Home BukuKita Tahu Lebih Jauh soal Kopi

Tahu Lebih Jauh soal Kopi

346
0
SHARE
Tahu Lebih Jauh soal Kopi

Judul Buku      : Kopi

Penulis             : Murdijati Gardjito

                          Dimas Rahadian AM

Penerbit           : Kanisius Yogyakarta

Tahun              : Cetakan kelima, 2015

VIII + 94 halaman

ISBN               : 978-979-212-900-7

 

Kopi merupakan salah satu kekayaan alam di Indonesia. Komoditas perkebunan ini juga menguasai dunia. Kopi dikosumsi selain air putih dan teh. Kini, menyesap kopi menjadi gaya hidup modern.

     Di sisi lain, industri kopi di Indonesia tidak beranjak lebih baik. Kondisi petani kopi, masih saja jauh dari sejahtera, bila tidak tepat disebut  kaya. Hadirnya buku ini, ada harapan dari penulis agar, pembaca terbuka pikiran dan wawasan mengenai kopi, bukan sekedar menjadikan gaya hidup tanpa mengetahui apa itu sebenarnya mengenai kopi.

Memang, oleh penulis yang memilih judul buku cukup singkat Kopi, merupakan hasil penelitian, artikel ilmiah, serta informasi popular di media massa. Jadi, jangan kaget, kesannya buku ini merupakan seperti gabungan pengetahuan populer dan bahan kuliah yang seringkali berkesan kaku dan saklek.

     Buku ini dimulai dengan pendahuluan yang berisi mengenai asal muasal kata kopi. Juga dua jenis kopi yang memiliki nilai ekonomis, robusta dan arabika. Sebenarnya ada lainnya, yaitu liberika dan excelsa, cuma tidak banyak disinggung di buku ini.

     Bab berikutnya, penulis berbicara mengenai sejarah penemuan, penyebaran, industri, dan penelitian kopi. Ada tiga versi yang dipaparkan, dan soal mana yang benar, diserahkan kepada pembaca. Perkembangan yang mencolok dari industri kopi adalah dikenalkan kopi bubuk, coffemix (dicampur bahan lain), dan kopi ready to drink. Juga adanya permen kopi, ice cream kopi, roti bercita rasa kopi, dan masih banyak lainnya. Perkembangan kedai kopi tak kalah menarik. Hadirnya Starbucks, menjadi contoh nyata. Di dalam negeri, kedai kopi juga tak kalah seru. Ada Roemah Kopi, Bengawan Solo, Caswell’s Coffee, Bakoel Koffie, De Excelco, Cup’n Cino Coffee House, turut meramaikan persaingan bisnis kafe bersama The Coffe Bean & Tea Leaf (asal Amerika) dan Coffee Club (asal Singapura).

     Peta produksi dan konsumsi kopi di dunia tersaji di bab tiga. Luas lahan perkebunan besar dan produksi kopi di Indonesia tidak semakin baik. Justru semakin mengecil. Demikian pula peta tingkat konsumsi kopi di berbagai negara di dunia juga disajikan, di mana Belgia menempati urutan pertama. Negara yang mengekspor kopi selain Indonesia, ada Brasil, Kolombia, Vietnam, dan India. Yang memprihatinkan, peran kopi Indonesia cenderung menurun. Kemungkinan pasar kopi Indonesia direbut Vietnam, di mana negara itu ekspor kopinya cenderung meningkat. Untuk olahan produk kopi, Indonesia juga kalah bersaing dengan Ekuador, India, dan Pantai Gading (Ivory Coast) dari Afrika. Padahal, dari luas lahan perkebunan kopi mereka tidak lebih besar dari Indonesia.

     Memasuki bab ke empat, penulis memaparkan mengenai pengolahan kopi. Ada dua pengolahan, cara kering dan cara basah. Penulis juga menjelaskan mengenai kerusakan biji kopi. Proses pembuatan kopi instan (soluble coffee) juga dipaparkan, berupa ekstraksi dan proses dekafeinasi (mengurangi kandungan kafein pda biji kopi).  Bab selanjutnya, bab lima, memaparkan produk kopi di pasar Indonesia. Ada kopi organik dan non-organik, kopi komersial dan kopi specialty, jenis kopi berdasarkan penyajian, berdasarkan kemurnian bubuk kopi, dan jenis kemasan kopi bubuk.

     Penulis juga membagi jenis kopi berdasar cita rasa. Ada kopi espresso, ristretto, cappuccino, macchiato, maraschino,  dan masih banyak lainnya. Juga, pembagian macam kopi berdasarkan campuan dalam penyajian diungkap oleh penulis. Kebanyakan ini berasal dari cara tradisional di beberapa tempat di Indonesia. Seperti kopi jahe, kopi gingseng, kopi bandrek, kopi joss, kopi duren, dan kopi ijo. Tak lupa, penulis juga menyinggung soal kopi luwak (Halaman 67).

     Bab enam, penulis memaparkan cara mengesktrak kopi. Cara mengekstrak kopi ada beberapa macam. Seperti kopi tarik. Ini lazim ditemui di Sumatera dan Malaysia. Metode ekstraksinya cukup unik. Bubuk kopi diletakkan di atas saringan yang diletakkan di atas gelas. Air panas dituang dari ketinggian tertentu ke dalam bubuk kopi tersebut, sehingga saat sampai di gelas, air tersebut telah membawa ekstrak bubuk kopi. Ini dilakukan berulang-ulang hingga sari kopi yang terdapat  di dalam bubuk kopi dapat terekstrak secara maksimal. Berikutnya, kopi tubruk dan ini sangat popular di masyarakat. Cara berikutnya, dengan kopi instan. Cara ke empat lebih modern, yakni coffe maker. Ini dibagi lagi dalam alat-alat modern, mesin espresso, moka pot, siphon, coffee drip, french press.

     Dalam memilih waktu ngopi, setiap orang, setiap budaya, setiap negara memiliki pilihan masing-masing. Ada yang memilih di pagi hari, siang hari, sore hari, atau malam hari. Ini dijelaskan di bab tujuh. Tempatnya pun beragam, di rumah, di tempat kerja, atau di warung kopi atau coffee shop.

     Setiap negara memiliki tradisi ngopi sendiri-sendiri. Di Amerika, kebiasaan menyesap kopi di coffee shop dimulai awal abad ke-19. Di Negara ini, mulailah Starbucks, dan menyebar ke negara-negara bagian, hingga ke seluruh dunia. Berbeda di Amerika, di Kuba, meminum kopi menjadi ritual setiap pagi. Di sana, ngopi sebagai ajang sosialisasi dan menunjukkan persahabatan. Sedangkan di Turki, kopi memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Kedai kopi dipilih untuk dijadikan tempat bertemu dan berdiskusi bagi masyarakat. Di sana, mereka sering menambahkan kopi dengan kapulaga.

     Untuk masyarakat Arab, kopi diminum bersama rempah-rempah. Seperti kapulaga, kayu manis, daun pandan, dan jahe. Jika ingin terasa manis, bisa ditambah gula putih atau gula aren. Penulis juga memaparkan budaya ngopi beberapa negara lain. Seperti Hungaria, Mesir, Yunani, Perancis, Italia, dan tidak ketinggalan di dalam negeri, Indonesia. Selain cara menyeduh tradisional yang berkembang di beberapa tempat di Indonesia, seperti kopi joss dan kopi bandrek, ada juga yang memakai daun kopi (kopi daun/kahwa) di Sumatera. Biasanya mereka meminum kahwa sembari makan kudapan. Kahwa dan kudapan dengan nampan dan dibawa para perempuan di atas kepala. Mereka membuka dan menghidangkan di daun-daun tengah sawah, sembari bersama kerabat yang lain yang tengah bekerja untuk menikmatinya bersama-sama.

     Minum kahwa sudah menjadi tradisi. Secara tradisional kahwa diminum di batok kelapa yang tua atau dikenal dengan sayak tampuruang setengah lingkaran yang berwarna hitam dan halus permukaannya. Semakin tua dan semakin sering dipakai, tampilan sayak ini semakin baik.(Halaman 86).

     Bab delapan, dipaparkan mengenai manfaat dan risiko minum kopi bagi kesehatan. Manfaat yang menyertai kopi ada 12 macam. Mulai dari mengurangi risiko penyakit Alzheimer, mengurangi risiko penyakit batu empedu, antidabetes, perlindaungan terhadap hati, hingga mengurangi risiko encok. Adapun risikonya, penulis menulis di antaranya menyebabkan inflamasi yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner. Baik manfaat dan risikonya, penulis membeberkan dari berbagai penelitian yang ada. Ini bukan sekedar mitos, namun melalui penelitian yang berulang-ulang.

     Dalam penghujung tulisan di bab sembilan, penulis membeberkan mengenai peluang pasar kopi. Kebanyakan kopi arabika di Indonesia tergolong di dalam kopi specialty. Contohnya, Mandheling Coffee, Gayo Mountain Coffee, Toraja Coffee, dan Java Coffee. Cita rasa khas kopi specialty terjadi dikarenakan pengaruh iklim, tanah, dan varietas yang ditanam. Pada bab ini, penulis juga memaparkan mengenai kopi sebagai produk hilir atau perkembangan bisnis kopi instan. Dijelaskan pula, bagaimana Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia(AEKI) melakukan pameran dan misi kopi di berbagai negara. AEKI berusaha mengadakan terobosan ke pasar-pasar yang baru (non-tradisional market). Peluang tersebut masih terbuka ke kawasan Eropa Timur, Cina, dan Rusia. Cina dengan penduduk lebih dari 1 miliar merupakan pasar potensi yang menjanjikan. Namun, Negara produsen kopi seperti Brasil, Kolombia, India, dan Vietnam juga ikut mengincarnya. (Halaman 96).

     Untuk di dalam negeri, konsumsi kopi masih rendah. Namun, seiring meningkatnya pengetahuan dan wawasan mengenai kopi, serta menjadikan ngopi sebagai gaya hidup, peluang bisnis kopi juga ikut naik. Laju konsumsi kopi setiap tahun sekitar 3 persen per tahun (Marwadi: 2008) . Sebuah peluang yang menarik. Tren ngopi melanda kaum muda. Remaja, mahasiswa, dan professional muda banyak yang melirik gaya hidup ngopi. Demikian pula dengan membuka coffee shop, menjadi bisnis yang relatif mudah dijalankan. Peralatan yang dibutuhkan tidak banyak dan mahal. Modal yang dibutuhkan juga relatif terjangkau.

     Seperti di awal, buku ini cukup bagus dan menarik. Hanya kekurangannya lebih terasa sebagai bahan kuliah. Foto yang disiapkan juga ala kadarnya, tidak “memakai” karya fotografer professional, sehingga hasilnya asal-asalan. Contoh nyata, foto Starbucks, difoto tanpa cerita apa yang dimaksudkan oleh pembuatnya, hanya seakan-akan hadir untuk melengkapi tulisan mengenai Starbucks. Demikian juga foto lain, seperti alat mengolah kopi, seakan-akan asal comot dari internet. Sangat disayangkan, sehingga mengurangi nilai bagus dari buku ini. Buku ini tetap bisa dibaca apik, mesi ada sedikit kesalahan huruf (typo), semacam milyar yang seharusnya miliar. Buku ini akan tertolong bila fotonya juga berwarna, bukan sekedar hitam putih. Sekian.(***)

 

Heru Setiyaka, Praktisi Media