Home Bedah Berita Presiden dan Kaget Berseri

Presiden dan Kaget Berseri

394
1
SHARE
Presiden dan Kaget Berseri

Keterangan Gambar : ilustrasi kaget diambil dari KAGETer.com

Kaget. Kata ini sebenarnya netral, tidak positif dan juga tidak negatif. Bila merunut ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kaget merupakan kata sifat dan berarti terperanjat, terkejut (karena heran). Pengertian lain, kaget adalah bentuk reaksi reflek seseorang atas stimulan yang ditangkap oleh fisik, pikiran, dan nalar tercermin dalam berbagai sikap dan tindakan. Misal saja, seekor anjing menggonggong di dekat kita. Mungkin, secara reflek kita akan lari tunggang langgang sambil mengumpat.

Seseorang kaget, itu biasa. Tidak ada yang luar biasa. Kita juga sering mengalami kaget. Kaget saat ada tamu tiba-tiba datang ke rumah. Kaget saat di dompet uang habis, kaget saat pulsa menguap. Kaget saat istri memberi tahu sudah positif hamil. Kaget dengan suasana sedih dan bahagia. Kaget juga berujung kecewa. Selalu ada dalam setiap detik kehidupan kita.

Secara psikologis, kaget termasuk pada gejala inderawi yang umum dirasakan manusia. Jadi, normal, bila memiliki rasa kaget. Kaget yang positif, yang menghasilkan energi besar yang tiba-tiba muncul tanpa disadari. Di sisi lain, perasaan kaget juga berdampak pada tindakan negatif. Seperti yang dikisahkan oleh Anthony Dio Martin dalam bukunya Emotional Quality Management. Dalam bukunya, ia menulis suatu ketika seorang polisi pulang ke rumah dalam keadaan lelah, usai seharian bertugas. Hari itu, ia berulang tahun. Anak dan istrinya ingin memberikan kejutan kepadanya. Begitu sampai rumah, ia menjumpai hal yang tidak biasa. Anak dan istrinya tidak menyambutnya. Justru ia mendengar suara aneh di rumahnya. Ia berpikir, ada orang asing masuk. Ia kaget, mengambil pistol dan mencari suara aneh tersebut. Ia melihat bayangan, dan menembakkan ke bayangan yang mencurigakan tersebut. Kaget. Ia benar-benar kaget. Ia menembak anak dan istrinya. Kaget yang dirasakan dirinya menghasilkan tindkan yang konyol. Membunuh.

Sebagai manusia kaget, lumrah. Sebagaimana presiden kaget, pertama tentu kita menganggap lumrah, sebagai seorang manusia. Namun, setiap ada sesuatu yang negatif terjadi di negeri kita, dan presiden Indonesia kaget. Itu baru luar biasa. Di luar kebiasaan sebagai manusia, bukan? Ada banyak kekagetan yang dialami presiden. Seperti kekagetan yang berseri. Lumrah kah?

Dari beberapa media mainstream,  banyak berita yang menayangkan soal kekagetan itu.  Terbaru saja, presiden kaget dengan harga tiket yang melonjak. Ini ada di beberapa media, seperti tribunnews.com dengan judul : Jokowi Kaget Harga Tiket Pesawat Melonjak Tinggi (Selasa, 12 Februari 2019), wartakota.com dengan judul : Kaget Harga Tiket Pesawat Melonjak karena Avtur Mahal, Jokowi Berikan Ancaman Ini kepada Pertamina (Selasa, 12 Februari 2019). Bahkan, sehari sebelumnya, di okezone.com, dengan Judul :Kagetnya Jokowi Mengetahui Harga Tiket Pesawat Melonjak Tinggi (Senin, 11 Februari 2019) dan republika.co.id, juga kekagetan serupa dialami presiden, Jokowi Kaget dengan Harga Tiket Pesawat (Senin, 11 Februari 2019). Majalahayah.com, ikut latah dengan pemberitaan kekagetan itu, dan judul yang diambil Jokowi Kaget Dengar  Harga Tiket Pesawat Melonjak Tinggi (Selasa, 12 Februari 2019). Kumparan mengambil angle berbeda, Salah Kaprah Jokowi: Harga tiket Pesawat Naik Bukan Karena Avtur (Selasa, 12 Februari 2019).

Semua latah dengan judul kaget. Presiden kaget. Ini bukan sekali ini saja. Sebelumnya, kekagetan yang dialami presiden juga pernah diangkat. Pada Januari 2019, presiden sempat kaget dengan penghasilan guru yang masih rendah. Detik.com dengan judul : Jokowi Kaget Dengar Penghasilan Guru Masih Rendah (Jumat, 11 Januari 2019). Situs cnnindonesia.com mengambil judul Jokowi Kaget, Tak Percaya Ada Guru Bergaji Rp 300 Ribu (Jumat, 11 Januari 2019), liputan6.com, merdeka.com, beritasatu.com, dan lainnya juga memberitahukan hal yang sama, dengan judul besar soal keterkejutan presiden.

Pada tahun lalu, kekagetan serupa ditunjukkan oleh Jokowi. Ia kaget saat mengetahui sertifikasi satpam mahal. Tempo.co menulis, Saat Jokowi Kaget Dengar Biaya Sertifikasi Satpam Rp 10 Juta (12 Desember 2018, tempo.co). Dengan judul agak berbeda, juga ditulis Presiden Sebut Biaya Sertifikasi Satpam Mahal (beritasatu.com, 12 Desember 2018). Judul-judul yang mirip juga muncul di cnnindonesia.com, dan antaranews.com. Tidak hanya itu saja, di kesempatan lain, soal kenaikan harga kebutuhan pokok (bahan  pangan) atau sembako, presiden menepisnya, disertai kekagetan, padahal di tengah masyarakat keluhan sudah begitu masif.

Semua itu tentu menimbulkan pertanyaan, selama ini presiden ke mana? Pembantu presiden yaitu menteri pada ngapain? Apa tidak ada laporan yang masuk?  Semua ini menjadi pertanyaan yang wajar bukan? Di sini, ada juga kontrakdiktifnya. Pada tahun lalu, Jokowi bilang selalu memantau perkembangan harga  bahan pokok di pasar. Ia setiap pagi membaca perkembangan harga sembako.  Ini ada di beberapa situs online. Seperti merdeka.com (30 Oktober 2018) Jokowi: Setiap Pagi Saya Pantau Harga Bahan Pokok di Pasar. Judul hampir mirip, juga ditemui di tribunnews.com (20 November 2018), cnnindonesia.com (21 November 2018), kompas.com (19 November 2019), Liputan6.com (30 Oktober 2018), serta detik.com (13 Juni 2018).

Secara logika, presiden tentu tidak hanya membaca perkembangan harga, namun semua hal. Termasuk persoalan tiket meroket akibat tingginya avtur. Namun, seakan-akan, presiden membaca namun tidak memahami. Atau memahami, namun bingung mencari solusi. Karenanya, yang muncul adalah kekagetan tersebut.

Harus Sehat

Dalam sejumlah budaya, kaget dapat menyebabkan gangguan jiwa. Misalnya, sakit kesambet di Bali (Wikan, 1989), Latah di Indo-Melayu (Simons, 1996), Susto di Amerika Latin (Rubel et al, 1984), atau sakit takut di Iran (Good & Delvecchio-Good, 1982). Pendapat ini juga cukup umum di Jawa (Geertz, 1961:92; Keeler, 1987: 58; Browne, 2001b). Karena itu, untuk mencegah sakit karena kaget, orang Jawa mencoba menghindari pengalaman terkejut. Bahwa, seorang ibu di Jawa memperlakukan anaknya dengan lembut dan selalu membawanya ke mana saja ia pergi, menjadi salah satu contoh upaya tersebut. Si anak harus selalu merasa tentrem dan dilindungi dari mengalami keterkejutan.

Di sini, kami tidak ingin menuduh presiden sakit atau keterkejutan itu membuatnya sakit. Justru, ini semacam alarm agar dijauhkan dari hal itu. Bagaimanapun, tugas berat sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, presiden harus sehat jiwa dan raga. Pengamat politik Salim Said dalam suatu kesempatan pernah bercerita, presiden Amerika Serikat itu selalu dijaga kesehatannya, fisik dan mental. Karena ia tidak hanya mengepalai sebuah negara adidaya, namun seringkali memiliki peran penting dalam hubungan internasional, termasuk sebagai ‘polisi dunia’. Saat Ronald Reagan yang dilantik pada usia 69 tahun, 349 hari, menjadi presiden Amerika Serikat ke-40 (1981-1989), ada pro-kontra soal usia yang lanjut mengepalai sebuah negara. Namun semua terbantahkan dengan semangat untuk menjaga kesehatannya.

Untuk Indonesia, kita tidak tahu pasti soal itu. Namun, tentu logika kita bicara, standar yang sama diberlakukan pada presiden kita, termasuk Jokowi. Semoga saja, ia sehat dan menjalani tugasnya sampai akhir waktu, di tahun ini.

Tugas Presiden

Kembali keterkejutan presiden yang berulang-ulang, seperti serial sinetron di televisi Indonesia. Tentu kita patut menanyakan, sebenarnya tugas sebagai presiden apa sih? Tugas seorang presiden sudah ada di dalam UUD 45, baik sebagai kepala pemerintahan dan kepala Negara. Menjadikan rakyat makmur, sejahtera, damai, dan nyaman, adalah bagian dari tugas presiden yang diatur dalam pasal demi pasal di UUD 45.

Saat presiden justru kaget dengan beberapa hal yang menyangkut hak warga negara, sebagai rakyat yang baik kita patut mempertanyakan kinerjanya. Berbagai soal yang dialami rakyat ini, contoh terkini, soal tiket, sampai tidak tahu, sungguh merupakan hal yang naïf. Pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan para pembantunya (menteri), apakah tidak ada yang membisikinya, tidak ada yang melapornya, atau semua asal bapak senang alias ABS? Keterkaitan dengan kenaikan biaya tiket, sebenarnya ada pembantu yang bisa ditanyai, menteri  perhubungan dan menteri BUMN, yang membawahi Pertamina (perusahan plat merah tersebut), yang memiliki keterkaitan dengan urusan perusahaan maskapai penerbangan. Ketika presiden kaget, tentu muncul pertanyaan dari kita, presiden tidak pernah dilapori, presiden dilapori tetapi cuek, presiden tidak percaya laporan pembantunya, presiden masa bodoh, atau segudang pertanyaan yang tentu saja bersifat buruk sangka.

Rangkaian-rangkaian kejadian yang sebenarnya ada keterhubungan, namun diputus dengan keterkejutan presiden, justru membuat kita rakyat Indonesia ‘terkejut’ dengan sikap presiden yang terkejut. Terus, pascaterkejut, juga tidak ada tindakan positif atau langkah cepat mengatasinya. Sepertinya, cukup terkejut dan menguap begitu saja.

Menunggu Kekagetan Lain

Keterkejutan presiden setiap ada permasalahan membuat kita tidak terkejut lagi. Bahkan, sudah bisa memprediksikan lagi. Juga, kita menunggu-nunggu, besok presiden akan terkejut soal apa lagi. Itu yang muncul terjadi.

Bisa jadi, keterkejutan presiden memang disengaja, dibuat begitu. Ada framing seakan-akan presiden terkejut dan memahami persoalan rakyat. Apa itu cukup? Justru kita semakin muak dan enggan menerima hal itu sebagai sebuah bentuk perhatian presiden. Sekali terkejut. Masih lumrah, dua kali terkejut, kita berusaha memahami. Tiga kali terkejut, kita justru semakin jengah, merasa keterkejutan yang dipertontonkan presiden sudah tidak normal. Justru dengan hanya terkejut saja, menjadi semakin yakin bahwa presiden tidak mampu berkoordinasi dengan pembantunya. Janji untuk menegur, mengganti pembantu yang membuat kinerja presiden bagus justru yang ditunggu. Nyatanya, semuanya hanya tinggal janji. Presiden dan menteri kurang sejalan dan sepaham dalam upaya membuat hak rakyat tercapai dan asa pada kinerjanya terjaga. 

Terus, apa kita hanya menunggu keterkejutan yang akan diungkapkan presiden lagi. Atau kita membuat kejutan sendiri, yakni menghentikan presiden untuk terkejut. Atau biarkan presiden terkejut lagi, yakni tidak meneruskan pemerintahan untuk kedua kali. Mari kita ciptakan kejutan sendiri dengan membuat presiden terkejut untuk terakhir kali. (***)

 

Heru Setiyaka, Praktisi Media