstram Mij (SCS), Solosche Tramweg Mij (SoTM), dan Poerwodadi Goendih Stoomtram (PGSM).

     Bab tiga, berisi Kota Ambarawa dan lokomotif tua. Kota Ambarawa berada di tengah-tengah Pulau Jawa, dengan ketinggian 475-500 meter di atas permukaan laut. Hawanya sejuk dan panorama indah, karena dikelilingi banyak gunung. Mulai Gunung Merbabu, Sumbing, Sindoro, Gajah Mungkur, Telomoyo, Pegunungan Jambu, dan Pegunungan Ungaran. Ambarawa merupakan ibukota kawedanan yang dahulu dikenal dengan sebutan distrik Ambarawa, meliputi 8 asistenan, mulai dari Ambarawa, Banyubiru, Jambu, Bawen, Bandungan, dan Sumowono. Distrik Ambarawa merupakan daerah yang subur dengan hamparan sawah yang luas, kebun aneka bunga di dataran tinggi Bandungan.

     Ada dua jurusan kereta api yang melintasi Ambarawa. Pertama, jurusan Ambarawa -  Jogjakarta, melalui stasiun-stasiun kecil seperti Jambu, Bedono, Grabag, Secang, Menowo, Magelang, Mertoyudan, Blabak, Muntilan, Tempel, Medari dan Mlati. Jalur kedua, jurusan Ambarawa – Semarang, melalui stasiun-stasiun kecil seperti Tuntang, Bringin, Kedungdjati, Kradenan, Purwodadi (Grobogan), dan Mranggen.

     Pada tahun1967, perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) atau PT KAI sekarang, menghentikan operasi kereta api jurusan Ambarawa-Magelang. Pada tahun 1976, muncul membuat museum kereta api yang disambut antusias gubernur Jawa Tengah saat itu, Soepardjo Rustam. Akhirnya lahirlah museum, termasuk dalam perkembangannya muncul sensasi menikmati Railway Mountain Tour.

     Bab empat, penulis membahas koleksi lokomotif tua yang ada di museum tersebut, termasuk Lokomotif C1140 built in 1891 buatan Pabrik Hartmann Chemnitz Jerman yang paling tua. Lokomotif lain ada yang dibuat di Belanda. Adapula lokomotif penarik gerbong kepresidenan Republik Indonesia  Soekarno, yakni Lokomotif C28 buatan Jerman, Henschel, Hartmann Chemnitz, dan Esslingen pada 1921-1922.

     Bab berikutnya, bab lima berisi galeri foto lokomotif tua. Dimulai dari Seri B2014, Seri B2220, Seri B2502, seri B2711, hingga Seri F1002. Masih banyak seri-seri lain yang bisa dinikmati dalam buku ini. Bab penutup, bab enam, mengungkapkan bahwa sejarah perkeretaapian di Indonesia (zaman Belanda) dimulai dari Jawa Tengah, bukan Batavia (Jakarta saat itu). Bahkan, kereta api dengan lokomotif uap pertama kali dioperasikan di Inggris pada 27 September 1825. Di Indonesia (lagi-lagi zaman Belanda), diluncurkan pada 10 Agustus 1867 untuk mengisi jalur Semarang ke Tanggung. Di negeri Belanda, dunia perkeretaapian baru dimulai pada 21 Juni 1839 dengan ruas jalan antara Amsterdam -  Haarlem. Selisihnya, 28 tahun, di mana Hindia Belanda (Indonesia) lebih cepat dari negara penjajahnya, Belanda.

     Buku ini enak dibaca dan penulis cukup cerdas dengan memilih bahasa yang ngepop. Dengan pilihan dua bahasa ini, menjadikan buku ini lebih berbobot dan lebih berfungsi. Tidak sekedar sebagai penambah informasi dan wawasan, namun bisa sebagai ‘buah tangan’ bagi mereka yang hendak ke luar negeri atau memiliki relasi dari luar negeri. Karena, siapapun bisa membacanya, dengan bantuan bahasa Inggris yang menyertainya. Sayangnya, buku ini dibuat dengan pilihan hitam-putih saja, tanpa ada gambar berwarna. Peresensi membayangkan, buku ini dilampirkan foto dengan warna, sehingga menambah eksklusif dan menarik bagi siapapun yang membacanya.

     Akan lebih lengkap lagi sekiranya, ditambah informasi mengenai seputar Kota Ambarawa, karena siapa yang berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa tentu ingin menikmati lebih, mulai suasana kota, infomasi seputar SPN Banyubiru, waduk Rawapening, hingga referensi dunia kuliner yang direkomendasikan. ***

Heru Setiyaka, Praktisi Media