Home Idea Tinggal di Apartemen, Harus Tetap Bertetangga dan Bersosialisasi

Tinggal di Apartemen, Harus Tetap Bertetangga dan Bersosialisasi

316
0
SHARE
Tinggal di Apartemen, Harus Tetap Bertetangga dan Bersosialisasi

Keterangan Gambar : ilustrasi gambar apartemen dari btnproperti.co.id

Dalam acara entertainment di sebuah televisi swasta, seorang artis bernama Shezy Idris mengaku, pilihan tinggal di apartemen untuk menghindari terbuangnya waktu di jalanan. Selain itu, tinggal di apartemen, karena praktis dan nyaman.

    Ia mengaku, bersama suaminya hidup di apartemen terasa nyaman dengan segala fasilitas yang tersedia. Namun saat memiliki anak, apartemen terasa tidak sesuai lagi untuk keluarganya. Ia pindah ke apartemen lain.

     Shezy menambahkan, satu hal yang kurang baik dirasakan ketika tinggal di apartemen yang pertama, tetangga sekitarnya hidup individualis. Perempuan bernama lengkap Shilya Patrice Kirana Idris ini meneruskan, ada kelebihan di apartemen yang terakhir. Ia merasakan warganya ramah, dan ada perkumpulan ibu-ibu. Itulah seklumit gambaran di apartemen. Bagi warga biasa-bukan artis- mereka tentu merasakan hal serupa.

     Persoalan perumahan verital, baik dengan istilah rumah susun(rusun), apartemen, atau istilah lain merupakan solusi tempat tinggal masa depan. Terlebih di kota besar, saat ketersediaan tanah untuk perumahan horisontal atau perumahan sangat terbatas, rumah vertikal adalah pilihan yang rasional.

     Untuk Jakarta, data menyebut ada 54 apartemen yang akan dibangun di ibukota pada tahun 2016. Empat di antaranya di kawasan Sudirman dan Kuningan. Okupansinya diperkirakan sebanyak 22.210 unit. Bila ditambah dengan apartemen yang dikeluarkan 2015, total okupansi jadi 35.205 unit.

     Di daerah, katakan di Jogjakarta, yang sudah masuk daftar yang siap membangun dan sudah terbangun ada enam. Satu apartemen katakanlah ada 150 unit, total enam apartemen adalah 900 unit. Sebuah jawaban kebutuhan tempat tinggal yang kian sulit.

     Namun, pemberitaan tidak sedap akhir-akhir ini soal perumahan vertikal atau apartemen, menjadi sebuah cerita yang suram terkait perumahan jenis ini. Apartemen menjadi tempat yang dicap buruk. Mulai dari tempat yang cocok untuk berpesta narkoba, tempat berpesta seks, lokasi persembunyian gembong narkoba, tempat tinggal teroris, dan masih banyak lagi. Sebenarnya, cerita negatif soal apartemen yang menjadi tempat simpanan istri kedua, dipilih jadi lokasi para perempuan nakal adalah kisah lama yang terus dihembuskan. Kini, cerita itu terus terulang dengan penambahan kisah yang lebih dramatis. Seperti kasus pembunuhan, dan cerita di awal tulisan ini, tempat berpesta narkoba dan seks. Sungguh miris kalau dilihat dari sisi negatifnya saja.

     Kalau jujur, selain sebagai solusi tempat tinggal yang lebih manusiawi, di saat lokasi pemukiman semakin sulit, banyak kelebihan yang menempel pada apartemen. Banyak alasan yang muncul, seperti lokasi yang strategis-biasanya ini ditunjukkan dengan dekat akses moda transporati, baik bus maupun kereta, juga dekat dengan tempat memenuhi kebutuhan sehari-hari alias pasar. Entah pasar modern atau tradisional.

     Keberadaan sebuah apartemen juga hadir di sebuah daerah yang perkembangan perekonomian tengah bagus di sebuah wilayah. Apartemen dengan berbagai pilihan dan penawaran ruang tempat tinggal, oleh pengembang, pasti didesain bagus, aman, dan nyaman bagi penghuninya. Belum lagi fasilitas umum (fasum) yang menyertainya. Kalau boleh menyebut, soal fisik bangunan dan pendukungnya, pastilah sudah disiapkan sedemikian rupa.

      Memang harus disadari, rata-rata penghuni di apartemen merupakan para pekerja yang sibuk atau penyewa sementara yang kerap kali bergonta-ganti. Kondisi ini menjadi handycap kesempatan mengenal tetangga satu sama lain menjadi lebih susah.

     Banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan mengenal tetangga yang menghuni apartemen. Salah satunya mencegah pelanggaran hukum di lingkungan apartemen. Seperti narkoba, prostitusi, terorisme, dan lainnya. Keuntungan lain mengenal tetangga juga penting. Tetangga lah yang paling dekatlah yang bisa memberikan pertolongan atau bantuan lebih cepat saat terjadi situasi darurat, misal sakit atau kecelakaan kecil di apartemen.

Manfaatkan Ruang Publik dan Medsos

     Setiap manusia memiliki ego. Ego tersebut yang menguasai keinginan manusia. Seperti disampaikan Sigmund Freud, manusia memiliki struktur kepribadian yang dibagi menjadi tiga. Yaitu, id, ego, dan superego. Di sisi lain, manusia merupakan makhluk sosial. Di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain. Manusia dikatakan mahluk sosial, juga di karenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Ada kebutuhan sosial (social need) untuk hidup berkelompok dengan orang lain. Memang, ini banyak didasari kesamaan ciri atau kepentingan masing-masing. Termasuk tinggal di lingkungan yang sama.

     Hal sama berlaku saat tinggal di apartemen. Secara sosiologis, ciri bertetangga di apartemen sesuai ciri solidaritas sosial organik. Solidaritas sosial antarwarga tercipta berdasar kebutuhan atau saling ketergantungan. Kehidupan  bertetangga diperlukan, meski tinggal di apartemen. Ini akan berdampak pada kehidupan sosial anak, lingkungan yang baik untuk anak, serta rasa empati saling tolong menolong antarpenghuni apartemen.

Namun, saat ini banyak apartemen di perkotaan yang tidak memperhatikan hal tersebut. Karena itu, perlu ada dorongan untuk menciptakan suasana aman dan nyaman, termasuk kebutuhan sosial atau berinteraksi dengan tetangga.

     Banyak tips yang dimunculkan di media massa atau internet dalam menjalin hubungan tetangga di apartemen. Mulai usulan mengikuti perkumpulan, berkunjung ke tetangga, bertegur sapa, hingga memanfaatkan ruang publik-taman bermain dan kolam renang. Semuanya itu tentu untuk menghidupkan tradisi bertetangga di kehidupan apartemen yang identik modern.

     Yang bisa dilakukan untuk berinteraksi, salah satunya memanfaatkan ruang publik seperti taman bermain, fasilitas olahraga seperti tempat ngegym, kolam renang. Pada saat seperti itu, mengenal tetangga, penghuni apartemen bisa dilakukan. Dengan begitu, satu tahap menjadikan interaksi dengan tetangga bisa dilaksanakan.

     Contoh yang bisa ditiru adalah Cairnhill Nine, apartemen baru di Singapura yang dikembangkan CapitaLand. Pengembang mengusung konsep ‘Building People, Building Community’ sebagai konsep hunian yang sehat. Di sana, Cairnhill Nine memberikan perhatian khusus terhadap kehidupan sosial warganya. Oleh CapitaLand, proyek yang dipasarkan dengan sistem leasehold 99. Mereka menawarkan banyak fasilitas mewah yang cocok untuk melakukan aktivitas rekreasional dan ikatan komunitas.

     Beragam fasilitas seperti taman, kolam renang, area barbecue, dan lainnya dibikin luas dan nyaman. Para penghuni bisa bercengkerama di kolam renang dan taman, mengadakan barbecue bersama, atau sembari menunggu anak-anaknya bermain di taman bermain.

     Cairnhill Nine berada di Orchard Road, jantungnya kota Singapura. Di sini, ada fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah sakit, dan lainnya. Semuanya itu untuk membantu meningkatkan kualitas penghuninya.

     Kini, pola interaksi dengan tetangga dengan teman juga mulai berubah. Adanya media sosial (medsos) menjadikan jarang berinteraksi secara langsung. Selain berinteraksi langsung di fasilitas yang tersedia, mau tidak mau keberadaan media sosial patut dipertimbangkan. Meski tidak sama, ada contoh yang bisa menjadi inspirasi. Di Jogjakarta, ada twitter @infocegatan. Ini berisi informasi soal razia yang dilakukan polisi di berbagai tempat di Jogjakarta. Adapun yang menginformasikan adalah follower-nya. Kepentingan menghindari cegatan atau razia, menjadikan twitter ini banyak di-follow. Di facebook, ada @kec.dukun. adapun yang diunggah sebagai status berisi kondisi terbaru, informasi pertunjukkan kesenian rakyat, pembangunan, kejahatan, dan masih banyak lagi, yang semuanya merujuk Kecamatan Dukun, sebuah daerah di Kabupaten Magelang.

     Hal-hal semacam itu patut dipertimbangkan. Misal, membuat group WA (what’sapp) penghuni sebuah apartemen, membuat twitter atau facebook tentang apartemen tersebut. Tentu saja semua itu, bisa berangkat dari para penghuni apartemen atau difasilitasi pengembang. Dengan begitu, interaksi sesama penghuni bisa dijaga, dengan tetap menjaga privasi dan rahasia yang ada dalam sebuah apartemen.(***)

Heru Setiyaka, Praktisi Media