Home Bedah Berita New Orba: Naik KRL VS Naik Ambulans ?

New Orba: Naik KRL VS Naik Ambulans ?

325
0
SHARE
New Orba: Naik KRL VS Naik Ambulans ?

Keterangan Gambar : ilustrasi diambil dari dictio.id

Negara Indonesia telah memilih demokrasi sebagai sistem bernegara. Dalam sistem ini berbeda dengan sistem lain, kapitalis, sosialis, komunis, totaliter, atau lainnya. Dalam demokrasi, setiap warga negara berhak untuk menyampaikan pendapatnya. Dalam negara demokrasi, kebebasan berpendapat juga dilindungi undang-undang. Dalam negara demokrasi, tidak ada larangan untuk menyampaikan pendapatnya, sepanjang dalam kerangka undang-undang yang telah mengaturnya.

      Itu semua dalam teori. Dalam praktik, seringkali semua itu hanya isapan jempol belaka. Seringkali yang ditemui di lapangan, praktik kebebasan berpendapat hanya sebuah fatamorgana. Yang sering terjadi, berbeda pendapat adalah sebuah tabu. Padahal, alam demokrasi menghendaki kebebasan berpendapat dan perlindungan terhadap sebuah perbedaan. Itu adalah inti dasar sebuah demokrasi. Pada masa orde baru (orba), kebebasan berpendapat dan berserikat dibatasi oleh penguasai. Saat itu, tampilan penguasa terlihat jelas non-demokratis.

     Pascareformasi, keadaan berubah. Kebebasan sudah didapatkan. Kebebasan mengeluarkan pendapat dan pemikiran, baik lisan maupun tulisan dipayungi dengan Pasal28 UUD 1945. Secara kongkrit, diwujudkan dalam UU Nomor 2 Tahun 1999 tentang partai politik yang memungkinkan adanya multi partai.

Demokrasi dalam Praktik

Indonesia sudah lama mempraktikkan demokrasi. Sejak sistem demokrasi dipilih oleh founding father Negara Indonesia, Soekarno-Hatta. Namun, dalam perjalanannya, terutama zaman orba, penyelewengan kekuasaan dilakukan oleh Soeharto. Demokrasi dalam praktik tidak semulus teorinya. Penyalahgunaan kekuasaan, pembungkaman pada aktivis, dan pelarangan perbedaan pendapat demikian kuat. Rakyat bungkam. Rakyat diam. Ini berlangsung lama, hingga puncaknya terjadi reformasi.

    Lahirlah orde reformasi. Perbedaan pendapat hidup kembali. Kebebasan menyampaikan aspirasi mendapat perlindungan. Apa yang dikatakan oleh Albert Camus Albert Camus (penulis, eseis, peraih Nobel Sastra tahun 1956 dari Perancis) terbukti, yakni, kebebasan itu tidak lain dari suatu perubahan ke arah yang lebih baik.  Jalan terang itu tentu saja tidak mulus, seringkali ada kerikil tajam, menghalangi proses ke arah demokrasi yang lebih baik. Itu terjadi hingga pemerintahan SBY. Saat itu, ada demo yang mengkritisi pemerintahan SBY masih berlangsung damai. Demo dengan memakai bintang Kerbau-sebagai simbol binatang gemuk dan lamban-kiasan protes pada SBY tidak mendapat tekanan dari pihak pemerintah. Perbedaan pendapat benar-benar mendapat tempat. Sepuluh tahun berikutnya, masuk era Jokowi. Masa di mana ’bulan madu’ era demokrasi berakhir. Masa di mana masa pahit dari sebuah demokrasi dimulai.

KRL dengan Ambulans

Perhelatan akbar pada April mendatang tinggal menghitung hari. Kian lama, pertentangan dan perbedaan pendapat semakjin tajam. Kita harus maklum. Suasana semakin panas. Artinya, jarak elektabilitas keduanya kian menipis. Yang terjadi, adalah berusaha saling menyalip di setiap tikungan, agar pada detik akhir Pemilu bisa menang.

      Namun, dalam era demokrasi, perbedaan pendapat harus tetap ada. Dan kebebasan menyampaikan harus dihormati. Namun yang terjadi, kubu petahana bisa melenggang, namun di kubu akal sehat mulai banyak barikade dan hambatan yang ditemui.

      Kasus terbaru, adalah naiknya Muhammad Said Didu dan Rocky Gerung yang naik mobil ambulans. Kebetulan dua orang ini dianggap sebagai representasi pendukung capres nomor 02. Foto saat mereka berdua naik ambulans diunggah di akun milik Said Didu @saiddidu, kamis (7/3/2019). Dalam keterangan fotonya, Said Didu menuliskan bahwa ia dan Rocky Gerung menaiki mobil ambulans untuk menghindari massa yang menghadang kedatangan mereka.

“Demi mencapai lokasi acara di Jember, utk menisasati “hadangan” pihak2 tertentu kami terpaksa bersiasat dg naik Ambulance

Kami tetap happy demi ketemu rekan2 utk menyebarkan virus akal sehat utk menggusur kebohongan.” Demikian Said Didu menulisnya.

     Ramai-ramai masyarakat mengecam atas penggunaan mobil ambulans tidak pada tempatnya. Keterangan Said Didu yang menegaskan dirinya dan Rocky Gerung menggunakan ambulans karena “terpaksa”, juga tidak digubris. Termasuk keterangan bahwa mereka melewati jalan biasa dan tidak menyembunyikan sirine.

     Semua kejadian yang menyedihkan. Saat dua orang akan mendatangi semua kelompok masyarakat, tepatnya di Universitas Muhammadiyah Jember untuk berdiskusi, dihadang oleh sekelompok masa. Mereka yang harusnya dilindungi justru harus ‘bersiasat’ agar sampai  ke kalangan kampus yang ingin mendapatkan pencerahan dan berdiskusi. Masyarakat pun tidak melihat sisi adanya sekelompok massa yang tidak ingin ada kemerdekaan berpendapat terjadi. Di tengah masyarakat, kenapa justru tidak mengkritik mereka yang melarang adanya seminar atau dialog tersebut? Kenapa akal sehat tidak berjalan sebagaimana mestinya? Apakah Negara Indonesia bukan lagi negara demokrasi? Kenapa justru penggunaan ambulans yang dikritisi, padahal pemilihan moda transportasi itu juga terpaksa. Pihak tuan rumah yang memilihkan jenis kendaraan tersebut, yakni ambulans. Tentu dengan berbagai alasan. Agar ‘tamu undangan’ bisa sampai ke tempat acara. Supaya ancaman dan hadangan sekelompok orang suka kekerasan dan tidak demokratis tersebut bisa dihindari. (Soal penjelasan Said Didu juga jelas dalam Detik.com, Jumat 8 Maret 2019, Said Didu Jawab Kritik soal Naik Ambulans Bareng Rocky Gerung, juga tempo.co, judul : Cerita Lengkap Said Didu Dihadang di Jember dan Naik Ambulans, Jumat, 8 Maret 2019, dan media arus utama lainnya).

      Penggunaan ambulans juga pernah dilakukan oleh relawan Jokowi. Malah, mereka menggunakan ambulans tidak satu, namun belasan. Apakah mereka juga dalam keadaan darurat? Atau mereka berstrategi, menghindari hadangan massa? Tentu jawabnya tidak. Berita soal itu ada di okezone.com, Selasa 7 November 2017 dengan judul : Nikahan Kahiyang-Bobby, Ratusan Relawan Jokowi Naik Belasan Ambulans ke Solo. Jarak perjalanan yang ditempuh pun berbeda. Para relawan menempuh jarak dari Jakarta, beberapa kota di Jabar dan Jateng. Sedangkan Said Didu dan Rocky Gerung, hanya saat memasuki Jember hingga lokasi acara. Semua perbedaan jumlah dan jarak yang kontras bukan?

      Bisa jadi, orang menganggapnya sebagai pencitraan. Sebuah blessing in disquise, jika itu benar menjadikan sebuah pencitraan. Sebuah keterpaksaan yang mewujudkan berkah tersamar. Lain dengan petahana yang naik KRL saat pulang dari Jakarta ke Istana Bogor. Jokowi atau timnya dengan bangga menampilkan foto bagaimana Jokowi berdiri berdempet-dempetan dengan penumpang KLR lain. Sebuah pencitraan juga bukan? Tentu saja. Adakah sama dengan yang naik ambulans? Tentu berbeda. Alasannya, yang naik ambulans adalah keterpaksaan untuk menghindari mereka yang menghalang-halangi. Sedangkan satunya, naik KRL dengan tujuan seakan-akan merakyat dengan penumpang KRL.

      Perbedaan lainnya, tentu yang naik ambulans dilakukan tiba-tiba atau tanpa persiapan. Semuanya berjalan dan bentuk ‘kreativitas dan keluwesan’ panitia agar acara berjalan lancar, dan narasumber selamat tidak kurang suatu apa. Di tambah lagi, narasumber juga tidak keberatan. Lain halnya yang naik KRL, apakah dilakukan tiba-tiba? Tentu tidak, pasukan pengawal presiden (paspampres) tentu sudah mempersiapkan sedemikian rupa, dan menjaga agar keselamatan presiden tetap terjaga. Itu sudah menjadi SOP-standard operational procedure- tim pengawal presiden. Presiden tidak boleh gegabah. Di atas itu, pengawal presiden juga tidak boleh lebih sledor, membiarkan keselamatan presiden atas nama pecitraan. Jadi, dua kasus itu tentu berbeda.

     Di luar itu, dengan adanya hadangan dan penolakan dari sebagian kelompok masyarakat terhadap Said Didu dan Rocky Gerung menimbulkan pertanyaan, benarkah Indonesia melindungi perbedaan pendapat? Apakah Indonesia benar-benar Negara demokrasi?

      Mantan aktivis Budiman Sudjatmiko juga berkomentar lewat twitter-nya, dan menyatakan mayat lebih pantas naik ambulans daripada pejabat. Dan ini dibalas cukup telak oleh Andi Arief lewat cuitan twitternya, “beberapa hari tidak melihat twitter ternyata orang naik ambulans dibahas konyol dan memalukan oleh alumni Cambridge @budimansudjatmiko, itulah konsekuensi kau salah milih kawan bud. Malu aku kau tampak bodoh. Soal ambulans aja kau gak ngerti,” sergah Andi Arief. Tentu kita akan tertawa terbahak-bahak, atas kalimat tersebut. Bagaimanapun Andi Arief dan Budiman Sudjatmiko adalah dua mantan aktivis yang pernah merasakan pahit getirnya dikejar aparat, dilarang mengungkapkan pendapat, dan dinginya penjara. Namun, perjalanan dan pertemanan mereka dengan kelompok yang berbeda, menghasilkan pemikiran dan sudut pandang yang berbeda. Atau karena, kelompok yang akan menghadang Said Didu dan Rocky Gerung satu pandangan dengan Budiman Sudjatmiko, entahlah. Hanya dia sendiri yang tahu.

       Kesimpulan dari pemikiran mereka, ternyata apa yang pernah mereka ketahui dari Voltaire berbeda. Penulis dan filsuf dari Perancis yang hidup antara 1694-1778) pernah berkata, “Saya tidak setuju dengan apa yang Anda katakan, tapi saya akan membela sampai mati hak Anda untuk mengatakan itu.” Je hais vos idées, mais je me ferai tuer pour que vous ayez le droit de les exprimer. Budiman Sudjatmiko sudah melupakan hal itu, meski dia pernah berdarah-darah memperjuangkan sebuah kebebasan berpendapat.

Epilog

Demokrasi Indonesia memang belum sempurna. Naik turun atas praktik demokrasi yang baik dan benar sudah terjadi. Kalau toh hari ini demokrasi belum menampakkan wajah yang bersahabat, tentu kita masih memiliki harapan dan optimism, pada hari esok demokrasi yang indah dan berwarna benar-benar terwujud.

      Sebuah kata penutup dari Albert Camus, mengatakan Hanya kebenaran bisa menghadapi ketidakadilan. Kebenaran atau cinta.” Seule la vérité peut affronter l'injustice. La vérité ou bien l'amour. Semoga saja, kita semua memilih untuk mengedepankan sebuah kebenaran. Setidaknya, memiliki cinta, agar ketidakadilan benar-benar terwujud. Adil untuk sebuah kekebasan menyampaikan pendapat. Kalau tidak saat ini, harapan kita sampirkan pada presiden baru nanti. Terima kasih. ****

Heru Setiyaka, Praktisi Media